LPPOM: Sertifikasi Halal MUI Cukup Dipercaya di Timur Tengah

Posted by Wahdah Islamiyah Kolaka Minggu, 30 September 2012 22.38 0 komentar
Sertifikasi halal yang dikeluarkan Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM) MUI sudah cukup membuat produk-produk yang telah mendapat sertifikat halal dipercaya negara-negara Timur-Tengah dan non Timur-Tengah.

Hal ini disampaikan Humas LPPOM, Faried MS kepada hidayatullah.com, Selasa lalu (12/09/2012). Pernyataan Faried ini sekaligus membantah pernyataan Ketua Umum KADIN DKI Jakarta, Ir. Eddy Kuntadi, yang sebelumnya mengatakan sertifikasi MUI tak diakui di Timur Tengah.

Menurut Faried, hingga Maret 2012, bahkan sudah 42 badan sertifikasi halal luar negeri yang telah diakui oleh LPPOM MUI.

36 lembaga untuk kategori penyembelihan ternak dan 23 untuk kategori food processing (pengelolahan makanan) 12 untuk kategori flavor, dan 4 untuk kategori ternak dan unggas. Deklarasi pengakuan lembaga sertifikasi halal ini berlaku selama 2 tahun dan lembaga-lembaga tersebut akan terus dimonitor dan dievaluasi setiap tahunnya.

Di antara lembaga-lembaga tersebut adalah Majelis Ulama Islam Singapore (Singapore), Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (JAKIM)-Malaysia, Office Muslim Affair (OMA) –Philipines, Bahagian Kawalan Makanan Halal Jabatan Hal Ehwal Syariah Kementerian Hal Ehwal Ulama Negara Brunei Darussalam - Brunei Darussalam, The Central Islamic Comitte of Thailand (CICOT) – Thailand, Islamic Culture Center Kyushu (ICCKyu) – Japan, Taiwan Halal Integrity Development Association (THIDA) dan Jemaat Ulama E-Maharashtra (JUM) - India

JUga The Islamic Coordinating Council of Victoria (ICCV),Supreme Islamic Council of Halal Meat in Australia Inc. (SICHMA),The Adelaide Mosque Islamic Society of South Australian Inc.Australian Halal Food Services (AHFS),Global halal Trade Center Pty Ltd (GHTC Pty.Ltd),Australian Federation of Islamic Council Inc. (AFIC Inc.),Western Australian Halal Authority (WAHA).

Al Kautsar Halal Food and Inspection (AL KAHFI) dan The Federation of Islamic Association of New Zealand, Inc (FIANZ) -- New Zealand.

Sedang kawasan Eropa meliputi; Halal Food Council of Europe (HFCE),European Institute of Halal Certification (EHZ),The Grand Mosque of Paris,Halal Certification Services (HCS),The Muslim Religious Association of Poland (MRAP),Halal Quality Control - Netherlands,Instituto Halal De Junta Islamica (Halal Institute of Spain) – Spanyol, Halal International Authority (HIA),Total Quality Halal Correct (TQHC) - Netherlands

Juga Islamic Information Center of America (IICA),Islamic Service of America (ISA), American Halal Foundation (AHF), Halal Food Council USA (HFC USA) – Amerika Serikat.

Sebelum ini, dalam acara konferensi pers pembukaan Muslim World Business and Investment Zone 2012 (MWBIZ 2012) di Graha CIMB Niaga, Jakarta Selatan, Selasa kemarin (12/09/2012), Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) DKI Jakarta, Ir. Eddy Kuntadi sempat mengatakan, sertifikasi halal yang dikeluarkan MUI ternyata masih belum banyak diakui dunia. Kenyataannya, masih ada perusahaan Indonesia yang hendak melakukan ekspor justru memilih mengurus sertifikasi halal di Malaysia.

Namun pernyataan ini sudah dibantah Direktur LPPOM MUI, Lukmanul Hakim. Menurut Lukman, sebetulnya yang ditolak negara tersebut adalah bentuk labelnya (pada kemasan, red), bukan sertifikasi halalnya. Pemerintah Uni Emirat Arab (UEA) menurutnya mempermasalahkan adanya label sebuah produk makanan halal tanpa memberi tahu pada otoritas setempat.

“Setiap negara itu memiliki aturan tentang label halal, termasuk di Indonesia.Badan POM bahkan pernah menarik beberapa produk luar negeri karena terkait label halal,” papar Lukmanul.*

Sumber : Hidayatullah.com
Baca Selengkapnya - LPPOM: Sertifikasi Halal MUI Cukup Dipercaya di Timur Tengah

Kezuhudan Sang Gubernur

Posted by Wahdah Islamiyah Kolaka Kamis, 27 September 2012 18.53 0 komentar
Di Zaman pemerintahan Khalifah Umar Bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, ketika dia menjadi khalifah, pemimpin kaum muslimin, dia pernah mengangkat seorang gubernur bernama Sa’id Ibnu Amir di sebuah kota yang bernama Hims. Ketika Sa’id Ibnu Amir diangkat jadi Gubernur di kota tersebut, dia menyadari bahwa hal tersebut adalah amanah dari Allah beliau tidak menjadikan amanah tersebut untuk mendapatkan kemasyhuran apatah lagi untuk mendapatkan harta namun beliau menggunakan amanah tersebut untuk benar-benar bertaqarrub kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Suatu ketika ada beberapa oarang dari negeri Hims datang ke kota Madinah untuk bertemu dengan Khalifah Umar radhiyallahu ‘anhu. Umar kemudian berkata kepada mereka, “Coba tuliskan dan laporkan kepada saya nama-nama orang fakir dan orang miskin di kota Hims agar saya bisa mengirimkan zakat kepada mereka dari Baitul Mal untuk dibagikan orang-orang miskin.”

Lalu utusan itu menuliskan nama-nama orang miskin yang tinggal di negeri Hims dan diantara nama yang dituliskan dalam catatan tersebut adalah Sa’id Ibnu Amir, gubernur kota Hims. Ketika Umar membacanya, dia kaget lalu berkata mereka, “Siapakah Sa’id Ibnu Amir yang kalian tuliskan disini termasuk orang miskin?”. Mereka mengatakan, “ Itu adalah gubernur kami wahai amirul mukminin”

Lalu Umar bertanya lagi, “Subhanallah, Gubernur kalian adalah orang yang miskin?”

Mereka mengatakan, “Iya, wahai Amirul mukminin. Bahkan terkadang dapur beliau tidak mengepulkan asap karena tidak ada sesuatu yang dapat dimasak”

Mendengar berita tersebut, Umar radhiyallahu ‘anhu pun menangis. Dia lalu mengambil 1000 Dinar dari Baitul Mal lalu berkata “Bawalah bungkusan ini dan berikanlah kepada gubernur kalian sebagai hadiah”

Akhirnya utusan ini kembali ke negeri Hims dan menyampaikan amanah dari Umar radhiyallahu ‘anhu. Ternyata apa yang terjadi? Apa yang dilakukan oleh Sa’id Ibnu Amir ketika menerima hadiah uang yang begitu banyak yang halal? Dia jutru dia mengatakan “Inna lillahi wainna ilaihi raji’un”. Dia seakan-akan terkena musibah yang sangat dahsyat, sampai-sampai istrinya yang ada di dalam kamarnya mendengar suaminya mengatakan “Inna lillahi wainna ilaihi raji’un”, keluar menemui suaminya, dan bertanya “Apa yang terjadi? Apakah khalifah Umar meninggal Dunia?”

Dia lalu menjawab, “Bahkan musibah yang menimpa saya lebih besar dari itu wahai istriku. Sungguh dunia telah masuk kepadaku untuk merusak akhiratku.”

Lalu istrinya mengatakan, “Ini adalah sesuatu yang mudah, berlepaslah dari dunia tersebut”

Dan istrinya tidak tahu bahwa Amirul Mukminin telah mengirimkan kepadanya 1000 Dinar untuk Sa’id Ibnu Amir.

