Meraih Kelezatan Beribadah (Bag. 2)

Posted by Wahdah Islamiyah Kolaka Minggu, 19 Mei 2013 18.08
2. Sebab Atau Cara Untuk Mendapatkan Kelezatan Ini Dalam Ibadah

1. Bersungguh-sungguh dalam beribadah dan membiasakan diri dengannya sedikit demi sedikit.

Ibnul Qayim rahimahullah berkata : "Orang yang beribadah pada awalnya akan merasakan lelah atas banyaknya beban ibadah, dan mendapatkan kesulitan beramal disebabkan belum adanya rasa ketenangan hati terhadap Dzat yang ia sembah (Allah), namun jika hatinya mulai merasakan adanya ruh ketenangan maka semua rasa beban dan kesulitan tersebut akan sirna ,sehingga shalatnya menjadi sebuah penyejuk hati ,sumber kekuatan dan kelezatan. "4 Tsabit AlBunani rahimahullah berkata : "Saya memaksakan diriku untuk konsisten dengan shalat selama 20 tahun sehingga saya bisa merasakan kenikmatan didalamnya selama 20 tahun setelahnya."5 Abu Yazid rahimahullah berkata : "Saya awalnya membawa jiwaku untuk beribadah kepada Allah dalam keadaan menangis (lelah), namun saya terus menerus memaksanya sehingga iapun menghadapNya dalam keadaan tertawa (bahagia)."6

Allah ta'ala berfirman :

)وَالَّذِينَ جَاهَدُوافِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْسُبُلَنَاوَإنَّ اللَّهَلَـمَعَالْـمُحْسِنِينَ)[العنكبوت: 69]

Artinya : "Dan orang-orang yang berjihad untuk mencari keridhaan kami ,Kami akan tunjukkan pada mereka jalan-jalan Kami.." (Al'Ankabut 69)

Jadi, jika seorang hamba terus-menerus bersungguh-sungguh dalam ibadah ,Allah akan menganugrahkan padanya hidayah dan memudahkan dirinya untuk mencapai cita-cita dibalik ibadahnya tersebut.


2. Memperbanyak ibadah-ibadah sunat dan tidak monoton terhadap satu ibadah saja.

Agar jiwa tidak merasakan adanya kebosanan atau kejenuhan yang bisa menyebabkan hilangnya semangat ibadah, maka hendaknya mengganti-ganti jenis ibadah yang dilakukan, kadang melakukan shalat sunat, kadang puasa sunat ,sedekah sunat ataupun ibadah sunat lainnya karena cara ini dapat menanamkan rasa cinta kepada Allah ta'ala sebagaimana yang terdapat dalam hadis qudsi yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu'anhu bahwa Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda : Allah ta'ala berfirman :

((وما يزال عبدي يتقربإليَّبالنوافل حتىأحبه... ))

Artinya : "Dan tidaklah hambaKu terus-terusan mendekatkan diri kepadaKu dengan ibadah-ibadah sunat sehingga Aku mencintainya" 7

Jadi, barangsiapa yang mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan-amalan wajib dan amalan-amalan sunat maka Allah ta'ala akan mendekatkan orang tersebut kepada diriNya, dan menaikkan derajat 'ubudiyahnya dari derajat iman ke derajat ihsan sehingga iapun beribadah kepada Allah dengan penuh konsentrasi dan kehadiran hati seakan-akan ia melihatNya, dan hatinya akan dipenuhi oleh ma'rifat, mahabbah (cinta), khauf (rasa takut), pengagungan, ketenangan dan syauq (kerinduan) terhadapNya…".8


3. Bermajelis dengan orang-orang shalih dan sering merenungi kisah perjalanan hidup mereka.

Ja'far bin Sulaiman rahimahullah berkata : "Dulu jika saya mendapati hatiku dalam keadaan keras, saya mendatangi Muhammad bin Wasi' dan memAndang wajahnya yang seperti orang yang sangat sedih karena kematian anaknya (sehingga kerasnya hatikupun hilang –pent)".9 Ibnul Mubarak rahimahullah berkata : "Jika saya memAndang Fudhail bin 'Iyadh maka saya akan merasa sedih (karena rasa takut kepada Allah –pent) dan memarahi diriku sendiri (karena banyak lalai –pent )", kemudian iapun menangis.10


4. Sering membaca Al Qur-an dan tadabbur/ merenungi maknanya.

AlQur-an merupakan penyembuh bagi semua penyakit hati, pembersih dari semua noda didalamnya, pelembut dari kerasnya hati, dan pengingat atas kelalaian yang merasukinya serta didalamnya banyak terkandung berbagai macam janji dan ancaman dan penjelasan dua keadaan para hamba ; ahli surga dan ahli neraka. Jika seAndainya ketika membaca AlQur-an seorang hamba membayangkan bahwa saat itu ia sedang berhadapan dengan Allah saja, dan merenungi bahwa semua ayat-ayat yang dibaca itu hanyalah ditujukan oleh Allah untuk dirinya sendiri maka hatinya sungguh akan merasakan adanya rasa takut ,yang dengannya bisa menjadikan hatinya tenang dan tentram ketika bermunajat terhadap Tuhannya dan mendapatkan kelezatan iman , khususnya jika mentadabburi AlQur-an dalam shalat.


