Berdagang ala Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam

Posted by Wahdah Islamiyah Kolaka Sabtu, 12 April 2014 16.46
Berdagang adalah pekerjaan yang mulia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang pedagang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sebaik-baik pekerjaan adalah pekerjaan seorang lelaki dengan tangannya dan setiap jual beli mabrur.” (HR. Ahmad, Al-Bazzar, Ath-Thabrani).

Juga para sahabat Nabi yang lain, banyak yang merupakan pedagang. ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu’anhu yang sangat mahir dalam berdagang. Abu Bakar radhiyallahu’anhu adalah pedagang pakaian. Umar radhiyallahu’anhu pernah berdagang gandum dan bahan makanan pokok. ‘Abbas bin Abdil Muthallib radhiyallahu’anhu juga pedagang. Abu Sufyan radhiallahu’anhu berjualan udm (cemilan yang dimakan bersama roti). (dari Al Bayan Fi Madzhab Asy Syafi’i, 5/10)

Berdagang mengurangi pengangguran. Dengan kurangnya pengangguran, ekonomi suatu bangsa membaik, dan secara tidak langsung mengurangi tindakan kriminal.

Indonesia sebagai salah satu negara berpenduduk terbanyak di dunia hanya memiliki sedikit pedagang dengan kata lain pengusaha. Jumlahnya hanya nol koma sekian persen, tidak sampai satu persen! Biasanya jumlah pengusaha di negara berpenduduk besar di atas lima persen.

Mirisnya lagi, jumlah pengusaha di Indonesia kebanyakan masih dipegang oleh orang asing, bahkan kebanyakan dari mereka non muslim.

Perdagangan erat kaitannya dengan penyaluran dan penyediaan kebutuhan manusia. Untuk menjamin halal thayyibnya barang yang beredar di masyarakat, maka kita sangat butuh dengan pengusaha-pengusaha muslim yang baik.

Sebaik-baik contoh dalam segala hal adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Termasuk dalam dunia perdagangan.

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjalani hidup sebagai pedagang yang sukses selama 28 Tahun. Sejak usia 12 tahun hingga 40 tahun. Dan selebihnya adalah masa kerasulan yang digunakan fokus berdakwah.

Saat berusia 12 Tahun, beliau diajak oleh pamannya, Abu Thalib untuk berdagang di Negeri Syam. Disitulah beliau mengenal dagang secara serius. Hingga beliau mendapat reputasi yang sangat baik bagi penduduk Negeri tersebut.

Reputasi-reputasinya adalah sebagai orang terpercaya (Al-Amin) dalam perdagangannya maupun di kehidupan. Di usia 17 Tahun, beliau sudah diberi kekuasaan penuh oleh pamannya untuk berdagang. Hingga usia 20 tahun, beliau sudah hampir menguasai pusat perdagangan di Irak, Yordania, Bahrain, Suriah, dan Yaman.

Kiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam berdagang
Berikut ini beberapa etika Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam dalam menjalankan usaha dagangnya;
Niat yang baik

Berniat baik di perdagangan adalah aset paling berharga pedagang. Janganlah niat berdagang untuk kekayaan semata, tapi niatkan juga untuk bermanfaat bagi orang lain. Inilah yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga perdagangannya berkembang sukses.

Jujur

Kejujuran adalah aset kedua dalam berdagangan, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu memberikan barang sesuai dengan keadaannya dan terbaik bagi pembeli. Beliau selalu menjelaskan barang yang memiliki aib. Beliau melarang para pedagang untuk meletakkan barang busuk/jelek di dalam dagangannya.

Menjaga nama baik
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu menggunakan cara ini sebagai modal utama. Julukan sebagai orang terpercaya (Al Amin), membuat siapapun ingin bekerja sama dengannya. Beliau terus menjaga nama baik selama berdagang sehingga pembeli tidak pernah kecewa. Sifat inilah yang sekarang langka di zaman ini.

Win-Win Solution (Saling menguntungkan)

Perdagangan Nabi berkonsep pada keadilan dan keseimbangan sosial dan ekonomi. Tujuannya bukan hanya keuntungan semata, tetapi untuk kemitraan, bantu membantu dalam berdagang dan berorientasi untuk menolong orang lain.