Akhirnya Sa’id Ibnu Amir berkata kepada istrinya, “Jika demikian, ambillah bungkusan ini lalu bagikan kepada masyarakat dan jangan sampai ada yang tersisa di rumah kita.”

Beberapa saat kemudian Khalifah Umar radhiyallahu ‘anhu berkesempatan untuk berkunjung ke negeri Hims, di mana Umar adalah pemimpin yang senantiasa berkeliling kota untuk melihat keadaan kaum muslimin. Dia mendatangi negeri Hims dan bertanya kepada masyarakat kota Hims tentang gubernur mereka Sa’id Ibnu Amir. Lalu mereka berkata “Kami cinta kepadanya, kami senang dengan Gubernur kami, namun kami tidak senang dalam tiga hal”

Umar kemudian mengumpulkan mereka bersama sang Gubernur mereka Sa’id Ibnu Amir untuk ditanya apakah yang tidak disenangi oleh masyarakat dari Sa’id Ibnu Amir. Umar lalu bertanya kepada mereka, “Coba sampaikan kepada saya apa yang kalian tidak senangi dari gubernur kalian.”

Mereka pun mengatakan, “Kami tidak menyenangi darinya yaa Amirul mukminin dalam tiga hal. Yang pertama adalah setiap hari dia tidak menjumpai kami kecuali setelah matahari meninggi.”

Umar lalu menoleh ke Sang Gubernur, “Apa jawaban anda? Mengapa anda tidak keluar menemui rakyat anda kecuali setelah matahari meninggi?”

Lalu sang Gubernur menjawab, ”Yaa Amirul Mukminin, sesungguhnya ini adalah sesuatu yang sangat saya rahasiakan, saya tidak mau ada yang mengetahui, namun karena anda yang bertanya maka saya akan menjawab, ketahuilah yaa Amirul Mukminin setiap harinya saya membantu istri saya di rumah membuat adonan tepung untuk dijadikan roti dan saya tidak memiliki pembantu di rumah yaa Amirul mukminin itulah yang membuat saya terlambat untuk keluar menemui rakyat saya.”

Umar kemudian bertanya lagi, “Apa hal yang kedua yang kalian tidak senangi dari Gubernur kalian?”

Mereka menjawab, “Dia tidak pernah menemui kami di malam hari yaa Amirul Mukminin, benar dia membantu kami, mengurus masalah-masalah kami dan mengurus kami di siang hari namun dia tidak menerima tamu di malam hari.”

Kemudian Umar bertanya lagi, “Apa jawaban anda wahai sang Gubernur?”

Lalu sang Gubernur menjawab, “Yaa Amirul mukminin, ini juga adalah sesuatu yang saya rahasiakan namun karena terpaksa, saya katakan, saya menjadikan siang saya untuk rakyat saya, adapun malam hari saya gunakan untuk beribadah kepada Tuhan saya.”

Kemudian Umar kembali bertanya kepada mereka , “Apa yang kalian tidak senangi darinya?”

Mereka mengatakan, “Dalam satu bulan terkadang dia tidak keluar dari rumahnya selama satu hari.”

Umar kembali bertanya, “Apa jawaban anda wahai sang Gubernur?”

Lalu sang Gubernur pun menjawab, “Yaa Amirul Mukminin, saya cuma memiliki sebuah baju dan pada hari itu saya mencucinya lalu saya tunggu sampai kering lalu setelah kering barulah saya menemui rakyat saya”

Umar kemudian menangis dan mengatakan, “Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang tidak menyia-nyiakan pilihan saya kepadamu Yaa Sa’id Ibnu Amir”.

Sumber: http://wahdahmakassar.org/2011/07/22/kisah-kezuhudan-sang-gubernur/#ixzz27j0iv6XS
Baca Selengkapnya - Kezuhudan Sang Gubernur

DMI dan Kemendikbud Sepakat Bangun PAUD Berbasis Masjid

Posted by Wahdah Islamiyah Kolaka 10.30 0 komentar
Mayoritas masjid di Indonesia, selama ini hanya digunakan untuk ibadah ritual saja. Tidak banyak masjid yang digunakan untuk beragam aktivitas selain ibadah, pendidikan misalnya. Ke depan masjid diharapkan menjadi basis bagi program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

Sekitar 10 persen dari 800.000 masjid yang ada di Indonesia pada 2013 ditargetkan memberikan layanan PAUD bagi masyarakat sekitar.

"Dengan memanfaatkan masjid untuk layanan pendidikan anak usia dini, berarti sejak dini sudah membiasakan anak mengenal masjid dan agamanya. Ditambah dengan program yang terstandar, masjid bisa berperan menyiapkan generasi muda yang lebih baik. Potensi yang ada di masjid perlu disinergikan dengan program pemerintah, terutama PAUD," kata Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI), Jusuf Kalla, seusai bertemu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh di Jakarta, Rabu (26/9/2012).

Kalla mengatakan, DMI dan Kemdikbud sepakat membangun PAUD berbasis masjid. "Memang sudah ada masjid yang mengembangkan PAUD. Sekitar 50 persen masjid yang ada sebenarnya memenuhi syarat untuk jadi PAUD. Kami hanya ingin mendorong lagi, minimal 10 persen siap tahun 2013 nanti," papar Kalla.

Nuh menyambut baik inisiatif Dewan Masjid Indonesia mendukung layanan PAUD bagi 30 juta anak usia dini. Pada tahun 2015, pemerintah menargetkan 75 persen anak usia dini di Indonesia menikmati layanan PAUD," katanya.

Menurut Nuh, pemanfaatan rumah ibadah untuk mendukung PAUD akan dikembangkan dengan pemuka agama lain, baik di gereja maupun pura.

"Untuk mendirikan PAUD tidak terlalu sulit karena infrastrukturnya bisa sederhana. Tutor juga bisa dari masyarakat. Tinggal kami bantu penyiapannya. Pemanfaatan rumah ibadah untuk PAUD tentu strategis. Sebab, nilai-nilai keagamaan bisa diperkenalkan sejak dini secara terprogram," kata Nuh.

sumber : Suara Islam
Baca Selengkapnya - DMI dan Kemendikbud Sepakat Bangun PAUD Berbasis Masjid

Gerilyawan MILF Akan Tandatangani Perjanjian Damai Dengan Pemerintah Filipina

Posted by Wahdah Islamiyah Kolaka Rabu, 26 September 2012 10.30 0 komentar
Konflik puluhan tahun yang melibatkan komunitas Muslim Filipina dan pemerintah tak lama lagi segera berakhir. Kedua belah pihak bermufakat segera mencapai kesepakatan damai tahun ini.

"Insya Allah, kami percaya 85 persen perjanjian damai akan ditandatangani," ungkap Ketua tim lobi, Front Pembebasan Islam Moro (MILF), Mohagher Iqba, seperti dikutip AFP, Selasa (25/9).

Iqba menyatakan perjanjian itu akan diumumkan awal bulan depan setelah dialog di Kuala Lumpur, Malaysia. Ketua tim lobi Pemerintah Filipina, Marvic Leonen mengatakan perjanjian itu merupakan fondasi proses perdamaian.

Peta damai itu akan melahirkan kawasan otonomi yang lebih luas di Mindanao. "Tentu ada pembagian kekuasaan antara pemerintah dan MILF," kata dia.

Pada masa pemerintahan Presiden Gloria Macapagal Arroyo, kedua belah pihak sepakat MILF akan telah diberikan kontrol atas 700 kota dan desa. Namun, Mahkamah Agung memutuskan kesepakatan itu inkonstitusional.

