Menjadi Para Pendamping Nabi

Posted by Wahdah Islamiyah Kolaka Kamis, 06 Juni 2013 18.05
Pendamping adalah teman paling spesial. Kemuliaan pendamping sebagaimana keutamaan yang didampinginya.
Menjadi kepercayaan seorang pejabat berpangkat tinggi, akan mendatangkan perasaan bangga luar biasa. Lalu,bagaimana lagi jika yang didampingi adalah manusia paling mulia? Tidak bisa dipungkiri, sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam adalah generasi terbaik umat ini. “Sebaik-baik manusia adalah generasiku (sahabat), kemudian orang sesudah mereka (tabi’in) dan kemudian orang sesudah mereka (atba’ tabi’in).” (HR. Bukhari). Para pendamping Nabi shallallahu 'alaihi wasallam adalah orang-orang pilihan. Merekalah yang diberi kesempatan mendampingi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di dunia dan akhirat.
Ketika orang bertanya, “Manakah yang lebih utama, Mu’awiyah radhiyallahu anhu ataukah Umar bin Abdul Aziz?” Tak bisa ditawar lagi, keutamaan Muawiyah tjauh lebih besar jika dibanding cucu Umar bin Khattab ini. Meskipun Umar bin Abdul Aziz sampai digelari khalifah islam yang kelima. Debu yang menempel di wajah Muawiyah tsaat berjihad bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sudah cukup menjadi saksi ia lebih utama. Bagaimana pun alimnya seseorang dari umat ini tidak akan bisa mengalahkan derajat para sahabat. Orang yang bertemu langsung dan hidup bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam .
Bahkan, sekiranya kita bersedekah emas sebesar bukit Uhud, tidak akan mampu mengalahkan nilai sedekah sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam meskipun mereka hanya menyedekahkan sebiji kurma.
Dalam banyak hadits sering disebutkan ucapan para sahabat, “Kami pernah duduk, makan, safar, dan berjihad bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam”. Sekadar bertemu dan duduk di majelis ilmu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sudah menunjukkan keutamaan yang besar, bagaimana lagi dengan sahabat yang menghabiskan hidupnya bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam?
Sahabat sekaliber Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu anhu, orang paling mulia setelah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, hingga mendapat banyak kesempatan terlibat dalam momen penting umat ini. Digelari ash-Shiddiq, karena beliaulah yang pertama kali membenarkan risalah kenabian di kalangan laki-laki. Termasuk momen-momen genting, hingga saat berhijrah pun ia kembali terpilih mendampingi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Hingga sepeninggal mereka berdua pun, Allah berkehendak menjadi-kan kuburan mereka berdampingan. Menjadi pendamping Nabi di dunia begitu mulia keutamaannya, bagaimana lagi di akhirat kelak?
Bagaimana pula dengan kita yang tidak ditakdirkan bertemu dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam? Suatu ketika beliau merindukan saudara-saudaranya. Mendengar itu para sahabat bertanya-tanya, "Apakah maksudmu berkata demikian wahai Rasulullah? Bukankah kami ini saudara-saudaramu?” Tanya Abu Bakar. Beliau pun menjawab, "Tidak, wahai Abu Bakar. Kamu semua adalah sahabat-sahabatku tetapi bukan saudara-saudaraku (ikhwan).”
Sahabat lain pun mengatakan, "Kami juga ikhwanmu, wahai Rasulullah". Maka beliau bersabda, "Saudaraku ialah mereka yang belum pernah melihatku tetapi mereka beriman kepadaku sebagai Rasul Allah dan mereka sangat mencintaiku. Bahkan kecintaan mereka kepadaku melebihi cinta mereka kepada anak-anak dan orang tua mereka."
Mudah-mudahan kita termasuk di dalamnya. Kesempatan itu selalu ada. Jika kita tidak ditakdirkan bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di dunia ini, maka jangan pernah lewatkan kesempatan di akhirat kelak. Sekali lagi, jangan sia-siakan kesempatan ini!
Lalu bagaimana kita bisa bersama dengan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam kelak di akhirat?

1. Mencintai Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
Tentu, untuk menjadi pendamping seseorang pertama kali kita harus mencintainya. Awal dari kebersamaan adalah cinta. Betapa sedihnya hidup bersama seseorang tapi kita sendiri tidak mencintainya. Atau sebaliknya, kita mengaku mencintainya, tetapi ia tidak menerima pengakuan itu. Mencintai Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tidak sekadar cinta asalan saja. Tidak sedikit orang berusaha mengungkapkan cinta Nabi, tetapi justru mendatangkan murka Allah.
Bukan cinta semu, tetapi cinta yang menembus ruang dan waktu. Itulah cinta yang sesungguhnya. Umar radhiyallahu anhu pernah mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam , “Aku mencintaimu wahai Rasulullah melebihi cintaku pada semua orang di dunia ini kecuali diriku sendiri”. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pun menjawab, “Belum sempurna keimananmu ya Umar hingga aku lebih engkau cintai dari dirimu sendiri”. Maka Umar pun mengklrarifikasi, “Kalau begitu aku mencintaimu wahai Rasulullah melebihi cintaku pada diriku sendiri”. “Nah baru sekarang sempurna cintamu wahai Umar”.
“Kelak, seseorang akan bersama dengan apa yang dicintainya.” Mendengar hadits ini sahabat Anas radhiyallahu anhu berkata, “Tidak ada yang membuat kami gembira melebihi kegembiraan mendengar berita ini.” Bagaimana mungkin mereka bisa meyamai ibadahnya Nabi, Abu Bakar, Umar dan lainnya. Namun lantaran cinta Nabi, mereka kelak tetap bersamanya di surga. Kata imam Syafi’I rahimahullah, “Aku mencintai orang-orang shaleh, meskipun aku bukan termasuk di antara mereka”.