5. Memilih waktu untuk khalwat (menyendiri beribadah kepada Allah).

Seorang hamba hendaknya memilih waktu yang tepat baginya baik diwaktu siang atau malam untuk ia jadikan sebagai kesempatan khalwat dengan Allah ta'ala ,diwaktu ini ia menjauhi semua kesibukan dunia agar bisa konsentrasi bermunajat ,berdzikir dan berdoa kepada Allah ta'ala, mengeluhkan semua problem kepadaNya, dan memohon solusi dari semua problem tersebut. Sungguh betapa banyak khalwat seperti ini memberikan pengaruh besar terhadap jiwa dan hati.


6. Menjauhi dosa dan maksiat.

Betapa banyak syahwat yang dilakukan sesaat bisa menyebabkan kehinaan dalam selang waktu yang lama, betapa banyak dosa yang sedikit namun bisa menghalangi pelakunya dari shalat malam bertahun-tahun, dan betapa banyak pandangan yang haram bisa menghalangi pelakunya dari cahaya bashirah (ilmu dan hikmah). Sungguh indah jawaban Wahb bin AlWird rahimahullah ketika ditanya : "Apakah orang yang bermaksiat bisa mendapatkan lezatnya ibadah ?", beliau menjawab : "Sekali-kali tidak, dan tidak pula bagi orang yang sekedar berniat melakukannya". Ibnul jauzi rahimahullah berkata : "Bisa saja seorang hamba melepaskan pandangannya (terhadap yang haram) sehingga Allah mengharamkan dirinya dari meraih bashirahNya (yang berupa ilmu dan hikmah -pent), atau ia melepaskan lisannya (dengan ucapan haram) sehingga hatinya diharamkan dari kesucian, atau ia lebih memilih yang syubhat (belum diketahui kehalalan dan keharamannya) dalam hal makanannya sehingga iapun menggelapkan keadaan batinnya sendiri, diharamkan dari shalat malam dan manisnya bermunajat kepada Allah…."11

Dosa-dosa merupakan penyakit bagi hati, Yahya bin Mu'adz rahimahullah berkata : "penyakit tubuh adalah dengan adanya rasa sakit pada tubuh, sedangkan penyakit hati adalah dengan adanya dosa-dosa, sebagaimana suatu tubuh tidak akan merasakan lezatnya makanan ketika sakit ,maka demikian halnya hati ,ia tidak akan merasakan lezatnya ibadah ketika berbuat dosa".12


7. Mengurangi amalan-amalan yang mubah.

Ahmad bin Harb rahimahullah berkata : "Saya beribadah kepada Allah selama 50 tahun namun saya tidak mendapatkan manisnya ibadah sampai saya meninggalkan tiga perkara ; 1).Saya meninggalkan ridha manusia terhadapku sehingga saya mampu menyampaikan kebenaran , 2).Saya meninggalkan persahabatan dengan orang-orang fasik sehingga saya mendapatkan persahabatan orang-orang shalih , 3).dan saya meninggalkan kelezatan dunia sehingga saya mendapatkan kelezatan akhirat… "13. Ibnul Qayim rahimahullah berkata : "Menahan pandangan dari hal yang diharamkan memberikan tiga faedah yang sangat bermanfaat dan berharga ,salah satunya ; adanya kelezatan dan manisnya iman yang lebih manis ,dan lebih baik dari hal haram yang ia hindari dan ia tinggalkan karena Allah tersebut, sebab barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah niscaya Allah akan menggantikan baginya sesuatu yang lebih baik darinya. Dan fitrah jiwa senantiasa tertarik untuk memAndang wajah yang indah, sedangkan mata adalah penggerak bagi hati, maka tatkala hati memerintahkan penggeraknya (mata) untuk memAndang sesuatu, dan ia kemudian mengabarkan kepada hati tentang indahnya yang dipAndang ,maka hatipun bergetar merasakan rasa rindu kepadanya, sehingga iapun banyak merasakan lelah sekaligus melelahkan utusan dan penggeraknya (yaitu mata). Namun apabila penggerak ini berhenti dari memAndang maka hati akan beristrahat dari banyaknya beban kemauan. Jadi barangsiapa yang melepaskan pandangannya (terhadap yang diharamkan) maka ia akan terus-terusan berada dalam penyesalan."14

___________________________________________________________________________________________________
4.Madarik AsSalikin 2/373
5.Hilyatul auliya' (2/321) dan Shifah AshShofwah 3/260
6.ThariquL Hijratain 1/474h
7.HR Bukhari dan Muslim
8.Jami' Al'Ulum wa AlHikam hal.365
9.Hilyatul auliya' 2/347
10.Tarikh Al Islam (2/336)
11.Shaidul Khathir hal.34
12.Dzammul hawa hal.68
13.Siyar A'lam AnNubala' 11/34
14.Ighatsatullahafan 1/46

0 Response to "Meraih Kelezatan Beribadah (Bag. 2)"

Poskan Komentar