Kali ini, pemerintah memastikan ada kepastian hukum sehingga kegagalan perjanjian pada 2008 tidak terulang. "Kami akan mempertahankan perjanjian ini," kata Leonen mengakhiri. [mzf]

sumber : Muslidaily.net
Baca Selengkapnya - Gerilyawan MILF Akan Tandatangani Perjanjian Damai Dengan Pemerintah Filipina

Hati-hati Menjaga Suami

Posted by Wahdah Islamiyah Kolaka Selasa, 25 September 2012 18.03 0 komentar
Kata Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam, wanita itu ujian terbesar dan terberat bagi laki-laki. Karenanya tidak banyak yang bisa selamat. Muara dari kegagalan seorang lelaki menghadapi ujian ini memang zina, tapi itu benar-benar yang paling ujung. Tidak semua orang terseret hingga ke muara. Ada yang hanya hanyut hingga beberapa jengkal, ada pula yang cuma kecipak-kecipik di pinggiran atau hanya memandang dengan tatapan berhasrat dari kejauhan.

Ujian itu terasa kian berat karena ternyata Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam tak menyebutkan batasan umur bagi para lelaki yang bakal menghadapi ujian itu. Pada kenyataanya memang begitu. Godaan ini akan tetap berefek bukan hanya pada pemuda yang masih perkasa, tapi juga pada kakek-kakek yang bahkan mengunyah pun susah rasanya. Tingkat pengaruhnya bisa jadi memang tidak sama, tapi efeknya masih tetap terasa.

Tidak heran jika Said bin al Musayib, seorang Ulama yang merupakan murid para shahabat, pada umurnya yang sudah renta masih mengeluhkan beratnya godaan wanita. Beliau berkata, “Tidak ada sesuatu yang lebih aku takuti melebihi -godaan- perempuan.”

Selain tak mengenal batasan umur, godaan ini juga memiliki pengaruh yang sama meski ada beberapa faktor yang seharusnya bisa menghalanginya; menikah dan ilmu agama. Memang benar, Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam juga bersabda bahwa menikah akan membuat seseorang lebih terjaga. Hanya saja, sifatnya hanya sebagai solusi agar lelaki bisa lebih mampu menahan diri. Bukan jaminan bahwa dengan menikah seseorang akan terbebas dari fitnah wanita sama sekali. Semuanya kembali pada diri sendiri, apakah mau memanfaatkan pagar yang dibuatkan syariat, atau tetap berkeinginan melompatinya, menuruti hasrat yang dipancing oleh setan dari kejauhan.

Ilmu agama pun demikian. Ahli ibadah dan paham agama bukanlah kategori yang tidak disertakan dalam ujian ini. Justru bisa jadi muatan ujian yang dibawa jauh lebih besar. Andai saja dengan status ustadz atau kyai seseorang tidak lagi diincar setan dengan panah godaan yang satu ini, alangkah beruntungnya para pemilik status ini. Tapi nyatanya tidak seperti itu. Sahmul Iblis yang satu ini tetap akan ditembakkan kepada siapapun, termasuk kepada ahli ibadah dan orang berilmu. Ironis memang, tapi begitulah kenyataannya.

Makanya jangan heran jika banyak terjadi kasus, seorang lelaki sudah beristri dan terlihat paham agama masih tergoda dengan wanita lain. Ada yang sampai berzina, ada pula yang hanya menjalin hubungan mesra atau sekadar suka meski tak disertai ungkapan dalam bentuk apa-apa. Semoga Allah melindungi kita.

Harap jangan dipahami bahwa fitnah wanita gambarannya melulu seperti ini; si lelaki pasif lalu ada wanita yang datang menggoda, memamerkan auratnya lalu mengajak berzina. Godaan frontal nan sporadis semacam ini bisa jadi malah membuat lelaki ngeri. Fitnah itu bisa muncul dan menimbulkan semacam korsleting di hati seorang lelaki meski hanya melalui pandangan, padahal si wanita tak berbuat apa-apa bahkan mungkin tidak menyadarinya. Karenanya bisa saja anda tiba-tiba dilabrak isteri teman kantor anda, teman satu organisasi atau bahkan isteri dari guru anda di sekolah gara-gara suaminya suka menulis nama anda di buku diarinya dan anda dituduh menjadi selingkuhannya, misalnya. Anda tidak pernah menggoda,memberi sinyal atau apapun. Kemungkinan ‘kesalahan’ anda cuma satu, wajah anda menarik.Yah,begituah fitnah wanita terjadi pada lelaki. Suatu reaksi unik yang sangat sulit dirumuskan atau sekadar diungkapkan.

Karenanya, hendaknya anda berhati-hati terutama yang sudah punya suami. Jagalah suami anda. Pasalnya, jika panah iblis yang satu ini sudah kadung menancap, bukan hal mudah untuk mencabutnya. Bicara soal ‘menjaga suami” yang terbayang di benak anda barangkali adalah anda akan mencintainya sepenuh hati agar dia juga cinta kepada anda sepenuh hati, melaksanakan kewajiban sebagai isteri semaksimal mungkin, bersolek dan menjaga kecantikan jasadiyah, memberi kejutan-kejutan mesra dan selalu menyediakan menu yang lezat menggoda selera. Tidak salah. Itu langkah kauniyah yang memang harus anda lakukan. Tapi jangan lupa, panah yang ini menancap di hati, tempat yang sangat rahasia yang anda tidak akan pernah mampu menjamahnya.Kenyataanya, bukankah masih ada suami yang tetap tergoda walaupun isterinya, dari segala sisi nyaris sempurna?

Karenanya, untuk urusan hati yang kita tidak akan pernah menguasai milik orang lain, mintalah penjagaan kepada sang Pencipta. Dzat yang menggegam dan membolak-balikkan hati manusia. Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya hati-hati anak Adam berada di antara kedua jemari dari jemari ar Rahman yang Dia putarbalikan sekehendak-Nya.”(HR.Muslim)

Mintalah kepada Allah agar menjaga hati suami anda dari fitnah wanita. Untuk ini memang tidak ada haditsnya atau lafaz doa yang khusus. Tapi dalam berdoa, kita tidak dibatasi hanya boleh meminta sesuatu yang ada dalam lafadz doa yang ada haditsnya, bukan? Jadi berdoalah, memohonlah meski dengan bahasa Indonesia. Masukkan item permohonan ini dalam deretan permintaan anda yang berisi permohonan ampunan, rezeki yang lapang dan keturunan yang shalih lagi berjiwa pejuang. Mintalah, semoga Allah mengabulkan. Wallahua’lam. (aviv)

Sumber: http://wahdahmakassar.org
Baca Selengkapnya - Hati-hati Menjaga Suami

Wanita Lebih Diuntungkan Ketika Khamar Diharamkan

Posted by Wahdah Islamiyah Kolaka 17.57 0 komentar
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Aku pernah menyuguhi Abu Ubaidah, Abu Thalhah, dan Ubay bin Ka’ab dengan tuak dan kurma. Kemudian ada orang yang datang dan mengatakan, “Sesungguhnya khamar telah diharamkan.” Lalu Abu Thalhah berkata, “Berdirilah hai Anas, lalu tumpah¬kanlah (khamr) itu.” Maka aku pun menumpahkannya. (HR. Bukhari)
Dari Aisyah, Ummul Mukminin radhiyallahu ‘anha, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang tuak madu, lalu beliau bersabda, “Setiap minuman yang memabukkan adalah haram.” (HR. Bukhari)

Penjelasan Hadits:
Dua Hadits ini adalah bagian dari hadits-hadits yang mempertegas pengharaman khamr yang dinyatakan oleh Allah di dalam firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, sesungguh-nya khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah adalah termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al-Maidah:90)

Saya memasukkan dua hadits ini ke dalam kumpulan Hadits-hadis tentang wanita di dalam kitab Shahih Bukhari dan atau Shahih Muslim, karena wanita berada di bagiaan terdepan di antara orang-orang yang mendapatkan keuntungan dari adanya pengharaman khamr, dan menjadi pihak yang paling dirugikan ketika khamr diperbolehkan.

Kerugian yang diderita kaum wanita – akibat khamr- ada dua sisi: (1) kerugian yang langsung di alami oleh wanita, dari segi kesehatan, kejiwaan, dan sosial-kemasyarakatan, dan (2) kerugian tidak langsung yang ditularkan oleh suaminya dan juga hal-hal tidak menyenangkan yang dilakukan oleh para suami -yang berada di bawah pengaruh khamr yang membuatnya kehilangan akal sehat- terhadap para wanita di sekitarnya.

