Ibu, Delapan Kali Engkau Berdusta Pada

Posted by Wahdah Islamiyah Kolaka Kamis, 23 Mei 2013 17.54
Kisah ini berawal sejak aku masih kecil. Allah menakdirkanakuterlahir sebagai anak tunggal dari sebuah keluarga yang tergolong sangat miskin. Hari-hari kami lewati sementara kami tidak memiliki makanan yang mencukupi. Jika kami mendapatkan bahan makanan berupa beras sekadar untuk menghilangkan lapar kami, maka ibuku akan segera memberikan jatah nasinya itu kepadaku. Sembari menuangkan nasinya ke piringku, ibuku berkata kepadaku, “Anakku, makanlah nasi ini. Ibu tidak lapar, Nak.”
Inilah dusta pertama ibu padaku.
Ketika usiaku bertambah, setiap kali ibuku menyelesaikan urusan rumah tangga, ia menyempatkan dirinya untuk memancing ikan di sungai sebelah rumah kami. Harapannya hanya satu, agar aku bisa menikmati daging ikan yang kiranya bisa membantu menopang pertumbuhanku.
Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya dengan karunia Allah, ibuku berhasil menangkap dua ekor ikan. Dengan hati yang berbunga-bunga, ibu bergegas kembali ke rumah menyiapkan santapan dan segera menghidangkannya di hadapanku.
Aku mulai menikmati daging ikan pertama sedikit demi sedikit, sementara ibuku hanya memakan sisa-sisa daging ikan yang masih menempel pada tulang-tulang dan duri-duri ikan tersebut. Hatiku terenyuh dibuatnya. Aku segera meletakkan seekor ikan lain yang masih utuh di hadapannya agar ia pun bisa menikmatinya. Tapi dengan spontan ibuku mengembalikannya dan meletakkannya kembali di hadapanku, seraya berkata, “Anakku, ikan ini buatmu juga. Bukankah engkau tahu bahwa ibu tidak suka ikan?”
Ibu, inilah dustamu padaku yang ke dua kalinya.
Usiaku telah memasuki jenjang sekolah dasar saat itu. Kondisi keuangan yang tidak mencukupi untuk membiayai kebutuhan-kebutuhan sekolah mengharuskan ibuku untuk mencari pekerjaan tambahan.
Hari itu ibuku berangkat ke pasar. Di sana ia diterima bekerja di salah satu butik pakaian. Tugas ibu adalah menawarkan pakaian-pakaian itu secara door to door.
Suatu malam di musim dingin disertai derasnya hujan, ibuku terlambat pulang dari bekerja, sementara aku gelisah menunggu di rumah. Aku bergegas mencarinya di jalan-jalan. Tak lama aku pun menemukannya sedang membawa barang-barang sembari mengetuk pintu-pintu rumah.
Segera aku memanggilnya, “Ibu, mari kita pulang ke rumah. Ibu sudah sangat terlambat, lagi pula cuaca sangat dingin. Besok pagi ibu bisa melanjutkan pekerjaan kembali.” Ibuku hanya tersenyum sambil berkata, “Anakku, ibu tidak apa-apa.”
Dan inilah dusta ibu yang ke tiga kalinya padaku.
Tiba saatnya ujian akhir tahun di sekolahku. Hari itu ibu memutuskan untuk mengantarku ke sekolah. Aku masuk ke sekolah untuk mengikuti ujian, sementara ibuku menunggu di luar sekolah. Matahari semakin naik, sinarnya pun semakin menyengat. Tapi ibuku dengan penuh kesabaran tetap menanti di luar pagar sekolah.
Ketika bel tanda usainya waktu ujian, aku bergegas menemui ibuku. Dengan penuh kasih sayang ia mendekapku sambil meneguhkan hatiku. Lalu ia pun memberikanku segelas jus jeruk dingin yang telah ia beli untuk diberikan kepadaku usai ujian. Siang yang panas dan rasa haus membuatku tak menunggu lebih lama lagi untuk segera meneguk jus jeruk itu.
Mataku menatap wajah ibuku. Aku terkesiap ketika melihat dari wajahnya mengalir keringat. Aku pun segera memberikan gelas itu kepadanya, “Minumlah ini, Bu.” Tapi ia menolaknya sambil tersenyum dan mendekapku, “Minumlah Nak! Ibu tidak haus.”
Sekali lagi, engkau telah berdusta padaku ibu. Dan ini yang keempat kalinya.
Sepeninggal ayahku, ibuku hidup menjanda. Tanggung jawab rumah tangga kini berada di pundaknya. Segala kebutuhan ia tanggung seorang diri. Kehidupan menjadi semakin sulit, dan rasa lapar semakin sering mendera hari-hari kami.
