Hukum-Hukum Yang Berkaitan Dengan Puasa Ramadhan

Posted by Wahdah Islamiyah Kolaka Jumat, 12 Juli 2013 23.49
Definisi
Puasa adalah menahan diri dari makan, minum dan bersenggama serta semua hal yang membatalkan mulai dari terbit fajar kedua sampai terbenamnya matahari disertai dengan niat, Firman Allah Subhanahu Wata’ala :
“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar”(QS.Al Baqarah : 187)
Hukum Puasa
Telah ijma’ kaum muslimin bahwa puasa di bulan Ramadhan hukumnya wajib, berdasarkan Firman Allah Subhanahu Wata’ala :
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”(QS. Al Baqarah : 183)
Dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam :
“Ditegakkan Islam itu di atas lima perkara :…. dan Shaum (puasa) bulan Ramadhan”. (HR. Bukhari dan Muslim, dari Abdullah Bin Umar)
Karenanya barang siapa yang berbuka di bulan Ramadhan tanpa sesuatu udzur sungguh dia telah melakukan suatu dosa yang sangat besar. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sedang tidur beliau didatangi dua orang yang membawanya ke gunung yang tinggi, dari tempat tersebut beliau mendengar suara lolongan yang sangat keras dari ahli neraka lalu beliau melihat suatu kaum yang merobek pipi dan mulutnya sehingga mengalirkan darah ketika beliau bertanya, siapakah mereka? maka dijawab mereka adalah orang-orang yang berbuka sebelum halalnya puasa mereka (tiba waktu berbuka) (HSR. Nasai, Ibnu Hibban dan Hakim)
Memulai Puasa
Puasa Ramadhan wajib dilakukan apabila hilal (awal bulan) Ramadhan telah disaksikan oleh seorang yang terpercaya, namun jika tidak terlihat maka dengan menyempurnakan bulan sya’ban 30 hari
Adapun memulai Ramadhan berdasarkan hisab (perhitungan kalender/ almanak) maka ini adalah bid’ah karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah menegaskan masalah ini dengan sabdanya :
“Berpuasa lah ketika melihat hilal dan berbukalah (berhari raya) ketika melihatnya, jika terhalang atas kalian (melihatnya) maka sempurnakanlah Sya'ban 30 hari” (Muttafaqun 'alaihi )
Dan syekhul Islam رحمه الله telah menulik ijma’ ‘ulama tentang tidak bolehnya berpegang pada hisab dalam menetapkan hilal atau awal bulan (lihat fatawa islamiyah 2 : 192)
Siapa yang wajib berpuasa Ramadhan ?
Puasa Ramadhan diwajibkan atas muslim yang baligh (dewasa), aqil (berakal), mukim (tidak mengadakan perjalanan), mampu untuk berpuasa dan tidak ada halangan seperti haidh dan nifas bagi wanita.
Adapun anak kecil yang belum baligh maka para ulama’ mengatakan diperintahkan berpuasa jika mampu, hal ini untuk melatihnya, sebagaimana diperintahkan shalat pada umur 7 tahun dan dipukul pada umur 10 tahun agar terlatih dan membiasakan diri.
Syarat Syah Puasa
Syarat sahnya puasa ada enam :
1. Islam : tidak sah puasa orang yang kafir sebelum masuk Islam
2. Akal : Tidak sah puasa orang gila sampai berakal
3. Tamyiz : Tidak sah puasa anak kecil sebelum dapat membedakan (yang baik dengan yang buruk)
4. Tidak Haidh : Tidak sah puasa wanita haidh, sebelum berhenti dari haidhnya.
5. Tidak nifas : Tidak sah puasa wanita nifas sebelum suci dari nifas.
6. Niat : sejak malam hari, untuk puasa yang wajib. Hal ini berdasarkan sabda Nabi  :
“Barang siapa yang tidak berniat sejak malam harinya maka tidak ada puasa baginya” (HSR. Nasai’ dan Baihaqy)
Niat adalah ketetapan hati untuk melakukan sesuatu dan tempatnya di dalam hati.
Barang siapa yang telah makan sahur sebelum terbit fajar maka sesungguhnya ia telah berniat dan barang siapa yang menahan diri dari makan dan minum dan hal-hal yang membatalkan puasa di tengah hari ikhlas karena Allah Subhanahu Wata’ala dengan maksud berpuasa maka sungguh ia berniat walaupun tidak makan sahur (lihat Fiqh As Sunnah), sedang untuk puasa sunnat dibolehkan berniat setelah terbit fajar, sebagaimana yang ditunjukkan dalam hadits ‘Aisyah رضي الله عنها yang diriwayatkan oleh Imam Muslim.
Hal-Hal Yang Membatalkan Puasa
1. Makan dan minum dengan sengaja, jiak dilakukan karena lupa maka tidak membatalkan puasa.
2. Jima’ (bersenggama)
3. Memasukkan makanan kedalam perut, termasuk dalam hal ini adalah suntikan makanan dan transfusi darah bagi orang yang berpuasa.
4. Mengeluarkan mani dalam keadaan terjaga karena onani, bersentuhan, ciuman, nonton atau sebab lainnya dengan sengaja, adapun keluar mani karena mimpi tidak membatalkan puasa karena keluarnya tanpa sengaja.
5. Keluar darah haidh dan nifas, baik pada pagi hari atau sore hari sebelum terbenam matahari.