Kita mulai dari kerugian yang langsung dialami oleh wanita dan janinnya akibat khamr. Studi dan penelitian ilmiah tentang khamr sudah banyak dilakukan. Di antaranya ialah apa yang dipublikasikan oleh Majalah An-Yabd versi Inggris tentang cacat pada janin yang dikandung oleh wanita pecandu khamer. Penelitian itu menyebutkan bahwa 44% anak yang lahir dari ibu pecandu khamr mengalami keterbelakangan intelektual permanen, dan 17% di antaranya meninggal sebelum lahir.

Topik ini mulai mendapat perhatian serius menyusul ditemukannya data statistik di Prancis yang menunjukkan adanya 127 anak cacat yang lahir dari ibu pecandu alkohol. Kemudian para peneliti menuntut perlunya larangan hamil bagi wanita pecandu alkohol, bahkan menuntut dilakukannya aborsi terhadap pecandu yang kedapatan hamil.

Penelitian-penelitian yang dilakukan oleh Universitas Washington dan Universitas Cali-fornia di Amerika Serikat menegaskan bahwa para wanita pecandu khamr melahirkan anak-anak yang cacat mental dan fisik, serta menderita penyakit yang kronis.
Penelitian itu juga menyebutkan bahwa para ibu pecandu khamr mengalami kekurangan darah (anemia), infeksi lambung, kerusakan liver, infeksi kelenjar pankreas, dan kegilaan. (Risalah ila Hawa’, Muhammad Rasyid Al-Uwayyid, Al-Majmu’ah Al-Kamilah, hal.82-83).

Adapun kerugian yang dialami wanita akibat laki-laki pecandu khamr sangat banyak. Di sini saya cukup menyebutkan angka-angka sebagai berikut:

95% kasus kekerasan berhubungan dengan konsumsi khamr. Jika setengah dari korbannya adalah wanita, maka kurang lebih 42% dari korban kekerasan yang diakibatkan oleh konsumsi khamr adalah wanita.

20% kecelakaan lalu lintas yang fatal disebabkan pengaruh khamr yang mendatangkan halusinasi pandangan mata dan ketidak mampuan untuk mengendalikan kemudi. Atau menyebabkan seseorang tertidur, pusing kepala, kehilangan kesadaran, kehilangan konsentrasi, atau kehilangan rasionalitas.

35% kasus pemerkosaan terhadap wanita disebabkan konsumsi khamr.

33% kasus perceraian per tahun mengacu kepada problem kejiwaan clan kegagalan dalam mempertahankan keharmonisan rumah tangga yang diakibatkan oleh konsumsi khamr yang berlebihan. (Jaridah As-Siyasah Al-Kuwaitiyah, ediai 9690,22/6/1416H.-15/11/1995M.)

Disalin dari buku “Aku Tersanjung” (Kumpulan Hadits-hadits Pemberdayaan Wanita dari Kitab Shahih Bukhari & Muslim Berikut Penjelasannya), Karya Muhammad Rasyid al-Uwayyid.

Sumber: http://wahdahmakassar.org
Baca Selengkapnya - Wanita Lebih Diuntungkan Ketika Khamar Diharamkan

Menyikapi Penghinaan terhadap Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam

Posted by Wahdah Islamiyah Kolaka 17.46 0 komentar
Ulama senior di Kerajaan Saudi Arabia, sekaligus anggota Al Lajnah Ad Daimah (komisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia), Syaikh Prof.Dr. Sholih bin Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan mendapatkan pertanyaan dalam kajian harian beliau di daerah Malaz Riyadh, “Fadhilatusy Syaikh –waffaqakumullaah-. Pertanyaan yang masuk saat ini banyak sekali. Di antaranya, ada yang bertanya tentang bagaimana nasehat Anda bagi para penuntut ilmu dan juga selain mereka tentang apa yang terjadi saat ini berkaitan dengan film yang menghina Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apa wejangan Anda dalam hal ini?”

Beliau hafizhohullah menjawab,

Nasehat kami dalam hal ini adalah hendaknya kita tetap tenang dan tidak mengingkari hal ini dengan cara-cara (yang keliru) seperti dengan melakukan demonstrasi, menzholimi orang-orang yang tidak memiliki keterkaitan dengan hal ini, atau sampai merusak harta benda (orang lain). Ini adalah cara-cara yang tidak diperbolehkan. Yang wajib untuk membantah mereka sebenarnya adalah para ulama, bukan orang awam. Para ulamalah yang berhak membantah dalam perkara-perkara ini. Hendaknya kita senantiasa tenang.

Orang-orang kafir sebenarnya ingin mengganggu kita serta memancing amarah kita. Ini yang mereka inginkan. Mereka juga ingin agar kita saling membunuh. Aparat keamanan berusaha menghalang-halangi, sedangkan yang lain (para demonstran muslim) berusaha menyerang, sehingga terjadilah pemukulan, pembunuhan, dan banyak yang terluka. Mereka menginginkan hal ini. Hendaknya kita senantiasa tenang dan bersikaplah tenang. Yang berhak untuk membantah mereka adalah orang-orang yang memiliki ilmu dan bashirah, atau hendaknya mereka tidak perlu dibantah. Orang-orang yang membantah mereka juga tidak boleh disamaratakan.
Ingatlah, dahulu orang-orang musyrik berkata terhadap Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Penyihir, dukun, pendusta” dan perkataan hinaan lainnya. Namun, Allah memerintahkan Rasul-Nya untuk bersabar. Kaum muslimin ketika itu tidak melakukan demonstrasi di Mekkah, tidak menghancurkan sedikit pun dari rumah-rumah kaum musyrikin, juga tidak membunuh seorang pun. Sabar dan tenanglah sampai Allah Subhanahu wa Ta’ala memudahkan jalan keluar bagi kaum muslimin.

Yang wajib dilakukan adalah tenang, khususnya saat ini, di saat munculnya banyak teror dan kejelekan di negeri-negeri kaum muslimin. Wajib untuk tenang dan tidak tergesa-gesa dalam masalah-masalah semacam ini. Orang-orang awam tidaklah pantas untuk menghadapinya. Mereka bodoh, tidak memahami hakikat masalah. Tidak boleh menghadapi masalah ini kecuali orang yang memiliki ilmu dan bashirah. Na’am.

[Fatwa -Syaikh Dr. Sholih Al Fauzan- dalam sesi tanya jawab kajian kitab Al Muntaqo di Masjid Jaami’ Mut’ib bin ‘Abdul ‘Aziz, Malaz, Riyadh, KSA hari Sabtu, 28 Syawal 1433 H

Sumber: www.wahdahmakassar.org
Baca Selengkapnya - Menyikapi Penghinaan terhadap Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam

Kemarahan Yang Bijak Terhadap Film Penghina Rasulullah

Posted by Wahdah Islamiyah Kolaka Kamis, 20 September 2012 14.30 0 komentar
إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا ، من يهده الله فلا مضل له ، ومن يضلل فلا هادي له ، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله ،

{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ }
{ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا }
{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا}

Kaum muslimin rahimakumullah,
Siapakah di antara kita yang tidak mencintai Rasulullah?
Siapakah di antara kita yang tidak mau berkorban demi membela Rasulullah?
Kita semua yakin, bahwa setiap jiwa dan qalbu yang menyimpan kepada Allah dan Hari Akhir, pasti juga menyimpan kecintaan yang mendalam kepada sang pembawa ajaran Allah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Kita mencintai beliau, karena mencintainya juga berarti mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala.
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Katakanlah: jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Dan Allah itu Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (Ali Imran: 31)
Kita mencintai beliau, karena kita yakin bahwa beliau adalah sang pembawa ajaran kebaikan paripurna. Kita yakin bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mungkin mengajarkan keburukan kepada umat manusia.
Kita mencintai beliau, karena kita tahu bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia terbaik yang pernah ada di mayapada ini. Kehidupannya dipenuhi dengan kebaikan, dan hanya dipenuhi keluhuran dan kemuliaan.
Ia mengajarkan bagaimana memuliakan Sang Pencipta diri ini dengan seharusnya.
Ia mengajarkan bagaimana memuliakan sesama manusia, bahkan bagaimana memperlakukan makhluk ciptaan Allah yang lainnya. Ia mengajar kita bagaimana memuliakan dan menghargai perempuan secara benar. Ia mengajar kita bagaimana membelai rambut anak kita penuh kasih. Ia mengajar kita memuliakan tamu dan tetangga. Ia mengajar kita bagaimana menjaga hak orang-orang kafir yang telah menyatakan siap untuk menghormati dan menjaga hak-hak kaum muslimin. Ia mengajarkan kita untuk membela dan menolong yang lemah. Ia mengajarkan kita untuk selalu berani melawan dan menghadapi kezhaliman.
Sungguh, ia mengajarkan kepada kita –bahkan kepada seluruh umat manusia- bagaimana hidup sebagai manusia mulia dan terhormat.
Itulah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam! Bahkan semua itu, baru menggambarkan secuil kecil kemuliaannya.

