Parah, Kesyirikan Hari Ini Mengalahkan Kesyirikan Jahiliyah

Posted by Wahdah Islamiyah Kolaka Kamis, 13 Juni 2013 19.20
Jahiliyah. Mendengar kata itu, sejenak pikiran kita akan terbawa ke era ribuan tahun silam sebelum datangnya Islam. Jahiliyah, masa di mana manusia menyembah berhala-berhala yang mereka ciptakan sendiri. Zaman kebodohan di mana manusia berada dalam kegelapan akidah yang gelap gulita. Patung-patung disembah, dimintai rezki, keselamatan, dan keturunan.
Betapa jahilnya umat kala itu. Kehebatan apa yang dimiliki oleh benda-benda mati itu sehingga disembah, diagungkan, dan dimuliakan?
“Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui.” (QS. Fathir: 14).
Lalu datanglah Islam. Islam membumihanguskan segala khurafat dan bentuk-bentuk kesyirikan sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menghancurleburkan berhala-berhala di Ka’bah. Puluhan tahun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdakwah kepada umatnya menanamkan tauhid yang murni. Tauhid yang bersih dari noda-noda syirik. Menutup pintu-pintu kesyirikan, bahkan celah sekecil apa pun tak dibiarkan kecuali telah disumbat sedemikian rapatnya. Namun, itu dulu.
Bertahun-tahun kemudian, banyak manusia kembali jahil. Jahil karena kurangnya orang alim yang menyeru kaumnya. Jahil karena manusia telah terlena oleh kemegahan dunia. Jahil karena mereka tak sadar akan adanya Hari Pembalasan. Manusia kembali menyekutukan Allah, larut dalam berbagai bentuk kesyirikan yang membinasakan.
Dan tahukah Anda, kesyirikan manusia saat ini lebih parah daripada kesyirikan di masa jahiliyah?
Pembaca yang budiman, mari kita bandingkan!
1. Kesyirikan zaman dulu hanya di waktu lapang
Dahulu kala, orang-orang musyrik melakukan kesyirikan hanya ketika dalam keadaan lapang saja. Lalu ketika mereka dalam keadaan sempit, terjepit, susah, dan ketakutan mereka kembali mentauhidkan Allah Subhanahu Wata’ala. Berdoa kepada Allah semata dan melupakan segala sesembahan selain Allah Subhanahu Wata’ala. Hal ini sebagaimana dikabarkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala (artinya),
"Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia. Maka tatkala Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia itu adalah selalu tidak berterima kasih."(QS. al-Isra': 67).
"Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya; kemudian apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya kepadanya lupalah dia akan kemudharatan yang pernah dia berdoa (kepada Allah) untuk (menghilangkannya) sebelum itu, dan dia mengada-adakan sekutu-sekutu bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah, "Bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu sementara waktu; sesungguhnya kamu termasuk penghuni neraka." (QS. Az-Zumar: 8).
Demikianlah kondisi kaum musyrikin zaman dulu. Lalu bagaimana dengan musyrikin pada saat sekarang? Akankah kondisi mereka selangkah lebih baik atau sebaliknya?
Ketika mereka sedang berada dalam kesenangan, hidup lapang dan bahagia, kondisi mereka sama saja dengan kaum musyrikin di masa jahiliyah. Lalai, melupakan Allah, bahkan menyekutukannya dengan sembahan-sembahan selain-Nya.Lalu ketika mereka didera kesempitan, kekhawatiran dan perasaan cemas, mereka tak kembali kepada Allah.Orang-orang musyrik—yang notabene mengaku beragama Islam—sekarang lebih memilih untuk mengadukan kecemasan dan ketakutan mereka kepada penunggu-penunggu tempat keramat, penghuni-penghuni kubur, barang-barang pusaka, dukun dan paranormal.
Saat bencana melanda, alih-alih bertaubat dan menyesal atas segala dosa maksiat dan kesyirikan yang mereka perbuat, justru berbagai ritual tolak bala, pemberian sesajen, dan kemusyrikan lainnya semakin digalakkan.
Inilah yang menjadikan mereka lebih parah keadaannya daripada kaum musyrikin di masa jahiliyah.
