Al Quran di Hati Para Sahabat

Posted by Wahdah Islamiyah Kolaka Kamis, 04 Juli 2013 19.16
Ada pertanyaan-pertanyaan selalu menggelayuti hati ketika melihat kondisi kaum muslimin,
“Bukankah Allah itu Mahapenyayang dan sangat menyayangi umat beriman?
Bukankah Allah itu Mahakuasa dan mampu menjayakan kaum muslimin ?
Bukankah al-Qur’an yang kita baca dalam shalat kita adalah sumber kebahagiaan, kejayaan, kemakmuran bagi yang mengamalkannya?
Bukankah kaum muslimin itu umat terbaik yang diutus untuk memimpin, bukan dipimpin umat lain, mendidik bukan dididik umat lain?
Bukankah umat Islam dijadikan Allah sebagai umat yang satu?
Lalu, jika kita ingin memproyeksikan hakekat di atas dengan kondisi kaum muslimin pada masa kini, maka kita akan merenung, “Di mana kejayaan kaum muslimin? Di mana harga diri kaum muslimin? Bahkan, di mana harga darah seorang muslim di mata kaum muslimin sendiri? Di mana kepemimpinan, kejayaan kaum muslimin di atas kaum yang lainnya? Di mana solidaritas sesama kaum muslimin dalam skala nasional maupun internasional?
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman (artinya),
"Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik." (QS. Al-Hadiid: 16).
"Berkatalah Rasul, “Wahai Rabbku, sungguh kaumku telah menjadikan Alqur’an ini sesuatu yang ditinggalkan.” (QS. Al-Furqaan: 30).
Ditinggalkan karena mereka tak membacanya, tidak merenungi maknanya dan tidak pula mengamalkan isinya. Karenanya, mari kita merenungi bersama, bagaimanakah al-Qur’an di hati Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan para sahabat Radhiayallahu anhu?
Para sahabat memandang kebesaran al-Quran dari kebesaran yang menurunkannya, kesempurnaannya dari kesempurnaan yang menurunkannya. Mereka memandang bahwa al-Qur’an turun dari Raja, Pemelihara, Sesembahan yang Mahaperkasa, Mahamengetaui, Mahapengasih dan Penyayang.
Dari pandangan ini mereka menerima al-Qur’an dengan diliputi perasaan bahagia dan perasaan hormat, siap melaksanakan perintah dengan perasaan cemas dan harap. Serta perasaan kerinduan yang amat dalam. Bagaimana tidak? Yang membaca al-Qur’an seakan mendapat kehormatan bermunajat dengan Allah. Layaknya seorang prajurit menerima perintah dari atasan dan seorang yang mencari pembimbing mendapatkan pengarahan dari Zat yang Mahamengetahui. Perasaan inilah yang digambarkan oleh Allah dalam Firman-Nya, (artinya),
"Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Mahapemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis." (QS. Maryam: 58).
"Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila al-Quran dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud dan mereka berkata, "Mahasuci Tuhan kami, sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi". Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu'. " (QS. al-Israa: 107-109).
Ini jugalah yang dikatakan oleh Hasan bin Ali Radhiayallahu anhu, “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian memandang al-Qur’an sebagai risalah dari Rabb mereka. Di mana mereka selalu bertafakkur mengenai risalah-risalah itu pada malam hari, dan mencari-carinya pada siang hari.” (Aadabuu Hamlatil Qur’an).
Perasaan di atas menyebabkan Ummu Aiman menangis ketika teringat akan wafatnya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Suatu saat Abu Bakar dan Umar Radhiayallahu anhum berkunjung kepada ibu asuh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, Ummu Aiman Radhiayallahu anha dan ketika mereka duduk, menangislah Ummu Aiman teringat wafatnya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, maka berkatalah Abu Bakar dan Umar, “Kenapa Anda menangis sementara Rasulullah mendapatkan tempat yang mulia?” Ummu Aiman menjawab, "Saya menangis bukan karena meninggalnya beliau melainkan karena terputusnya wahyu Allah yang datang kepada beliau pada pagi dan petang hari", maka saat itu pula meledaklah tangisan mereka bertiga.
Dari perasaan di atas para sahabat membaca dan menerima al-Qur’an untuk dilaksanakan secara spontan tanpa menunggu-nunggu dan tanpa protes sedikit pun, walaupun hal itu bertentangan dengan kebiasaan mereka, tapi mereka bisa menundukkan perasaan mereka dengan kecintaan kepada Allah.
Ketika turun perintah untuk memakai hijab bagi wanita pada surat al-Ahzab: 59, malam hari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menyampaikan ayat itu kepada para sahabat Radhiayallahu anhu, pagi harinya para istri sahabat sudah memakai hijab semua, bahkan `Aisyah Radhiayallahu anha mengatakan, "Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshor, mereka diperintah untuk memakai hijab pada malam hari sementara pada paginya mereka sudah memakainya, bahkan ada yang merobek kelambu mereka untuk dijadikan jilbab."