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah!
Tapi dengan semua kemuliaan itu, mengapa masih saja ada manusia yang membenci beliau, bahkan menumpahkan kebenciaannya begitu rupa melalui film seperti yang kita dengarkan belakangan ini?
Jawabannya adalah firman Allah Ta’ala:
وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ
“Dan demikianlah, Kami (Allah) telah menetapkan setiap Nabi itu (selalu) mempunyai musuh dari kalangan syetan manusia dan jin…” (al-An’am: 112)
Penyebab lainnya adalah karena mereka sama-sekali tidak mengenal Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dengan sebenarnya. Dan karena itu, kita hanya ingin mengatakan kepada mereka:
“Tuan-tuan!! Andai kalian mengenal Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sebenarnya, maka kalian pasti akan mencintainya! Jiwa-jiwa kalian tidak akan punya pilihan selain mencintai dan terus mencintainya hingga akhir hayat kalian!”
Karena itu, melalui mimbar Jum’at yang mulia ini, kita menitipkan dan mengirimkan pesan Allah berikut ini kepada mereka dan siapa pun yang secara sadar maupun tidak sadar telah menyakiti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَاباً مُّهِيناً
“Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan RasulNya, Allah pasti akan melaknat mereka di dunia dan akhirat, dan Ia akan menyiapkan adzab yang menghinakan untuk mereka.” (al-Ahzab: 57)
وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ رَسُولَ اللّهِ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
“Dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah itu bagi mereka adzab yang menyakitkan.” (al-Taubah: 61)

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah!
Tentu saja kita semua wajib marah terhadap penghinaan tersebut. Kemarahan kita adalah bukti bahwa masih ada iman di dalam jiwa kita. Kemarahan juga menjadi bukti bahwa kita mencintai Allah dan RasulNya. Karena itu, kita patut memberikan apresiasi kepada kaum muslimin di penjuru dunia yang telah menunjukkan kemarahan itu. Agar dunia tahu, bahwa kita kaum muslimin mencintai perdamaian, tapi tidak akan membiarkan kehormatan kita diinjak-injak oleh siapa pun.
Justru kita harus prihatin jika hati dan jiwa kita sama sekali tidak bereaksi terhadap penghinaan tersebut. Jika ternyata hati dan jiwa kita lebih asyik mengikuti gosip infotainment, atau info gadget terbaru, daripada merespon penghinaan terhadap Rasulullah ini. Jika sudah begitu kondisinya, maka pertanyakanlah kepada diri kita sendiri: “Sebenarnya saya masih beriman atau tidak? Apakah di dalam dada saya masih ada iman atau tidak?”
Tentu saja kemarahan kita bukan kemarahan yang merusak. Kemarahan kita tidak akan membuat kita menyakiti orang-orang yang tidak bersalah. Kemarahan kita adalah kemarahan yang sejalan dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya.
Ingatlah, bahwa sebab utama kebencian mereka kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah karena mereka tidak mengenal beliau dengan benar. Karena itu, kemarahan ini seharusnya mendorong dan memotivasi kita semua untuk bergerak dan berperan menjadi agen-agen yang memperkenalkan Rasulullah kepada dunia!
Momentum ini seharusnya menjadi kesempatan emas kita untuk menyebarkan semua kebaikan yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Gunakan blog, facebook, twitter, dan media apapun yang Anda miliki untuk misi ini: misi menyebarkan sosok pribadi dan ajaran mulia Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam!
Beginilah cara kita menunjukkan kemarahan kita. Kemarahan yang akan selalu melekat bersama keimanan kita. Kemarahan yang membuat kita berkata kepada mereka: “Andai kalian mengenal Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan benar, maka kalian pasti akan mencintainya!”

KHUTBAH KEDUA
Kaum muslimin rahimakumullah!
Kemarahan kita terhadap penghinaan atas diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini juga seharusnya membuat kita bertanya dengan jujur kepada diri kita sendiri: “Apakah aku sendiri telah benar-benar mengenal Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam? Bagaimanakah kisah kehidupannya? Apa saja ajaran-ajaran mulianya?”
Kemarahan ini seharusnya diawali dengan upaya kita sendiri untuk lebih mendalami tentang kekasih kita ini, dan juga mendalami sunnah-sunnah yang diwariskannya kepada kita. Jangan sampai kita marah kepada orang lain, lalu melupakan bahwa kita sendiri sebenarnya belum terlalu mengenal sosok dan ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan baik.
Karena itu, buktikanlah kemarahan itu dengan memulainya pada diri sendiri. Lalu kepada keluarga kita, kemudian kepada orang-orang yang di sekeliling kita.
Inilah saatnya untuk memulai gerakan “Mengenal Rasulullah dan Sunnahnya”!
Semoga Allah memberkahi semua kemarahan dan usaha perjuangan kita. Amin.
Baca Selengkapnya - Kemarahan Yang Bijak Terhadap Film Penghina Rasulullah

Hari Pertama Dauroh Imam Diakhiri Dengan Penyerahan Juara Musabaqah Hifdzhul Qur’an

Posted by Wahdah Islamiyah Kolaka Rabu, 12 September 2012 20.30 0 komentar
Departemen Dakwah Dewan Pimpinan Daerah Wahdah Islamiyah Kolaka menggelar Dauroh Imam dengan tema “Petunjuk Nabi Dalam Imam Shalat”. Yang menjadi pemateri (penceramah) dalam dauroh ini adalah Ustadz Harman Tajang, Lc. Kegiatan ini dilaksanakan selama dua hari yakni hari rabu dan kamis (12 dan 13 September 2012) yang bertempat di Masjid An Nur Kolaka.

Dalam ceramahnya Ustadz Harman secara terperinci menyampaikan tentang kriteria-kriteria untuk menjadi imam di hadapan ± 100 orang jamaah (termasuk muslimah). Sebelum Ustadz Harman mengakhiri ceramahnya yang kurang lebih selama satu jam lamanya. Beliau yang juga merupakan salah satu tim Dewan Hakim/Juri pada Musabaqah Hifdzhul Qur’an yang dilaksanakan di Makassar, kemudian menyerahkan hadiah kepada para juara dan peserta yang berasal dari Kolaka yang sempat tertunda diberikan pada saat di Makassar.

DPD Wahdah Islamiyah Kolaka mengirimkan 4 orang peserta untuk tingkat hafalan 1 juz (juz 30). Dan alhamdulillah, tiga diantaranya mendapatkan gelar juara. Juara yang didapatkan adalah juara 3, juara harapan 1 (juara lima), dan juara harapan 5 (juara sepuluh). Dah hadiah yang yang didapatkan oleh para juara dan peserta tersebut adalah berupa sertifikat, uang tunai, dan hadiah menarik lainnya.

