Persinggahan Ramadhan

Posted by Wahdah Islamiyah Kolaka Rabu, 26 Juni 2013 17.57
Saudaraku!

“Hiduplah engkau di dunia ini seperti orang asing atau seorang yang melintas sebuah jalan” (HR. al-Bukhori). Begitulah Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam mengilustrasikan hidup ini sebagai sebuah perjalanan. Roda kehidupan ini terus berputar dan bergelinding tanpa henti, yang lalu tak akan pernah kembali, bahkan detik ini pun sudah pasti akan meningggalkan kita sesaat ketika detik berikutnya telah sampai.

Tapi perjalanan panjang juga membutuhkan persinggahan untuk berhenti. Di saat sang musafir berhenti, banyak hal yang bisa dilakukan selain sekedar untuk melepas lelah, memberikan hak badan untuk sejenak beristirahat. Pada saat yang sesaat inilah, ia dapat menyusun rencana dan strategi baru, melakukan muhasabah terhadap perjalanan yang telah dilalui, mengumpulkan spirit dan semangat yang mungkin telah berkurang, menata diri untuk lebih siap dan tahan banting menghadapi situasi dan kondisi yang mungkin tak terduga. Itulah sebabnya kenapa seorang yang banyak melakukan dan merasakan asam garam perjalanan, biasanya lebih dapat bertahan dalam menghadapi kondisi hidup yang sangat sulit sekalipun. Dalam sebuah bait sya’ir, Imam Syafi’i pernah berkata: “Berjalanlah niscaya akan engkau dapatkan pengganti apa yang engkau tinggalkan, berletih-letihlah karena sungguh nikmat hidup terasa dalam keletihan”(Diwan Syafi’i, Da’wah ila al-tanaqqul wa al-tirhal 1/3) ).

Saudaraku!

Begitu juga dengan ibadah, ia ibarat rentetan perjalanan jauh yang membutuhkan mujahadah yang tinggi dan nafas panjang. Sebab ibadah yang berkwalitas adalah ibadah yang jauh dari sekedar melaksanakan rutinitas belaka serta menggugurkan tanggung jawab kita sebagai seorang mukallaf. Disadari, terkadang rutinitas ibadah justru menghilangkan sentuhan makna ruhaniyah yang terkandung di dalamnya, ia melahirkan kejenuhan, sehingga pelaksanaannya terkesan seadanya tanpa meninggalkan bekas yang berarti. Padahal setiap kita dituntut untuk memelihara identitas keislaman kita secara utuh, secara konsisten hingga ajal menjemput. Allah Ta’ala berfirman:

“Dan sembahlah Tuhanmu hingga datang keyakinan (kematian)” (QS al-Hijr: 99), semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang terus berusaha menjaga keshalehan hingga desahan nafas yang terakhir.

Saudaraku!

Di saat dilanda kejenuhan inilah, seorang hamba perlu untuk singgah sejenak, berhenti sesaat, menghadirkan semangat baru, menghadirkan sentuhan keimanan yang mungkin telah kendur, bahkan mungkin terkikis tajam hingga hampir tak tersisa, berusaha menata kembali formasi keshalehan walau sebentar, mungkin seperti ungkapan sahabat yang mulia Muadz bin Jabal Radhiyallahu’anhu : “Mari sejenak kita beriman” (Disebutkan oleh al-Bukhori dalam muqaddimah Kitab al-Iman dari Shahih al-Bukhari)

Saudaraku!

Hampir tak terasa perjalanan setahun mengantarkan kita untuk sampai di dekat sebuah persinggahan imaniyah tahunan, persinggahan yang sangat dinantikan oleh setiap muslim, pecandu dan penikmat ibadah, perindu malam-malam munajat, yang melahirkan kerinduan yang tak terhingga akan nikmat surga Ilahi serta menghadirkan rasa takut akan adzab dan siksa neraka. Hari-harinya diisi dengan shiyam, mengekang gejolak syahwat perut dan hasrat seksual manusiawi, menahan dahaga walaupun terik matahari siang begitu melelahkan. Malam-malamnya tak kala syahdu, lantunan-lantunan kalam Ilahi menggetarkan jagad raya lewat tilawah dan qiyam, do’a mengalir laksana air mengalir tak henti memohon kebaikan duniawi dan ukhrowi. Bahkan tidurpun begitu nikmat karena menunggu jeda kegembiraan yang tak terukur. Rasul -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

“Bila malam pertama Ramadhan tiba, syetan-syetan dan jin-jin jahat dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup dan tidak satupun yang dibuka, pintu-pintu syurga dibuka dan tidak satupun yang ditutup. Di saat itu terdengar seruan: “wahai perindu kebaikan! Hadir dan datanglah!, wahai pencinta kejahatan! Pergi dan menjauhlah!” (HR. Ibnu Majah no. 1646 disahihkan oleh al-Albaniy).