6. Muntah dengan sengaja, barang siapa muntah tanpa sengaja maka tidak wajib qadha, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :
“Barang siapa yang muntah tanpa disengaja, maka ia tidak (wajib) menggantinya, Barang siapa yang sengaja hendaknya dia mengqadha” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad dengan sanad yang shahih)
7. Murtad, Keluar dari Islam –semoga Allah melindungi kita darinya- . Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :
“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan” (QS. Al An’am : 88)
Orang-orang Yang Dibolehkan Untuk Berbuka
1. Orang sakit yang berbahaya baginya jika berpuasa dan orang yang berpergian, namun wajib mengqadha (menggantinya) sejumlah hari yang ditinggalkannya itu pada hari lain setelah bulan Ramadhan.
Allah  berfirman :
“Maka barang siapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain” (QS. Al Baqarah : 184)
2. Wanita haidh dan nifas namun wajib atas keduanya qadha berdasarkan perkataan ‘Aisyah :
“Kami diperintahkan untuk mengqadha puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha shalat” (Muttafaq ‘Alaihi)
3. Wanita hamil dan menyusui, jika keduanya takut kepada kesehatan dirinya sendiri atau pada anaknya maka wajib atas keduanya meng-qadha sejumlah yang ditinggalkan (lihat Fatawa Islamiyah 2 : 147-148).
4. Orang tua laki-laki atau perempuan yang tidak mampu lagi untuk berpuasa namun wajib baginya memberi makan orang miskin untuk setiap hari yang ditinggalkan.
Puasa yang Sempurna
1. Makan sahur.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :
“Yang membedakan antara puasa kita dan puasanya ahlul kitab adalah makan sahur” (HR. Muslim)
Akan lebih utama apabila makan sahur itu diakhir waktu, selama tidak dikhawatirkan terbit fajar, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan para shahabat .
2. Memanfaatkan bulan Ramadhan dengan memperbanyak membaca Al-Quran sesungguhnya Jibril  setiap malam di bulan Ramadhan menemui Nabi  untuk membacakan Al-Qur’an baginya (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas )
3. Menjaga lisan dari berdusta, meggunjing, mengadu domba, mengolok-ngolok serta perkataan mengada-ngada, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :
“Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta maka Allah tidak butuh terhadap puasanya dari makan dan minum” (HR. Bukhari)
4. Hendaknya puasa menjadikan jiwa seseorang tenang, tidak emosional. Dan jika diganggu oleh orang jahil, jangan dihadapi dengan perbuatan serupa,. Nasehatilah dengan cara yang lebih baik, Nabi  bersabda:
“Jika seseorang memeranginya atau memakinya maka hendaknya dia mengatakan : saya berpuasa, saya berpuasa” (HR. Bukhari)
5. Memuasakan anggota panca indra dari dosa-dosa
6. Jabir bin Abdullah  berkata :”Jika kamu berpuasa, hendaknya berpuasa berbuat kebajikan,
“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah orang yang paling dermawan dan beliau lebih dermawan lagi ketika bulan Ramadhan”(HR. Bukhari dan Muslim)
7. Menyegerakan berbuka jika matahari benar-benar telah tenggelam, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :
“Manusia senantiasa dalam kebaikan, selama mereka menyegerakan berbuka” (HR. Bukhari dan Muslim)
8. Mengucapkan basmalah ketika ingin berbuka seraya berdo’a :
“Telah hilang dahaga, telah basah urat leher dan telah tetap pahala Insya Allah” (HHR. Abu Daud, Baihaqi, Hakim dan Daraquthni)
9. Berbuka dengan kurma segar (ruthob), jika tidak dengan kurma kering (tamar) dan jika tidak punya cukup dengan air, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :
“Adalah Nabi  berbuka puasa dengan ruthab sebelum melaksanakan shalat, kalau tidak ada ruthab maka dengan tamar dan jika tidak ada tamar maka dengan menghirup beberapapa hirupan air” (HSR. Ahmad, Abu Daud, Ibnu Khuzaimah dan Tirmidzi)
10. Dengan melaksanakan puasa yang sempurna –insya Allah- kita akan mendapatkan takwa yang merupakan buah yang paling utama dari puasa, sebagai mana firman Allah Subhanahu Wata’ala :
“Agar kamu bertakwa”(QS. Al Baqarah : 183)
Semoga Allah melimpahkan taufik-Nya kepada kita kita semua untuk amal yang dicintai dan diridhai-Nya. Shalawat dan salam semoga juga dilimpahkan Allah kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, segenap keluarga dan para shahabatnya Radhiallahu Anhum. (Abu Abdillah)


0 Response to "Hukum-Hukum Yang Berkaitan Dengan Puasa Ramadhan"

Poskan Komentar