Peserta (utusan DPD Wahdah Islamiyah Kolaka) yang mengikuti Musabaqah Hifdzhul Qur’an:
1. Muhammad Fadli (Juara 3)
2. Hanif Abdullah (Juara Harapan 1)
3. Sabri Yusuf Juniar (Juara Harapan 5)
4. Ammar bin Ansyar (Urutan 12 dari 13 peserta)
Baca Selengkapnya - Hari Pertama Dauroh Imam Diakhiri Dengan Penyerahan Juara Musabaqah Hifdzhul Qur’an

Tafsir Surah Al Fatihah (Pengantar)

Posted by Wahdah Islamiyah Kolaka Senin, 10 September 2012 18.42 0 komentar
Seharusnya tidak ada seorang muslim pun yang tidak mengenal surah ini. Setidaknya bila seorang muslim 'hanya' menjaga shalat lima waktunya saja, hampir bisa dipastikan ia akan mengulangi surah ini sebanyak 17 kali dalam sehari semalam. Belum lagi bila ia tidak sekedar mengerjakan shalat yang fardhu.
Belum lagi bila ia tidak sekedar mengerjakan shalat yang fardhu. Tentu pengulangan terhadap surah ini akan lebih sering terjadi. Namun ternyata seringnya pengulangan itu tidak serta merta menunjukkan adanya peningkatan pemahaman terhadap surah ini. Berikut ini beberapa penjelasan sederhana sep utar surah ini. Semoga saja dapat memberikan pencerahan baru bagi shalat-shalat kita sehari-hari. Agar shalat-shalat itu tidak berlalu begitu saja, tanpa kita memahami sedikitpun dzikir dan do'a yang kita lantunkan di dalamnya.

Nama-nama Surah Al Fatihah
Ada beberapa nama yang sering digunakan untuk surah ini, diantaranya adalah :
  1. Al Fatihah , yang berarti sang pembuka. Nama ini tentu saja sesuai dengan fungsi surah ini sebagai surah pembuka baik dalam mushhaf Al Qur'an dan juga dalam shalat.
  2. Ummul Kitab . Penamaan ini didasarkan kepada salah satu hadits Nabi saw yang menyatakan : "Alhamdulillahi rabbil 'alamin adalah 'ummul Qur'an', 'ummul Kitab'…" (HR. At Tirmidzy dengan sanad yang shahih). Mengapa surah Al Fatihah dinamakan ummul Kitab ? Ada beberapa pandangan di kalangan para ulama tentang hal ini. (1) Imam Bukhari misalnya –sebagaimana yang beliau sebutkan dalam awal Kitab Tafsir dalam Shahih Bukhari bahwa penamaan itu dikarenakan surah Al Fatihah yang per tama kali ditulis dalam mushhaf dan yang pertama kali dibaca dalam shalat. (2) Sebagian ulama yang lain memandang bahwa penamaan Al Fatihah dengan ummul Kitab disebabkan karena seluruh makna kandungan Al Qur'an itu kembali kepada makna yang terkandung dalam surah ini. Ibn Jarir Ath Thabary misalnya menguraikan hal ini berdasarkan pengertian kata umm secara bahasa. Beliau menjelaskan bahwa bangsa Arab menyebut setiap sesuatu yang mengumpulk an atau yang dikedepankan dalam suatu perkara dengan sebutan umm. Panji pasukan dalam peperangan disebut umm karena seluruh prajurit bersatu di bawahnya. Begitu pula kulit kepala yang 'mengumpulkan' dan menghimpun otak manusia, dalam bahasa Arab disebut dengan istilah umm .
  3. As Sab'u Al Matsany . Artinya "tujuh ayat yang sering diulang-ulang". Tentu saja ini sangat berkaitan erat dengan seringnya surah Al Fatihah yang berjumlah tujuh ayat ini diulang dalam keseharian seorang muslim. Nama ini sendiri disebutkan dalam beberapa hadits Nabi saw, seperti : "Dia itu adalah 'ummul Qur'an', dia itu adalah pembuka AlKitab, dan dia itu adalah 'as sab'u al matsany'." (HR. Ath Thabary dari Abu Hurairah –radhiallahu 'anhu-). Tidak hanya itu, bahkan nama ini disebutkan pula dalam salah satu ayat Al Qur'an : "Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al Qur'an yang agung ." (Al Hijr : 87)
  4. Al Hamd. Yang berarti pujian. Sebabnya jelas karena surah ini diawali dengan pujian (Al Hamd) kepada Allah Azza wa Jalla.
  5. Ash Shalat . Nama ini didasarkan pada sebuah hadits qudsi yang cukup terkenal yang menunjukkan keutamaan surah ini. Dalam hadits itu, Allah Ta'ala berfirman : "Aku telah membagi 'Ash Shalat' (yaitu Al Fatihah yang dibaca dalam shalat) menjadi dua bagian antara Aku dengan hambaKu…" (HR. At Tirmidzy). Ibn Katsir menyatakan bahwa surah Al Fatihah dinamakan juga Ash Shalat karena ia menjadi rukun sahnya shalat.
  6. Ar Ruqyah. Hal ini didasarkan pada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Sa'id Al Khudriy –radhiallahu 'anhu- ketika beliau meruqyah (mengobati dengan membacakan ayat atau do'a yang ma'tsur ) seseorang dengan membaca surah Al Fatihah, maka Nabi saw mengatakan : "Bagaimana engkau tahu bahwa (surah ini) adalah ruqyah ?" (HR. Bukhari).
Itulah beberapa nama dari surah Al Fatihah. Nama-nama itu setidaknya menjelaskan kepada kita beberapa fungsi dan keutamaan dari surah ini.

Keutamaan Surah Al Fatihah
Ibn Katsir –rahimahullah- menyebutkan beberapa hadits yang menunjukkan keutamaan surah ini. Di antaranya adalah sebagai berikut :

  1. Abu Sa'id ibn Al Mu'alla –radhiallahu 'anhu- pernah bercerita : "Aku pernah mengerjakan shalat, lalu Rasulullah saw memanggilku. Namun aku tidak segera memenuhinya hingga aku selesai mengerjakan shalat. Lalu kemudian aku mendatangi beliau. Beliau berkata : "Apa yang menghalangimu untuk memenuhi panggilanku ?". Aku menjawab : "Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya sedang mengerjakan shalat." Beliau lalu berkata : "Bukankah Allah Ta'ala telah mengatakan : 'Wahai sekalian orang-orang beriman, penuhilah panggilan Allah dan RasulNya bila ia memanggil kalian untuk sesuatu yang menghidupkan kalian' ?", lalu beliau berkata : "Sungguh aku akan mengajarimu sebuah surah yang paling agung dalam Al Qur'an sebelum engkau keluar dari mesjid." Beliau lalu memegang tanganku. Hingga ketika beliau ingin keluar dari mesjid, aku berkata pada beliau : "Wahai Rasulullah, bukankah engkau telah mengatakan bahwa engkau akan mengajariku sebuah surah yang paling agung dalam Al Qur'an ?" Beliau menjawab : "Iya, (surah itu adalah) Alhamdulillahi rabbil 'alamin. Ia adalah as sab'u al matsany dan Al Qur'an agung yang diberikan kepadaku." (HR. Bukhari dan Ahmad).
  2. Ibn 'Abbad –radhiallahu 'anhuma- pernah berkisah : "Pada suatu ketika Rasulullah saw bersama dengan Jibril. Lalu tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari langit. Maka Jibril menengadahka pandangannya ke langit, lalu berkata : 'Itu adalah salah satu pintu langit yang dibuka yang sebelumnya belum pernah dibuka'. Lalu malaikat itu mendatangi Nabi saw, lalu berkata : 'Bergembiralah dengan dua cahaya yang diberikan kepadamu dan belum pernah diberikan kepada seorang nabi pun sebelummu ; yaitu Fatihah Al Kitab dan ayat-ayat penutup surah Al Baqarah. Tidaklah engkau membaca sau hurufpun dari keduanya melainkan engkau akan diberi." (HR. Muslim dan An Nasa'iy)
  3. Hadits Abu Hurairah –radhiallahu 'anhu- dari Rasulullah saw yang bersabda : "Barang siapa yang mengerjakan shalat dan tidak membaca Ummul Qur'an maka shalatnya terputus tidak sempurna –beliau mengulanginya sebanyak tiga kali-." (HR. Muslim). Setelah menyampaikan hadits ini, Abu Hurairah ditanya : "Tetapi kami berada di belakang imam." Ia menjawab : "Bacalah dalam hatimu, sebab sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda : "Allah Azza wa Jalla berfirman : 'Aku telah membagi shalat (maksudnya surah Al Fatihah) menjadi dua bagian antara Aku dan hambaKu. Dan hambaKu akan mendapatkan apa yang ia minta. Maka apabila ia mengucapkan 'Alhamdulillahi rabbil 'alamin', Allah pun berkata : 'H ambaKu telah memujiKu'. Dan bila sang hamba mengucapkan 'Ar Rahmanirrahim' maka Allah pun berkata : 'HambaKu telah menyanjungKu'. Maka bila sang hamba membaca 'Maliki yaumiddin', Allah pun berkata : 'HambaKu telah mengagungkanKu'. Dan terkadang Ia mengatakan : 'HambaKu telah menyerahkan urusannya kepadaKu'. Dan tatkala sang hamba mengucapkan : 'Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in', Allah berkata : 'Inilah batas pembagi (surah Al Fatihah) antara Aku dan hambaKu, dan untuk hambaKu apa yang ia minta. Maka bila sang hamba membaca 'Ihdinashshirathal mustaqim, Shiratalladzina an'amta 'alaihim ghairil maghdhubi 'alaihim wala-dhdhallin' , Allah berkata : 'Ini adalah untuk hambaKu, dan untuknya apa yang telah ia minta'. (HR. Muslim dan An Nasa'iy).