2. Menaati
Pengakuan Cinta tidak sekadar perkataan saja. Butuh pembuktian. Jika pembuktian butuh cinta maka cinta lebih butuh pembuktian. Sungguh disayangkan betapa banyak yang mengaku mencintai Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam , namun di saat yang sama ia melanggar perintah dan larangannya.
Menaati Rasulullah adalah bagian dari ketaatan pada Allah, “Barang siapa yang menaati Rasul itu (Nabi Muhammad), sesungguhnya ia telah menaati Allah.” (QS. An-Nisa’: 80).
Orang yang menaati Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam akan menemaninya di hari kiamat kelak. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, “Barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugrahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiqin, para syuhada dan orang-orang yang saleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya”(QS. An-Nisaa:59).
Menaati juga berarti menerima segala perintah dan larangannya. Bukannya mengambil apa yang sesuai hawa nafsu semata. ”Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.”(QS.Al-Hasyr: 7).
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Seluruh umatku akan masuk surga kecuali orang yang enggan.” Para shahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang enggan?” Rasulullah menjawab, “Barang siapa yang menaatiku, dia akan masuk surga, dan barang siapa yang bermaksiat (tidak taat) kepadaku, maka dialah orang yang enggan (yakni enggan masuk surga).” (HR. al-Bukhari).

3. Memperbanyak Shalat Sunnah
Rabi'ah bin Ka'ab Al Aslamy radhiyallahu ‘anhu suatu malam menyiapkan air wudhu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Sebagai tanda terima kasih Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, beliau ingin memberinya imbalan, "Wahai Rabi'ah, mintalah apa yang kau inginkan". Maka Rabi'ah berkata, "Wahai Rasulullah, aku ingin kelak bersamamu di surga."
Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata lagi, "Adakah selain itu?" Rabi'ah menjawab, "Tidak ada wahai Rasulullah, aku hanya ingin menemanimu di surga. Aku telah menemanimu di dunia maka aku ingin juga bisa bersamamu di akhirat." Maka beliau pun bersabda, "Hendaklah engkau memperbanyak sujud.” (HR. Muslim). Memperbanyak sujud yang dimaksud adalah dengan memperbanyak shalat sunnah.

4. Berakhlak baik
Tentu, ketika seseorang ingin bersama dengan orang yang paling mulia, ia pun harus mempunyai akhlak mulia. “Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian dan yang paling dekat kedudukannya denganku di hari kiamat kelak adalah orang yang terbaik akhlaknya.”(HR. Tirmidzi). Dan sebaik-baik akhlak, akhlak Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Sampai Allah Subhanahu wa Ta'ala memuji, “Dan sungguh-sungguh engkau berbudi pekerti yang agung.” (QS. al-Qolam
Tidak sampai di situ, beliau juga paling baik akhlaknya pada keluarganya. “Orang yang paling baik di antara kamu adalah yang paling baik dengan keluarganya dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku.” (HR. Tirmidzi).
Karena, “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. At-Tirmidzi).

5. Membantu Anak Yatim
Begitu dekatnya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dengan anak-anak yatim, hingga beliau bersabda, ”Aku dan orang yang menanggung kehidupan anak yatim, kelak di surga akan seperti ini (beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah beliau dengan sedikit merenggangkan).” (HR. Bukhari).

6. Memperbanyak Shalawat
Shalawat kepada Rasulullah hakekatnya kembali kepada diri sendiri. "Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya bershalawat (memberi segala penghormatan dan kebaikan) kepada Nabi (Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam); wahai orang-orang yang beriman bershalawatlah kamu kepadanya serta ucapkanlah salam sejahtera dengan penghormatan yang sepenuhnya." (QS. al-Ahzab: 56).

Apalagi dalam hadits, “Orang yang paling dekat kedudukannya dengan aku di hari kiamat adalah yang terbanyak bershalawat kepadaku.“ (HR. Tirmidzi).

Karena, “Orang yang bakhil itu adalah orang yang tidak mau bershalawat ketika orang menyebut namaku di sisinya.“ (Hadits Riwayat At-Tirmidzi).

Tentu, bersama dengan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam di surga kelak bukan berarti sama kedudukannya. Karena surga juga bertingkat-tingkat. Tapi setidaknya, kita akan dikumpulkan berdekatan di surga kelak bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. “Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul (Nabi Muhammad), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, para shiddiqin, para syuhada’, dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS. An-Nisa’: 69). Muhammad Scilta Riska

Sumber: Buletin Al Fikrah (www.stibamks.net)

0 Response to "Menjadi Para Pendamping Nabi"

Poskan Komentar