"Hanya bagi Allah-lah (hak mengabulkan) doa yang benar. Dan sesuatu yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatupun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai air ke mulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya.Dan doa (ibadah) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka."(QS. ar-Ra'du: 14).
2. Sesembahan Musyrikin Dulu adalah Orang-orang Shaleh
Sekadar membandingkan, dan tak berarti boleh menyembah orang-orang shaleh. Orang-orang musyrik pada zaman jahiliyah menjadikan sekutu bagi Allah dari dua kelompok, yang pertama adalah hamba-hamba Allah yang shaleh, baik dari kalangan para nabi, malaikat ataupun wali-wali Allah. Dan yang kedua adalah seperti pohon, batu dan lainnya.
Lalu bagaimana keadaan orang-orang musyrik zaman ini? Miris hati kita menyaksikan orang-orang yang mengaku beragama Islam mengambil berkah di kuburan orang-orang yang semasa hidupnya banyak menyerang Islam dan justru membela orang-orang kafir.
3. Musyrikin Zaman Dulu Tidak Menyekutukan Allah dalam Rububiyah-Nya
Tauhid rububiyah adalah mengikrarkan bahwa Allahlah satu-satunya pencipta segala sesuatu, yang memberikan rizki, yang menghidupkan dan mematikan serta hal-hal yang merupakan kekhususan bagi Allah lainnya. Ini semua diakui oleh orang-orang musyrik zaman dahulu. Dalilnya adalah firman Allah,
"Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka, "Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab, "Allah", maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?"(QS. az-Zukhruf: 87).
Juga firman-Nya, "Katakanlah, "Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?" Maka mereka akan menjawab, "Allah." Maka katakanlah, "Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?"(QS. Yunus: 31).
Titik penyimpangan mereka adalah kesyirikan dalam tauhid uluhiyah, yaitu mengikrarkan bahwa hanya Allahsemata yang berhak ditujukan kepada-Nya segala bentuk ibadah, seperti doa, nadzar, menyembelih kurban dan lain-lain. Tauhid inilah yang diingkari oleh musyrikin zaman dulu.
Mereka berdoa kepada patung atau penghuni kubur bukan dengan keyakinan bahwa patung itu bisa mengabulkan doa mereka atau punya kekuasaan untuk mendatangkan keburukan, namun yang mereka maksudkan hanyalah supaya patung (sebagai perwujudan dari orang shaleh) atau penghuni kubur itu dapat menyampaikan doa mereka kepada Allah.
Mereka berkeyakinan bahwa orang shaleh itu yang telah diwujudkan/ dilambangkan dalam bentuk gambar/ patung tersebut mempunyai kedudukan mulia di sisi Allah. Sementara mereka merasa banyak berbuat dosa dan maksiat, sehingga tidak pantas meminta langsung kepada Allah, karenanya harus melalui perantara atau wasilah. Allah berfirman, (artinya):
“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik).Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata), "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya".(QS. Az-Zumar : 3).
Lalu bagaimana keadaan musyrikin sekarang ini? Diantara mereka ada yang berkeyakinan bahwa yang memberikan jatah ikan bagi nelayan adalah para penunggu laut.Akhirnya, tak jarang kita saksikan masyarakat kita menjejali aneka macam sesajen ke lautan. Sesajen yang ditujukan kepada para penunggu laut, agar para dedemit itu melimpahkan hasil laut kepada mereka.
Tak hanya di laut, di darat pun demikian. Berbagai ritual kesyirikan rutin digelar agar hasil bumi melimpah ruah.
Inilah di antara bukti, betapa orang-orang musyrik zaman sekarang lebih jahil daripada orang-orang musyrik zaman dulu.
Semoga Allah senantiasa menghindarkan kita dari kejahilan terhadap agama-Nya yang hanif, dan melindungi kita agar tidak termasuk dalam firman-Nya (artinya),
“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS. Ar-Rum: 7). Wallohul Haadi Ilaa Aqwam Ath Thoriq

Sumber: Buletin Al Fikrah (www.stibamks.net)

0 Response to "Parah, Kesyirikan Hari Ini Mengalahkan Kesyirikan Jahiliyah"

Poskan Komentar