Hal-Hal Penting Dalam Berpuasa

Posted by Wahdah Islamiyah Kolaka Jumat, 19 Juli 2013 23.51
Dalam pelaksanaan rukun Islam yang ke-empat ini, ada beberapa hal penting yang harus di ketahui oleh seorang muslim, dan terkadang hal-hal ini kurang jelas bagi sebahagian orang, diantaranya adalah
1. Wajib bagi setiap muslim, mengerjakan puasa ini karena iman dan mencari pahala. Bukan karena riya, sum’ah (ingin disebut-sebut amalnya), taklid pada orang-orang atau ikut-ikutan keluarga dan orang-orang di daerahnya. Harusnya yang menjadi pendorong dirinya mengerjakan puasa adalah imannya bahwa Allah Subhanahu Wata’ala telah mewajibkan puasa ini baginya dan keinginan mencari pahala disisi Rabbnya. Demikian pula Qiyamu Ramadhan, setiap muslim harus mengerjakannya karena iman dan mencari pahala, bukan karena sebab lain. Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan barang siapa yang bangun (beribadah) pada malam lailatul qadri karena iman dan mencari pahala maka akan diampuni semua dosa-dosanya yang telah lalu” (HR. Bukhari dan Muslim)
2. Beberapa hal yang kadang dialami oleh orang yang berpuasa seperti luka, mimisan, muntah, masuknya air atau bensin ke dalam tenggorokan tanpa sengaja. Semua hal tersebut tidak merusak puasa, kecuali orang yang sengaja muntah maka puasanya rusak (batal), berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
“Barang siapa yang muntah tanpa sengaja maka tidak wajib menqadh’anya, dan barang siapa yang sengaja muntah maka wajib menqadhanya” (HR. Ibnu Majah)
3. Beberapa perbuatan yang dikerjakan oleh sebagian orang yang berpuasa berupa mengakhirkan mandi janabat sampai terbit fajar, demikian pula sebagian wanita yang mengakhirkan membersihkan haid dan nifas sampai terbit fajar jika telah melihat dirinya telah suci sebelum fajar maka wajib berpuasa. Tidak mengapa mengakhirkan mandi janabat sampai terbitnya fajar, tetapi tidak boleh mengakhirkannya sampai terbit matahari, sedangkan bagi laki-laki bersegera mandi janabat agar bisa mengerjakan shalat Shubuh secara berjama’ah di mesjid.
4. Diantara pekerjaan yang tidak merusak puasa adalah pemeriksaan darah dan suntik yang bukan bertujuan memberikan makanan (infus), tetapi mengakhirkan pekerjaan seperti ini sampai malam hari lebih baik dan lebih selamat jika memungkinkan. Berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam :
“Tinggalkan pekerjaan yang kamu ragu-ragukan kepada pekerjaan yang tidak kamu ragu-ragukan” (HHR. Tirmidzi)
Dan juga beliau  bersabda :
“Barang siapa yang menghindari syubhat maka ia telah menyelamatkan agama dan dirinya” (HR. Bukhari dan Muslim)
5. Tidak tenang dalam mengerjakan shalat, baik fardhu maupun nafilah (sunnah). Hadits-hadits shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah menunjukkan bahwa thuma’ninah (tenang) merupakan salah satu rukun shalat, yang mempengaruhi sah atau tidaknya shalat. Thuma’ninah adalah tenang dan khusyu’ dalam shalat, tidak tergesa-gesa sampai semua sendi kembali pada tempatnya semula. Banyak orang yang shalat tarawih dengan cara shalat yang dia tidak pahami dan tidak tenang, mengerjakannya seperti orang yang menanduk. Cara shalat orang seperti ini batal dan orang yang mengerjakannya berdosa.
6. Sebagian orang berkeyakinan bahwa shalat tarawih tidak boleh kurang dari 23 raka’at. Ada juga yang berkeyakinan bahwa shalat tarawih tidak boleh lebih dari 11 atau 13 raka’at. Ini semua adalah keyakinan yang tidak pada tempatnya bahkan merupakan kesalahan, dan tidak sesuai dengan dalil-dalil.
Hadits-hadits shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menunjukkan bahwa shalat malam ini tidak dibatasi dengan raka’at tertentu. Beliau shalat dengan 11 raka’at dan kadang-kadang 13 raka’at atau kurang dari jumlah tersebut baik di bulan Ramadhan maupun di bulan lain. Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ditanya tentang shalat malam beliau menjawab :
“Shalat malam itu dua raka’at dua raka’at, jika salah seorang diantara kalian khawatir terbitnya fajar, maka shalat satu raka’at sebagai witir bagi shalatnya yang sudah dikerjakan itu” (HR.Bukhari dan Muslim)