Fokus dan Sabar

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu fokus terhadap bisnis yang beliau tekuni. Tidak mengerjakan bisnis yang satu ke satunya lagi sebelum beliau menyelesaikannya. Beliau merintis perdagangan dari nol. Kesuksesan beliau tidak datang dalam satu malam walaupun dia seorang rasul, tetapi harus dimulai dari langkah-langkah kecil. Dari seorang karyawan hingga jadi pemilik. Itu semua dilakukan tanpa ada kecurangan, penipuan dan hal buruk lainnya.

Tidak Mudah Putus Asa

Nabi tidak berputus asa dalam berdagang, meskipun dia memulai perdagangan dengan kondisi sulit, umur 12 tahun tanpa pengalaman sedikit pun. Karena mudah tidak putus asa, beliau bisa mengembangkan usahanya.
Beliau bersabda,

“Janganlah kamu berdua putus asa dari rezeki selama kepalamu masih bergerak. Karena manusia dilahirkan ibunya dalam keadaan merah tidak mempunyai baju, Kemudian Allah memberikan rezeki kepadanya.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Hibban).

Belajar menguasai pasar

Ketika Nabi di Mekkah, para pedagang dari kaum Quraisy pernah ingin menjatuhkan perdagangannya. Mereka menurunkan harga dengan tidak wajar. Tetapi beliau menerapkan hukum Supply dan Demand. Hingga semua dagangan para kompetitornya habis semua, lalu beliau menjual dagangannya. Karena beliau percaya bahwa jumlah permintaan (Demand) jauh lebih tinggi dari jumlah penawaran (Supply). Tak lama kemudian rakyat kota membeli barang dagangan beliau dengan harga normal. Semua pedagang Rugi akibat banting harga, kecuali nabi yang untung besar.

Dari cara-cara berdagang di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa perdagangan beliau berpegang prinsip kerelaan (suka sama suka) dan keadilan. Islam pun melarang perdagangan yang melanggar prinsip-prinsip kemanusiaan yang diusung oleh etika (norma) Islam.

Adapun larangan-larangan dalam berdagang sebagai berikut :

Menjelekkan dagangan orang lain

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menjelekkan atau menjatuhkan usaha orang lain. Beliau melarang hal tersebut. Beliau bersabda,

“Janganlah seseorang di antara kalian menjual dengan maksud untuk menjelekkan apa yang dijual oleh orang lain.” (HR. Muttafaq 'alaih)

Larangan Menipu

Tadlis atau penipuan adalah adanya ketidaktahuan di antara pihak-pihak jual beli. Sehingga bisa menimbulkan kecurangan atau tipuan, karena hanya salah satu pihak yang mengetahui adanya informasi.
Penipuan dapat terjadi dalam kuantitas, seperti pedagang yang mengurangi takaran/timbangan atas barang yang dijualnya.

Adapula penipuan dalam kualitas, berupa ketidakjujuran demi menyembunyikan cacat barang yang ditawarkan.

Penipuan dalam harga pun bisa terjadi ketika adanya penaikan harga barang yang tidak diketahui oleh pembeli yang melebihi harga pasar.

Sedangkan penipuan pada waktu penyerahan, biasanya terjadi saat perjanjian atas sesuatu yang pada saat melakukan kontrak, tetapi pihak tersebut mengetahui bahwa ia tidak sanggup melaksanakannya sesuai dengan kontrak.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang penipuan, Beliau besabda,

“Orang yang menipu bukan golongan dari kami.” (HR. Muslim).

Larangan menimbun barang
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang keras pelaku yang menyimpan barang pada waktu tertentu, hanya untuk keuntungan semata. beliau bersabda bahwa pedagang yang mau menjual barang dagangannya dengan spontan akan diberi kemudahan. Tapi penjual yang sering menimbun dagangannya akan mendapat kesusahan. (HR Ibnu Majah dan Thusiy).

Larangan Praktek Riba
Riba adalah pengambilan tambahan dari harta pokok (modal) dengan cara yang batil. Riba diharamkan dalam keadaan apapun dan dalam bentuk apapun. Dalam al-Qur’an dan hadits terdapat berbagai ancaman yang keras terhadap para pelaku riba.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah mewasiatkan untuk menjauhi tujuh erkara yang menghancurkan, diantaranya memakan riba. (HR. Muttafaqun 'alaih).

Semoga kita bisa mencontoh cara berdagang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, hingga keberkahan datang pada kita, baik penjual ataupun pembeli.
Sumber : www.albalaghmedia.com

0 Response to "Berdagang ala Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam"

Poskan Komentar