The Time Is Not Money

Posted by Wahdah Islamiyah Kolaka Kamis, 30 Mei 2013 17.52
Waktu, diantara hal yang paling sering disebutkan dalam al-Qur’an. Kita mungkin sudah sering membaca tulisan ataupun nasihat tentang waktu. Pembahasan dalam dien ini tidak mengenal kata basi.
“Dan tetaplah mengadakan peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman” (Qs. Adz Dzaariyat : 55). Atau pepatah, fil i‘aadah ifadah. Setiap pengulangan selalu ada faidahnya. Sampai Allah bersumpah, “Demi masa.”(QS. al-Ashr:1). Betapa pentingnya masalah waktu.
Bangsa-bangsa tertentu terkenal dengan penghargaan mereka terhadap waktu. Sering datang terlambat merupakan aib buat mereka. Begitupula, terlalu cepat datang sebelum waktunya juga aib. Bahkan cepat pulang kerja, ciri-ciri orang yang tidak produktif, tidak dibutuhkan.
Orang Barat sering mengistilahkan timeismoney. Namun doktrin ini berefek samping. Tidak sedikit orang kita saksikan masih sibuk jual-beli lantaran azan sudah dikumandangkan. Karena prinsip ini, akhirnya shalatnya sering tertunda. Alasan sibuk mencari uang, ibadah diabaikan.
Padahal waktu lebih dari sekadar uang. Segalanya memang butuh uang, tetapi uang tidak bisa membeli segalanya. Waktu tidak bisa disamakan dengan uang. Uang tidak bisa membeli waktu. Waktu bagi seorang mukmin adalah ibadah. Ad-dunyaasa’ah, faj’alhatho’ah. Dunia itu sesaat, maka jadikanlah untuk ketaatan.