Kewajiban Membaca Al Fatihah dalam Shalat
Dari beberapa hadits yang telah disebutkan di atas kita dapat menyimpulkan bahwa membaca Al Fatihah dalam shalat adalah sebuah keharusan. Dan para ulama telah menyepakati dan berijma' terhadap hal itu. Kewajiban ini semakin dipertegas lagi oleh sabda Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh 'Ubadah ibn Ash Shamit –radhiallahu 'anhu- : "Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Fatihah Al Kitab." (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah –radhiallahu 'anhu-, Rasulullah saw bersabda : "Tidak sah shalat yang tidak dibacakan di dalamnya Ummul Qur'an." (HR. Ibn Khuzaimah dan Ibn Hibban).

Itulah sebabnya, Ibn Katsir –rahimahullah- menyimpulkan bahwa membaca Al Fatihah itu hukumnya wajib bagi siapapun yang mengerjakan shalat, baik ia dalam posisi sebagai imam atau ma'mum, ataupun mengerjakannya sendirian. Dan surah ini dibaca di setiap raka'at, jenis apapun shalat yang Anda kerjakan. 

Sumber: www.wahdah.or.id
Baca Selengkapnya - Tafsir Surah Al Fatihah (Pengantar)

Hanzhalah bin Abi Amir radhiyallahu `anhu, seorang syahid yang dimandikan Malaikat

Posted by Wahdah Islamiyah Kolaka 18.28 0 komentar
Malam telah menyelimuti kota Madinah, bintang-bintang yang bertaburan membawa kedamaian dan ketenangan serta mimpi indah, yang jelas malam itu sebenarnya malam biasa, tapi tidak sama sekali bagi Hanzhalah bin Abi Amir radhiyallahu 'anhu. Hari itu hari dimana mimpinya terwujud, hari yang lama datangnya hari yang lama ditunggunya hari itu Hanzhalah radhiyallahu 'anhu naik ke pelaminan.

Hanzhalah menikah pada suatu malam yang besok paginya terjadi perang di Uhud.
Hanzhalah minta izin kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam untuk bermalam bersama isterinya. Sementara dia sendiri tidak tahu dengan pasti apakah malam itu malam pertemuan atau justru malam perpisahan. Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam memberinya ijin untuk menginap malam itu bersama pasangan pengantinnya.

Manis macam apakah yang ada pada malam itu ? Rahasia apa yang dipendam hari itu dari Hanzhalah radhiyallahu 'anhu?

Bersamaan dengan menyembulnya fajar pertama terdengar gemuruh perang, terdengar seorang menyeru dan mengumumkan jihad. Beberapa saat dia timbang-timbang antara kenikmatan dunia dan kenikmatan Akhirat. Akhirnya dia memilih akhirat demi kenikmatannya. Untuk kemudian menyongsong panggilan jihad dan meninggalkan dunia dengan segala isinya.

Waktu itu Hanzhalah radhiyallahu 'anhu masih Junub, belum sempat mandi besar, melesat memenuhi seruan kebenaran, serta melayang tidak menginjak bumi,
Sepasang pengantin malam itu melesat dengan membawa senjatanya untuk bergabung dengan Nabi Shallallohu 'alaihi wasallam yang sedang menyiapkan barisan Muslimin, meyiapkan hati untuk melakukan transaksi di jalan Allah Hanzhalah masuk pasar surga ………… Perang sangat dahsyat berkemilau dengan serunya pada awalnya kemenagan diraih tapi tatkala pasukan pemanah meninggalkan posisi mereka, keadaan berbalik menjadi kacau dan orang-orang musyrik maju.

Akan tetapi beberapa tentara tetap teguh bertahan bersama Rasulullah Shallallohu 'alaihi wasallam, termasuk di dalamnya Hanzhalah Dia terus menunjukkan dan membuktikan kecintaannya terhadap Allah Subhanahu wa Ta'ala Dia maju menghadap Abu Sofyan bin Harb dengan cepat dia menebas kaki kuda Abu Sofyan dari belakang sehingga Abu Sofyan terjatuh dia menjatuhkannya dari atas kudanya seakan-akan dia menjatuhkan kebathilan yang telah mencuri kebenaran dan kebathilan yang mengacau akidahnya. Pada saat itu datanglah Syaddad bin Al Aswad membantu Abu Sofyan melawan Hanzhalah ra, untuk kemudian salah satu dari kedua orang itu bisa membunuh hati yang bersih dengan lemparan lembing yang tembus Abu Sofyan berteriak “ Hanzhalah dengan Hanzhalah yang maksudnya dia telah membalaskan dendam anaknya yang terbunuh dalam perang Badar Hanzhalah ra meninggalkan kita, tetapi bau wangi misik darinya tetap semerbak menyirami jiwa-jiwa generasi sesudahnya agar jiwa yang sedang tertidur menjadi bangkit dengan harapan suatu ketika akan menunggangi kuda-kuda Syahid.

Tanah menjadi suci dengan kemanten kita tadi lalu perang usai mereka yang telah melakukan transaksi telah menjajakan semua barangnya mereka membawa hati mereka dalam genggaman untuk diterima atau ditolak oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala sesuai dengan kehendak-Nya.

Mereka yakin bahwa kesungguhan/kejujuran pada waktu itu adalah kekayaan yang paling berharga Dan siapa yang sungguh- sungguh jujur dengan Allah niscaya tidak akan sia-sia.

