Meraih Kelezatan Beribadah (Bag. 1)

Posted by Wahdah Islamiyah Kolaka Minggu, 12 Mei 2013 05.00
1. Meraih Kelezatan Beribadah

Ibnul Qayim rahimahullah berkata : "Orang yang beribadah pada awalnya akan merasakan lelah atas banyaknya beban ibadah, dan mendapatkan kesulitan beramal disebabkan belum adanya rasa ketenangan hati terhadap Dzat yang ia sembah (Allah), namun jika hatinya mulai merasakan adanya ruh ketenangan maka semua rasa beban dan kesulitan tersebut akan sirna ,sehingga shalatnya menjadi sebuah penyejuk hati ,sumber kekuatan dan kelezatan. "

0leh : 'Abdah Qayid AdzDzuraiby 1

Sesungguhnya Allah tidaklah menciptakan para makhluk dengan sia-sia dan tidak pula membiarkan amalan mereka tidak berguna ,akan tetapi Dia menciptakan mereka demi sebuah tujuan yang agung.

(وَمَا خَلَقْتُ الْـجِنَّوَالإنسَ إلاَّلِيَعْبُدُونِ)[الذاريات: 56]

( Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk menyembahku) Adzdzariyat 56

Untuk itu Allah lebih mengutamakan para hambaNya yang mewujudkan kewajiban ibadah ini dengan menganugrahkan mereka sebuah kelezatan dan kebahagiaan dalam ibadah yang tidak bisa ditandingi oleh semua kelezatan dunia yang fana. Kelezatan ini berbeda-beda kapasitasnya diantara para hamba sesuai dengan tingkat kuat atau lemahnya iman mereka.

مَنْعَمِلَ صَالِـحاًمِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُحَيَاةًطَيِّبَةًوَلَنَجْزِيَنَّهُمْأَجْرَهُمبِأَحْسَنِ مَاكَانُوايَعْمَلُونَ | النحل: 97

Artinya : "Barangsiapa yang mengerjakan kebajikan baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan ", (An Nahl 97 )

Rasa ketenangan dan kebahagiaan ini tidaklah mungkin didapat kecuali dengan hanya mengikhlaskan ibadah kepada Allah semata, memurnikan rasa ketergantungan denganNya dan konsisten dengan dzikir terhadapNya. Ibnul Qayim rahimahullah berkata : " Dan sikap menyerahkan diri kepada Allah, bertaubat kepadaNya, perasaan ridha dengan takdir dan DzatNya, penuhnya hati dengan kecintaan dan seringnya lisan berdzikir terhadapNya, serta perasaan bahagia dan gembira karena mengenalNya, semuanya merupakan ganjaran yang disegerakan ,suatu surga dan kehidupan yang hakiki (bagi seorang muslim didunia –pent) yang sama sekali tidak bisa ditandingi oleh gemerlapnya kehidupan para raja ".2

Adapun seorang hamba yang berpaling dari petunjuk Allah ta'ala dan sunnah Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam ,maka ia akan hidup dalam kehidupan yang penuh kejenuhan dan kesengsaraan.

(وَمَنْأَعْرَضَ عَنذِكْرِيفَإنَّ لَهُ مَعِيشَةًضَنكاً)[طه: 124]

Artinya : "Dan barangsiapa berpaling dari peringatanKu maka sungguh dia akan menjalani kehidupan yang sempit ". (Thaha 124 )

Orang yang seperti ini adalah yang tidak mendapatkan rasa tenang dan ketentraman dada, bahkan dadanya sangatlah sempit lagi merasa susah lantaran kesesatannya sendiri walaupun secara lahir ia terlihat hidup bahagia, berpakaian dan makan sekehendaknya ataupun tinggal dimana saja yang ia kehendaki, sebab selama hatinya tidak dimurnikan diatas keyakinan (terhadap Allah) dan petunjukNya maka dirinya akan terus ada dalam kejenuhan, kebingungan dan keraguan sehingga iapun terus-terusan berada dalam keraguannya . Dan ini merupakan cirri sengsaranya suatu kehidupan."3

___________________________________________________________________________________________________
1.Artikel ini bersumber dari www.said.net dan diterjemahkan oleh Abu Shofwan dengan beberapa perubahan.
2.AlWabil AshShaib hal.69
3.Tafsir AlQur-an Al'Adzhim 3/169

Sumber: wahdah.or.id

0 Response to "Meraih Kelezatan Beribadah (Bag. 1)"

Poskan Komentar