Kala Hati Sekeras Batu

Posted by Wahdah Islamiyah Kolaka Kamis, 27 Juni 2013 05.23

Di antara doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah memohon perlindungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari hati yang tidak khusyuk.

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyuk, dari hawa nafsu yang tidak pernah merasa kenyang, dan dari doa yang tidak dikabulkan.” (HR. Muslim).

Hati yang tidak khusyuk ini adalah hati yang keras, dan hati yang keras adalah hati yang jauh dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Imam Ibnu al-Qayyim rahimahullah mengatakan, “Tatkala mata telah mengalami kekeringan disebabkan tidak pernah menangis karena takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya keringnya mata itu merupakan salah satu sebab kerasnya hati. Sedangkan hati yang paling jauh dari Allah adalah hati yang keras.” (Badaai al-Fawaa’id, 3/743).

Ya! Hati yang paling jauh dari Allah adalah hati yang keras. Sehingga orang yang memiliki hati yang keras susah menerima nasihat, gemar melakukan maksiat dan susah sekali bertaubat.
Padahal selayaknya bagi orang yang menginginkan keselamatan untuk menangisi dosa-dosanya, bukan berbangga-bangga dengan dosanya. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Sesungguhnya orang mukmin itu melihat dosa-dosanya seakan-akan dia sedang berada di kaki gunung. Dia takut itu akan menimpa dirinya, dan sesungguhnya orang yang durhaka itu melihat dosa-dosanya seperi seekor lalat yang hinggap di hidungnya. Lalu dia berkata, “Cukup begini saja”, maksudnya cukup dengan menepiskan tangannya.”

Dalam riwayat Imam al-Bukhari disebutkan perkataan Anas bin Malik rahimahullah, ”Sesungguhnya kalian benar-benar melakukan berbagai macam perbuatan, yang dalam pandangan kalian lebih kecil daripada sehelai rambut. Sedangkan kami pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, menganggapnya sebagai dosa besar.”

Diriwayatkan dari Uqbah bin Amir radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Wahai Rasulullah, apakah keselamatan itu?“ Maka Nabi menjawab, “Tahanlah lisanmu, hendaknya rumahmu terasa luas untukmu, dan tangisilah kesalahan-kesalahanmu.” (HR. Tirmidzi, di shahihkan oleh al-Albani rahimahullah).

Mengapa Hati Menjadi Keras?
Jawaban dari pertanyaan di atas sangat penting untuk kita ketahui, karena hati merupakan organ paling penting dan penentu bagi keselamatan seseorang.
Berangkat dari pertanyaan ini kita akan mengetahui sebab-sebab yang bisa mengeraskan hati, sehingga kita bisa menjauhinya. Di antara sebab-sebab itu:

a. Lemahnya iman
Lemah iman adalah penyebab kerasnya hati dan mengurangi rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga seseorang mudah jatuh dalam kemaksiatan dan malas berbuat baik.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberitakan keadaan orang yang lemah imannya dan terjerumus dalam kemaksiatan dalam banyak hadits, antara lain,

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah seseorang pezina berzina ketika dia sedang berzina padahal dia seorang mukmin. Tidaklah seseorang meminum khamr ketika dia sedang meminum khamr padahal dia seorang mukmin. Tidaklah seseorang merampas barang rampasan yang banyak orang melihat dengan mata mereka ketika dia sedang merampasnya, padahal dia seorang mukmin.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Yang dimaksudkan di dalam hadits ini adalah orang yang kurang imannya. Karena itu, Imam an-Nawawi rahimahullah membuat bab yang berisikan hadits-hadits tersebut dengan judul, bab: Penjelasan tentang berkurangnya iman dengan sebab kemaksiatan, dan penafian kesempurnaan iman dari orang yang sedang melakukan maksiat.

Maka suatu keharusan bagi seorang Muslim yang menyadari imannya lemah untuk bergegas mengobatinya. Di antara caranya yaitu dengan membaca serta merenungkan al-Qur’an, takut kepada siksaan Allah, bertaubat dari perbuatan maksiat, mengingat mati dan akhirat serta takut terhadap su’ul khatimah (akhir yang buruk).

b. Berteman dengan orang-orang yang buruk
Ini juga merupakan salah satu sebab bahkan faktor dominan yang bisa mengeraskan hati. Orang yang hidup bergaul dengan manusia yang banyak berkubang dalam dosa, banyak bergurau dan tertawa tanpa batas, maka sangat memungkinkan akan terpengaruh kondisi tersebut. Terlebih lagi bagi mereka yang berkepribadian lemah dan selalu mengekor orang lain.