Ketika diharamkannya minuman keras dan ayat itu sampai kepada mereka, saat itu juga mereka langsung membuang simpanan khamr-nya dan menuang apa yang masih berada pada tangannya.
Salah satu rahasia keajaiban para sahabat dalam berinteraksi dengan al-Qur’an adalah keimanan mereka kepada Allah, surga dan neraka-Nya, juga kepada janji-Nya, sehingga mereka melakukan sesuatu yang apabila dilihat oleh orang yang tidak memahami latar belakang ini akan sulit menafsirkannya.
Seperti ketika mereka membaca tentang janji Allah buat orang-orang yang berjihad karena cinta kepada Allah, seorang sahabat Umair bin Hamam E yang sedang makan korma bertanya, “Wahai Rasulullah, di mana saya kalau mati dalam perang ini? Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menjawab, "Di surga." Berkatalah Umair, "Sungguh, menunggu waktu masuk surga sampai menghabiskan makan kurma tujuh biji ini adalah sangat lama.” Akhirnya dibuanglah sisa kurma yang belum dimakan, kemudian memasuki pertempuran hingga menemui syahidnya.
Kondisi keimanan yang tinggi ini menjadikan episode kehidupan mereka diabadikan oleh Allah dalam al-Qur’an, seperti perhatian orang-orang Anshar terhadap kaum muhajirin. Seperti yang Allah ceritakan dalam surat al-Hasyr di mana Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam kedatangan tamu, beliau tidak memiliki sesuatu untuk menjamunya, akhirnya beliau tawarkan hal itu kepada sahabatnya, siapa yang bersedia membawa tamuku malam hari ini?
Dengan spontan salah seorang sahabat bersedia, namun, ketika sampai di rumahnya ternyata istrinya berkata, tidak ada persediaan makanan kecuali makan malam anaknya. Maka sahabat tadi memerintahkan istrinya agar mengeluarkan makanan tersebut untuk tamunya, mengeluarkan dua piring, kemudian mematikan lampu ketika tamunya sedang menyantap makanan tersebut. Tuan rumah pun menampakkan seakan-akan ikut makan bersama, agar tamu tersebut bisa makan dengan nikmat, ketika pagi hari sahabat tadi bertemu dengan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam sembari berkata kepada sahabat tersebut kalau Allah takjub dengan apa dia lakukan, maka turunlah firman Allah ayat kesembilan dari surat al-Hasyr.
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan para sahabat Radhiayallahu anhu juga memandang al-Qur’an sebagai obat bagi segala penyakit hati dan ketika mereka membaca al-Quran yang berbicara tentang segala kelemahan hati, penyakit hati, mereka tidaklah merasa tersinggung bahkan mereka berusaha mengoreksi hati mereka dan membersihkan segala sifat yang dicela oleh al-Qur’an serta berusaha untuk bertaubat dari apa yang dikatakan buruk oleh al-Qur’an .
Maka sudah pantaslah ketika al-Qur’an banyak menceritakan sifat-sifat munafiqin mulai dari kemalasan mereka dalam melaksanakan perintah Allah, sedikit berzikir, pengecut, mengambil orang kafir sebagai pemimpin dan lain-lainnya, para sahabat segera mengoreksi hati mereka dan mencari obatnya, walaupun mereka tidak dihinggapi penyakit tersebut. Berkatalah Abdullah ibnu Mulaikah, “Aku mendapatkan tujuh puluh dari sahabat Nabi, mereka semua takut kalau terkena penyakit nifaq.”
Ketika sahabat Hanzholah merasa adanya fluktuasi keimanan, segeralah ia datang kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, Hanzholah adalah seorang munafiq”, Berkatalah Rasul Allah, "Kenapa?" Hanzlolah menjawab, “Wahai Rasul Allah, kalau saya sedang berada di sampingmu dan engkau ingatkan kami dengan surga dan neraka, jadilah surga dan neraka seakan-akan jelas di mata kami, tapi jika kami pulang dan bergaul dengan anak istri serta sibuk dengan harta kami, kami banyak lupa.” Maka Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Wahai Hanzholah, kalau kalian berada dalam kondisi seperti itu (seakan melihat surga dan neraka) terus menerus, pastilah para malaikat menyalami kalian di jalan-jalan kalian”.
Dari sensitifitas perasaan Hanzholah dalam berinteraksi dengan al-Qur’an, ia bisa mengalahkan perasaan ingin dekat dengan istrinya pada malam pertama dan ditinggalkannya untuk berjihad sampai syahid. Padahal, ia belum sempat mandi junub, sehingga kata Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam ia dimandikan oleh para malaikat .
Itulah sifat dan interaksi para sahabat terhadap al-Qur’an. Semoga kita bisa mencontoh mereka yang telah berjuang untuk kebahagiaan generasi-generasi setelah mereka. Kini, rasa lelah itu telah hilang, mereka telah menghadap Rabb-nya diliputi perasaan bahagia penuh kemenangan. Di dunia sejak zaman mereka sampai hari kiamat selalu dikenang dan didoakan oleh orang yang datang setelah mereka. Alangkah bahagianya mereka, para sahabat ridhwanullahi ‘alaihim ajma’in.& ? Alif J. Rajab el-Bughisy.

0 Response to "Al Quran di Hati Para Sahabat"

Poskan Komentar