Alhamdulillah, pamanku tinggal bersebelahan rumah dengan kami. Terkadang beliau mengirimkan makanan apa saja yang bisa menghalau rasa lapar kami. Salah seorang tetangga rupanya bersimpati dengan kondisi kehidupanku bersama ibuku. Ia menawarkan kepada ibuku untuk menikah lagi karena melihat usianya yang masih muda. Tapi ibuku menolak dan berdalih, “Saya sudah tidak membutuhkan cinta lagi.”
Dan inilah dustanya yang kelima.
Atas karunia Allah, setelah berhasil menyelesaikan studi di salah satu universitas, aku diterima bekerja di salah satu cabang perusahaan. Aku yakin, inilah saatnya untuk meminta ibuku istirahat dan tinggal di rumah. Saatnya untuk mengambil alih semua tanggung jawab rumah tangga yang selama ini ditanggung ibuku. Apalagi karena kondisi kesehatannya yang belum membaik, ibu tak lagi menjual pakaian dari rumah ke rumah dan lebih memilih menjual sayur-sayuran di pasar setiap pagi. Ketika aku sampaikan kepadanya untuk berhenti bekerja karena penghasilanku lebih dari cukup untuk membiayai kebutuhan keluarga kami, ibuku tidak bersedia, “Anakku, simpanlah uangmu. Ibu sudah cukup dengan penghasilan ibu.”
Sekali lagi ia berdusta padaku. Dan inilah dustanya yang keenam.
Untuk pengembangan karirku, aku melanjutkan studiku ke jenjang magister. Dan setelah berhasil meraih gelar master, perusahaan menaikkan gajiku. Hingga pada akhirnya aku direkomendasikan untuk pindah tugas ke kantor pusat perusahaan di Jerman. Aku merasa sangat senang dan bahagia. Aku mulai mengangan-angankan awal kehidupan baru yang penuh kesenangan di Jerman.
Akhirnya, dengan berat hati aku berpisah dengan ibuku. Aku berangkat ke Jerman, sementara ibuku tetap tinggal di rumah. Setiba di Jerman dan setelah membereskan keperluan-keperluan mendesak, aku segera menelpon ibuku dan membujuknya agar berkenan ke Jerman untuk tinggal bersama denganku. Tapi beliau terus saja menolak. Aku tahu, ia tak ingin kehadirannya akan merepotkanku. Tapi ia berdalih, "Anakku, ibu tidak bisa meninggalkan rumah kita."
Kali ini ibu kembali berdusta padaku, dan ini yang ketujuh.
Waktu terus berjalan. Takdir Allah tak bisa dihindari. Di usia Ibuku yang kini telah memasuki usia senja, Allah mengujinya dengan penyakit kanker. Seharusnya, di saat seperti itu ada orang yang berada di sisinya untuk merawatnya. Tapi apa yang bisa aku lakukan? Di antara aku dan ibuku tercinta terpaut jarak yang jauh membentang. Akhirnya, kuputuskan untuk meninggalkan pekerjaanku dan kembali menjenguk ibuku.
Setiba di kampung halaman, aku segera menuju ke rumah sakit tempat ibuku dirawat. Dia terbaring lemah di atas salah satu bangsal setelah dioperasi. Ketika ia melihatku, ia mencoba untuk tersenyum. Tapi hatiku benar-benar hancur memandangnya. Tubuh ibuku nampak benar-benar ringkih dan lemah, bukan lagi ibuku yang pernah kukenal dulu. Air mataku pun bercucuran, tapi ibuku mencoba untuk menenangkanku, "Jangan menangis Anakku, ibu tidak merasa sakit." Dan inilah terakhir kalinya ibuku berbohong kepadaku.
Setelah berkata demikian, ibuku menutup kedua matanya selama-lamanya—rahimahallah.

Kisah ini aku persembahkan untuk mereka yang diberi nikmat berupa kehadiran ibunya di sisinya. Jaga nikmat besar ini sebelum Anda ditimpa nestapa kehilangan ibu Anda.
Dan bagi Anda yang telah ditinggal ibunda tercinta, ingatlah selalu jerih payahnya dalam merawat Anda. Perbanyaklah berdoa kepada Allah untuknya agar Allah Subhanahu wa Ta'ala berkenan merahmatinya dan mengampuni dosa-dosanya.
Diterjemahkan bebas dari artikel berbahasa Arab "Tsamaniyah Marrat Kadzabat Ummi 'alayya"

Sumber: http://www.stibamks.net

0 Response to "Ibu, Delapan Kali Engkau Berdusta Pada"

Poskan Komentar