Jika seorang teman suka mendengarkan lagu-lagu dan musik, maka ia akan memengaruhi sahabatnya. Dan terkadang saat melihat penyimpangan yang dilakukan temannya, ia tidak mengingkarinya karena takut persahabatannya akan putus, atau terkadang ia melihat temannya tidak taat beribadah, namun ia sungkan untuk mengajaknya bahkan akhirnya ia pun terpengaruh dan tidak lagi istiqamah.

Karena itu, dalam bergaul seseorang harus memilih teman yang shaleh yang akan membantunya taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Seseorang itu mengikuti dien (akhlak, agama, dan kebiasaan) teman akrabnya, maka hendaklah seseorang melihat siapa yang dijadikan teman akrabnya.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ahmad).

c. Terbiasa meninggalkan kewajiban, melakukan maksiat dan meremehkan dosa
Dosa merupakan penghalang seseorang dalam meraih ridha Allah. Dosa ibarat penghalang perjalanan menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta membalikkan arah perjalanan yang lurus. Perbuatan maksiat, meski kecil, akan memicu perbuatan maksiat lain yang lebih besar, sehingga tanpa disadari semakin hari semakin terpuruk.

Maka selayaknya semua dosa itu ditinggalkan, baik dosa yang dilakukan hati, lisan, dan anggota badan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memperingatkan tentang dosa-dosa kecil dengan sabdanya, “Jauhilah dosa-dosa yang dianggap kecil, karena dosa-dosa itu akan berhimpun pada seseorang sehingga akan membinasakannya.” (HR. Ahmad).

Imam Abdullah bin Mubarak rahimahullah berkata, “Aku melihat dosa-dosa itu mematikan hati, mengerjakannya terus menerus menimbulkan kehinaan, adapun meninggalkan dosa adalah kehidupan bagi hati, dan mendurhakai dosa adalah baik bagi jiwamu.”

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Sesungguhnya di antara dampak negatif dosa adalah melemahkan perjalanan hati (seseorang) menuju negeri akhirat atau menghalanginya atau memutuskannya dari perjalanan itu. Dan terkadang dosa juga bisa memutarnya ke arah belakang (maksiat dan kekufuran). Hati itu akan berjalan menuju Allah dengan kekuatannya, jika hati itu sakit lantaran dosa-dosa lemahnya kekuatan yang menjalankannya.” (al-Jawabul Kaafi, hlm. 140).

d. Tertipu dan membanggakan diri
Menghadiri majelis ilmu dan berteman dengan orang shaleh menunjukkan bahwa pada diri orang tersebut terdapat ketakwaan dan ketawadhuan. Tetapi sebagian orang tertipu dan bangga terhadap diri sendiri, merasa sempurna, dan tidak butuh kepada orang ‘alim. Rasa seperti ini memberikan pengaruh jelek terhadap pemiliknya. Karenanya, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memperingatkan bahaya sifat ‘ujub (membanggakan diri).

Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Perkara-perkara yang membinasakan adalah; kebakhilan dan kerakusan yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan kebanggaan seseorang terhadap diri sendiri.” (HR. Al-Bazzar, Al-Baihaqi, dinyatakan shahih oleh Syaikh Al-Albani).

Banyak sebab yang dapat menjadikan hati kita keras bahkan lebih keras dari batu, namun cukuplah beberapa sebab ini menjadikan kita paham tentang sebab-sebab pengeras hati tersebut. Namun, pada poin terakhir ini kami akan menyebutkan sebab yang paling keras, yang dapat menghalangi hati dalam berkhidmat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu berlebih-lebihan dalam makan, tidur, berbicara dan banyak tertawa tanpa sebab.

Sebagian manusia terlalu terlena dalam persoalan banyak bercanda, dan membuat orang tertawa. Ketahuilah, wahai saudara-saudaraku! Sungguh banyak canda akan menjatuhkan wibawa, menyebabkan dendam dan permusuhan, serta mematikan hati. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Janganlah kamu memperbanyak tertawa, karena sesungguhnya banyak tertawa itu akan mematikan hati.” (HR. Ibnu Majah).

Inilah beberapa perkara tersebut, maka selayaknya setiap kita masing-masing kemudian berusaha memperbaikinya. Hanya Allah tempat memohon pertolongan. (Alif Jumai Rajab (Disajikan dari berbagai sumber))

Sumber: Buletin al-Fikrah No. 20 Tahun XIV, 30 Jumadal Akhirah 1434 H/10 Mei 2013 M

0 Response to "Kala Hati Sekeras Batu"

Poskan Komentar