Manajemen waktu
Islam agama sempurna dari segala lini kehidupan, apapun itu. Hakekatnya, “Hikmah itu adalah barang yang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ia menemukannya, maka ambillah”. Jika saja bangsa Jepang hari ini begitu tinggi etos kerjanya terutama ketepatan waktu. Sesungguhnya kita lebih berhak dari semua itu.
Rangkaian ibadah sudah cukup mengkondisikan seorang muslim memanfaatkan waktunya. Ibnu Mas’ud tpernah bertanya kepada Rasulullah rtentang amal yang paling disukai Allah azza wa jalla. Beliau bersabda, “Sholat tepat waktu” (HR. Bukhari & Muslim). Jika ingin belajar manajemen waktu, Shalat berjama’ahlah bisa menjadi ukuran. Orang yang sering masbuk, yakinlah dalam pekerjaannya akan ada saja kata “terlambat”. Sedangkan hubungan pada Rabb sering disepelekan, bagaimana lagi dengan orang lain.
Puasa, juga mengajarkan bagaimana konsisten dengan waktu. Mulai rentang waktu sahur sampai magrib. Tidak diperkenankan lagi makan minum setelah fajar, apapun alasannya. Kita tidak mungkin beralasan, “Afwan saya terlambat sahur”.
Fenomena menunda waktu. Seolah terlambat itu bisa teratasi dengan kata, “Maaf”. Jangan heran, sering kita menghadiri suatu kegiatan molor waktunya. Hingga muncul istilah Wita (Waktu itu Terserah Anda).
Sekaliber presenter TV atau penyiar radio tidak kita temukan, “Maaf pemirsa, pendengar sekalian. Saya terlambat, soalnya jalanan tadi macet!”. Ketika jadwal tampil, tidak ada alasan terlambat. Saat itu pula anda bukan milik istri, anak dan keluarga anda. Anda adalah milk umat! Pemirsa tidak mau tahu, apapun alasannya. Disaat dibutuhkan, harus hadir juga saat itu!
Bagaimana Waktu Bermanfaat?
Mengatur Waktu
Shalat lima kali sehari, hakekatnya mengarahkan kita mengatur waktu. Karena, “…sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (Qs. An-Nisa’: 103)”. Artinya tidak ada alasan untuk terlambat. Waktu-waktu shalat akan mengingatkan kita mengatur waktu. Jika bukan mengatur, kita akan diatur waktu.
Sering tidur pagi, padahal pagi adalah waktu paling produktif dan berberkah. Dari sahabat Shokhr Al Ghomidiy, Nabi rbersabda, “Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.”(HR.Tirmidzi). Terutama setelah shalat subuh. Sekiranya ia punya jadwal menghafal al-Qur’an, tentu tidak ada waktu untuk tidur pagi. Jadwal yang kosong memicu untuk mengisi pada kegiatan tidak bermanfaat.
Seorang Gubernur zaman Khalifah Umar sempat diprotes rakyatnya. Lantaran mengurusi umat hanya pagi sampai sore saja. Setelah ditanya, “Sesungguhnya saya telah menyiapkan waktuku, dari pagi sampai sore mengurusi umat. Apapun itu kebutuhannya. Adapun malamku, khusus untuk Rabbku”.
Target Waktu
Nabi Musa uketika akan menemui Khaidir telah menyusun targetnya. “Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun. (QS. Al Kahfi:60).Target akan memacu seseorang mencapai tujuannya. Target akan menjadi tolok ukur pencapaian keberhasilan.
Dalam hal, “Puasa yang diwajibkan itu ialah beberapa hari yang tertentu.. “(al-Baqorah: 184). Allah Isengaja menyebutkan “hari-hari berbilang” agar kita lebih fokus. Bagaimana sekiranya, seorang menawarkan lomba lari berhadiah miliyaran rupiah. Pasti pertanyaannya, “Sampai dimana finishnya?”. Apakah kita sanggupi, “Pokoknya lari saja, tanpa batas!”. Begitupula kehidupan. Akan janggal jika ada manusia hendak hidup selamanya tanpa batas di dunia fana.
Itulah hikmah, “Barangsiapa yang membayarkan sebelum shalat Ied maka zakat itu diterima dan barangsiapa membayarkannya setelah shalat maka zakat itu (nilainya) sebagai sedekah biasa.” (HR Abu Daud dan Ibnu Majah)”. Agar seorang muslim senantiasa memperhatikan target waktunya. Tidak suka terlambat. Keterlambatan akan mempengaruhi jadwal waktu berikutnya.
Waktu Senggang
Sabda Rasulullahe, "Ada dua nikmat yang kebanyakan manusiamerugi pada keduanya,yaitu sehat dan waktu luang" (HR. Bukhari). Manusia benar-benar tertipu oleh waktu senggang. Sewaktu sibuk punya seribu agenda. “InsyaAllah, liburan nanti saya akan menghafal al-Qur’an”. Saat liburan tiba, ia benar-benar libur total dari semua agendanya. Seolah ada rasa balas dendam. Akhirnya liburan hanya digunakan untuk tidur, bahkan bermaksiat, na’udzu billah.
Seorang ulama, selama dua puluh tahun tidak pernah makan malam dengan tangan kanannya. Bukan karena cacat. Melainkan disuapi oleh saudari perempuannya. Kemana tangannya? Ia sibuk membaca, dan lainnya memegang pena menulis!
Sampai, ada yang menghemat waktu makannya. Ia menyuruh menumbuk makanannya, supaya cepat mengunyah. Bahkan Imam Nawawi tidak sempat menikah lantaran sibuknya belajar menelaah hadits. Seluruh waktunya untuk menuntut ilmu.
Mubadzzir Waktu
Tidak punya jadwal, apalagi target menggoda untuk menyia-nyiakan waktu. Menggunakan seadanya saja. Kebiasaan paling menonjol, terlalu banyak bercerita tidak bermanfaat.
Isyarat, “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berbicara yang baik atau diam” (HR. Bukhari). Sejalan dengan, “diam itu emas bicara perak”. Bukan berarti diam tanpa komunikasi, bicara sesuai takarannya. Semua yang keluar dari mulut akan tercatat tanpa kecuali. Pembicaraan tanpa faidah akan melebar tanpa arah. Seyogyanya, cerita banyak diganti dengan banyak membaca.
Bersegera
Menghindari keterlambatan dengan bersegera. “Bersegeralah kalian melakukan amal-amal yang shalih, karena akan terjadi suatu bencana yang menyerupai malam yang gelap gulita, dimana ada seseorang pada waktu pagi beriman tetapi pada waktu sore ia menjadi kafir, pada waktu sore ia beriman tetapi pada waktu pagi ia telah kafir. Ia rela menukar agamanya dengan kesenangan dunia” (HR.Muslim).
Faktor keterlambatan seringnya menunda-nunda. Pepatah Arab mengatakan, “Telur hari ini lebih baik daripada ayam besok”. Jika ingin melakukan kebaikan, selama mampu lakukan sekarang juga. Menunda-nunda bagian godaan syaitan.
Seorang ulama selama berpuluh tahun shalat berjama’ah tidak pernah melihat betis di depannya. Artinya selalu shaf awwal. Jika azan dikumandangkan, tidak ada lagi waktu berlama-lama dengan urusan dunia. Rasulullah ebersabda, "Barang siapa melakukan shalat berjama'ah karena Allah dan selama 40 hari dia mendapatkan takbir pertama (dalam setiap shalat), maka akan dicatat baginya dua kebebasan: kebebasan dari api Neraka dan kebebasan dari (sifat) kemunafikan”.
Karena itu, “Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu, dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa”. (QS. Ali ‘Imran: 133)”. Tidak termasuk manusia dalam kerugian. “Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya menaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran” (QS. al-Ashr:3).
Keberkahan Waktu
Qadli Abu Yusuf shalat dua ratus rakaat dalam sehari. As Salaf as-sholih terdahulu menghidupkan malamnya, siangnya berjihad seperti singa-singa. Utsman bin Affan tmenghatamkan Al-Qur'an hanya dalam satu rakaat shalat.Abu Bakr bin Athiyah al-Muharibi mengulang-ulangi membaca Shahih Bukhari sebanyak 700 kali sehari. Abu Hurairah ttermasuk paling banyak dari tujuh sahabat periwayat hadits. Padahal ia bersama Rasulullah etidak terlalu lama dibanding sahabat lainnya.
Ibnul Jauzy bisa menulis sembilan Kurrasah setiap hari (satu kurrasah sebanding 30 halaman). Dan setiap tahun karya beliau dicetak sebanyak 50-60 jilid dan telah menulis 2000 jilid kitab. Sama-sama punya waktu 24 sehari, tetapi bisa menghasilkan sejuta karya. Bukankah itu hanyalah waktu yang berbilang saja?
Inilah keberkahan waktu. Kualitas hidup tidak dinilai dari banyaknya waktu yang kita gunakan. Tetapi bagaimana memanfaatkan waktu yang berberkah. Semoga kita diberikan keberkahan waktu dan umur. Karena, Sesungguhnya kewajiban itu banyak, sementara persediaan waktu terbatas! Muhammad Scilta Riska

0 Response to "The Time Is Not Money"

Poskan Komentar