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak menentukan jumlah raka’at tertentu, baik di bulan Ramadhan maupun di luar bulan Ramadhan. Oleh karena itu para sahabat – semoga Allah Subhanahu Wata’ala meridhai mereka – pada masa Umar  kadang-kadang shalat 23 raka’at dan kadang-kadang 11 raka’at. Ini semua bersumber dari Umar dan para sahabat dimasa Umar .
Sebagian ulama salaf dahulu shalat pada bulan Ramadhan 36 raka’at dan ditambah witir 3 raka’at dan sebagian yang lain ada yang shalat 41 raka’at. Ini semua disebutkan oleh Syekhul Islam Ibnu Taimiyah dan ulama lainnya. Syekhul Islam juga menjelaskan bahwa masalah jumlah ini tidak ada batasan. Menurut beliau yang paling afdhol bagi orang yang bacaan surahnya panjang maka jumlah ruku’ dan sujudnya (maksudnya raka’atnya) sedikit, sedangkan bagi yang bacaannya pendek maka ia menambah jumlah ruku’ dan sujudnya. Ini makna ungkapan beliau رحمه الله. Orang yang mengamati sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam akan mengetahui bahwa yang afdhol dari semua ini adalah 11 atau 13 raka’at, baik di bulan Ramadhan ataupun di bulan yang lain karena itulah yang paling tepat dengan dengan perbuatan Nabi  dalam sebagian besar perbuatannya, sebab ini yang paling ringan untuk orang-orang yang mau shalat malam dan paling dekat dengan khusyu’ dan thuma’ninah. Namun bagi orang yang hendak menambah maka tidak mengapa dan bukan perbuatan makruh, sebagaimana dijelaskan tadi.
Adapun yang afdhol bagi orang yang shalat Qiyamur Ramadhan bersama imam, hendaknya tidak meninggalkan shalat sampai imam selesai shalatnya (artinya shalat bersama imam sampai akhir) berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam :
“Sesungguhnya seseorang jika shalat bersama imam (jama’ah) sampai selesai maka dihitung baginya qiyam malam tersebut” (HR. Ad Daarimi)
Disyariatkan bagi seluruh kaum muslimin untuk bersungguh-sungguh dalam mengerjakan semua jenis ibadah dalam bulan yang mulia ini, dengan shalat nafilah, membaca Al-Qur’an dengan tadabbur dan ta’aqqul (memahaminya), memperbanyak tasbih, tahlil, takbir, tahmid, istigfar dan doa-doa yang disyari’atkan, beramar ma’ruf nahi munkar, berda’wah di jalan Allah Subhanahu Wata’ala, membantu orang-orang fakir dan miskin, bersungguh-sungguh dalam birrul walidaini (berbakti kepada kedua orang tua), shilaturrahim, menghormati tamu, mengunjungi orang sakit dan perbuatan baik lainnya, seperti yang dijelaskan dalam sabda beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam :
“Allah Subhanahu Wata’ala akan melihat berlomba-lombanya kalian dalam kebaikan dalam bulan ini, kemudian Allah Subhanahu Wata’ala akan membanggakan kalian dihadapan para malaikatnya, maka tunjukkanlah kebaikan yang kalian kerjakan, sesungguhnya orang-orang yang merugi pada bulan Ramadhan adalah orang yang terhalang dari Rahmat Allah Subhanahu Wata’ala“. (HHR. Thabrani)
Dan dalam hadits yang lain beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda :
”Umrah pada bulan Ramadhan seperti hajji (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad)
Hadits-hadits atau atsar-atsar yang menunjukkan disyari’atkannya berlomba-lomba dalam berbagai perbuatan baik pada bulan ini, sangat banyak.
Allah Subhanahu Wata’ala jualah tempat memohon agar memberikan taufik kepada kita dan seluruh kaum muslimin untuk bisa mengerjakan semua amal yang diridhai-Nya, menerima puasa dan shalat malam (tarawih) kita, memperbaiki keadaan kita, melindungi kita semua dari kegelapan fitnah-fitnah, sebagaimana kita juga memohon kepada-Nya agar ia berkenan memperbaiki para pemimpin kaum muslimin dan mempersatukan mereka dalam kebenaran. Sesungguhnya hanya Allah Subhanahu Wata’ala yang sanggup melakukan hal itu. -Ridwan Hamidi, Lc-

Maraji’: Risalatani Muwjazatani Fiz Zakati Was Shiyam, tulisan Syekh Abdul Aziz bin Abdillah Bin Baaz رحمه الله Diterbitkan oleh Darul Wathan.

0 Response to "Hal-Hal Penting Dalam Berpuasa"

Poskan Komentar