Saudaraku!

Di persinggahan ini kita diajak membuka mata dan hati, meilhat di sekeliling kita, ternyata kita hidup tidak sendiri. Begitu banyak saudara-saudara kita yang perlu untuk dibantu dan ditolong untuk memaknai hidup agar lebih berarti. Di persinggahan ini kita dianjurkan untuk banyak berbagi, berbelas kasih bersama kaum fakir dan miskin walaupun hanya dengan seteguk air dan sepotong kue. Percayalah sobatku! Di persinggahan ini kita mampu menyelami lautan makna sabda Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- : “Perumpamaan orang-orang beriman dalam rasa cinta, tolong menolong, kasih sayang di antara mereka ibarat satu tubuh, apabila salah satu anggota tubuh tersebut merasa sakit maka bagian yang lain juga merasakan sakit tersebut sehingga tak dapat tidur dan mengalami demam” (HR. Muslim no. 6751)

Bayangkanlah wahai saudaraku! Kalau seandainya si fakir yang terus menerus menahan perih kelaparan, si miskin yang serba kekurangan, si yatim yang merindukan belaian kasih sayang ayah dan ibu, si janda yang butuh perlindungan seorang suami, itu adalah diri kita, kita berada dalam posisi mereka, sungguh hati ini begitu gembira tak kala ada sesama yang peduli dan berbagi. Wajarlah, jika baginda Nabi berubah menjadi orang yang paling dermawan di persinggahan ini.

Saudaraku!

Persinggahan ini juga mengajarkan kepada kita bahwa kita harus berubah ke arah yang lebih baik. Perubahan itu begitu jelas nyata di persinggahan ini, semuanya tiba-tiba berubah. Pola makan minum, gaya hidup, bahkan kwalitas ketaatan kepada Allah juga mengalami perubahan yang sangat drastis. Pola hidup yang serba glamour dapat dirubah menjadi hidup lebih sederhana, sifat ketamakan dan kerakusan dapat dirubah menjadi kesyukuran dengan sifat qona’ah (merasa cukup dengan apa yang diberikan oleh Allah). Sifat keangkuhan dapat dirubah dengan sifat tawadhu’ dan rendah diri. Jauh dari tuntunan agama dapat dirubah menjadi ketaatan walaupun setahap demi setahap.

Tidak ada yang mustahil bagi Allah saudaraku!, semuanya dapat dirubah dengan idzin dan taufik-Nya. Tinggallah kita mau memanfaatkan momentum perubahan ini atau tidak. Hidup akan lebih indah dan bermakna kalau disertai tekad untuk berubah ke arah yang lebih baik.

Saudaraku!

Ketahuilah, bahwa persinggahan ini hanya berbilang hari, persinggahan ini hanya sebentar dibandingkan perjalanan setahun, hanya sesaat dibandingkan usia yang diberikan oleh Allah kepada kita. Entah, kita tidak dapat memastikan, apakah tahun depan kita dapat sampai lagi di persinggahan ini atau tidak?. Cuma Allah Yang Maha Tahu.

Benar, wahai saudaraku! persinggahan ini adalah persinggahan Ramadhan, bulan mulia penuh berkah, ampunan dan rahmat.

Ya Allah sampaikanlah kami untuk merasakan nikmatnya karunia Ramadhan, kuatkanlah kami untuk dapat melaksanakan tuntunan-Mu di bulan yang engkau ridhai ini.

Ya Allah jadikanlah bulan ini menjadi persinggahan kami yang paling berarti, jangan Engkau jadikan kami menjadi orang yang lalai di detik-detik mulia nan berharga ini. Amin.


Awal Sya’ban 1430 H.

Ahdy al-Makassary

Sumber: wahdah.or.id

0 Response to "Persinggahan Ramadhan"

Poskan Komentar