Para Sahabat radhiyallahu 'anhu yang masih tersisa mulai mencari saudara-saudara mereka yang masih menanti janji dari langit memilah-milah siapa yang lebih dahulu ke langit. Tangan mereka yang berusaha menyentuh jasad Hanzhalah ra yang berlumur darah mereka kagum adanya rintik rintik air mengalir dari dahinya seperti butiran-butiran mutiara dan berjatuhan dari sela-sela rambutnya. Ini tentu menjadi misteri Apa maksudnya sampai kemudian para sahabat mendengar suara Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :“Sungguh Aku melihat Malaikat memandikan Hanzhalah bin Amir ra antara langit dan bumi dengan air awan dalam bejana terbaut dari perak.”
Sesungguhnya Allah telah membeli jiwa dan harta orang-orang yang beriman dengan mendapatkan harga surga. Selamat wahai anda Hanzhalah anda telah mendapat surga. Orang-orang Aus, Suku Hanzhalah sangat bangga dengannya karena dari suku mereka ada yang dimandikan Malaikat

Sesungguhnya Hanzhalah radhiyallahu 'anhu akan tetap menjadi kebanggaan dan terpatri dalam dada kaum muslimin bukan hanya untuk Aus saja! Semoga Allah ridha terhadap Hanzhalah bin Abi Amir radhiyallahu 'anhu

Sumber: www.alsofwah.or.id
Baca Selengkapnya - Hanzhalah bin Abi Amir radhiyallahu `anhu, seorang syahid yang dimandikan Malaikat

Menikahi Wanita yang Sedang Hamil

Posted by Wahdah Islamiyah Kolaka 18.12 0 komentar
Pertanyaan
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Afwan ustadz mau nanya, bagaimana hukumnya wanita yang dinikahi sementara dia dalam keadaan hamil? apakah nikahnya sah? Syukran. (Abu Raihan, Makassar)

Jawaban :
Menjawab pertanyaan ini maka kita harus melihat dari 2 sudut pandang yg berbeda sebab wanita yang dinikahi dalam keadaan hamil itu ada dua macam:
Pertama: Wanita yang ditinggal (cerai/mati) oleh suaminya dalam keadaan hamil.
Kedua: Wanita yang hamil karena perzinahan sebagaimana yang banyak terjadi di zaman ini -wal ‘iyadzu billah- mudah-mudahan Allah menjaga kita, keturunan kita dan seluruh kaum muslimin dari dosa keji ini.

Adapun pada kasus pertama yaitu wanita hamil yang ditinggal (cerai/mati) oleh suaminya, maka ia tidak boleh dinikahi sampai selesai masa ‘iddahnya. ‘iddah-nya ialah sampai ia melahirkan sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَأُولَاتُ الْأَحْمَالِ أَجَلُهُنَّ أَنْ يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ

“Dan perempuan-perempuan yang hamil waktu ‘iddah mereka sampai mereka melahirkan kandungannya.” (QS. Ath-Tholaq: 4)

Dan hukum menikah dengan perempuan hamil seperti ini adalah haram dan nikahnya batil tidak sah sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala:

وَلَا تَعْزِمُوا عُقْدَةَ النِّكَاحِ حَتَّى يَبْلُغَ الْكِتَابُ أَجَلَهُ

“Dan janganlah kalian ber’azam (bertetap hati) untuk beraqad nikah sebelum habis ‘iddahnya.” (QS. Al-Baqarah: 235)

Imam Ibnu Katsir dalam tafsir-nya tentang makna ayat ini menjelaskan : “Yaitu jangan kalian melakukan akad nikah sampai selesai ‘iddah-nya.” Lalu beliau menegaskan: “Dan para ‘ulama telah sepakat bahwa akad tidaklah sah pada masa ‘iddah.” ( Zadul Ma’ad 5/156).

Adapun kasus yg kedua: wanita hamil karena perzinahan ( semoga Allah melindungi kita & keturunan kita darinya) :

Wanita yang hamil karena perbuatan zina tidak boleh dinikahi dan dinikahkan, baik dengan laki-laki yang menghamilinya atau pun dengan laki-laki lain kecuali bila telah memenuhi dua syarat.

Syarat pertama: taubat dari perbuatan zina dgn taubat yang benar, sungguh-sungguh, ikhlas dan jujur .

Hal ini dikarenakan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengharamkan menikah dengan wanita atau laki-laki yang berzina, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, 

الزَّانِي لَا يَنْكِحُ إلَّا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لَا يَنْكِحُهَا إِلَّا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ وَحُرِّمَ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ

“Laki-laki yang berzina tidak mengawini, kecuali perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik dan perempuan yang berzina tidak dikawini, melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik dan yang demikian itu, diharamkan atas orang-orang yang mu’min.” (QS: An Nur : 3.)

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Al-Fatawa 32/109: “Menikahi perempuan pezina adalah haram sampai ia bertaubat, apakah yang menikahinya itu adalah yang menzinahinya atau selainnya. Inilah yang benar tanpa keraguan.”

Syekh Abdurrahman As-Sa’diy dalam Tafsir Al Karimi Ar-Rahman menegaskan: ayat ini merupakan dalil yg sangat tegas dan jelas tentang haramnya menikahi wanita pezina sampai ia taubat, demikian pula (haramnya) menikahkan pria pezina sehingga ia taubat pula.

Syaikh Al-Utsaimin berkata, “dari ayat ini kita dapat mengambil satu hukum yaitu haramnya menikahi wanita yang berzina dan haramnya menikahkan laki-laki yang berzina, dengan arti, bahwa seseorang tidak boleh menikahi wanita itu dan si laki-laki itu tidak boleh bagi seseorang (wali) menikahkannya kepada putri-nya.”

Imam As-Syaukani dlm kitab Nailul Authar 7/320 menjelaskan : “Dalam ayat ini terdapat petunjuk bahwa tidak halal bagi seorang wanita menikah dgn pria pezina dan demikian pula sebaliknya , tidak halal bagi seorang pria menikahi wanita yg nampak pada dirinya perbuatan zina.”

Dan Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam menegaskan:

« الزاني المجلود لا ينكح إلا مثله »
رواه أحمد ، وأبو داود , قال ابن حجر في بلوغ المرام ورجاله ثقات .

“Seorang pezina yg telah dihukum cambuk hendaknya tidak dinikahkan kecuali kepada yg serupa dengannya” (HR. Ahmad & Abu Daud. Ibnu Hajar dlm kitab Bulugul Maram mengatakan : para perawi hadits ini terpercaya)

Bila seseorang telah mengetahui, bahwa pernikahan ini haram dilakukan namun dia memaksakan dan melanggarnya, maka pernikahannya tidak sah dan bila melakukan hubungan, maka hubungan itu adalah perzinahan. Bila terjadi kehamilan, maka si anak tidak dinasabkan kepada laki-laki itu atau dengan kata lain, anak itu tidak memiliki bapak.

Orang yang menghalalkan pernikahan semacam ini, padahal dia tahu bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengharamkannya, maka dia dihukumi sebagai orang musyrik. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan (sekutu) selain Allah yang mensyari?atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah” (QS: Asy Syruraa : 21)

Di dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta\’ala menjadikan orang-orang yang membuat syari'at bagi hamba-hamba-Nya sebagai sekutu, berarti orang yang menghalalkan nikah dengan wanita pezina sebelum taubat adalah orang musyrik.

Adapun bila pezina itu telah taubat maka hukum haram menikahinya dan menikahkannya pun terhapus berkata Ibnu Qudamah

:.. فإذا تابت زال ذلك لقول النبي صلى الله عليه و سلم: التائب من الذنب كمن لا ذنب له

Jika wanita pezina itu telah taubat maka hal itu (larangan menikahinya ) terhapus sebab Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : orang yg bertaubat dari dosanya seperti orang yang tak memiliki dosa lagi.

Bolehnya pernikahan tersebut setelah taubat, tentunya bila syarat kedua berikut ini juga telah terpenuhi.

Syarat kedua: Wanita itu harus beristibra (menunggu kosongnya rahim) dengan satu kali haidl, bila tidak hamil, dan bila ternyata hamil, maka sampai melahirkan kandungannya.

Rasulullah bersabda:

لاَ تُوطَأُ حَامِلٌ حَتَّى تَضَعَ وَلاَ غَيْرُ ذَاتِ حَمْلٍ حَتَّى تَحِيضَ حَيْضَةً

“Tidak boleh digauli (budak) yang sedang hamil, sampai ia melahir-kan dan (tidak boleh digauli) yang tidak hamil, sampai dia beristibra' dengan satu kali haid. “ (HR. Abu Daud,Ahmad,Ad Darimy, Al Hakim, Al Baihaqy dari haidts Abu Sa’id Al Khudry dan di sahihkan oleh Syek Al Bani)

Di dalam hadits di atas, Rasulullah melarang menggauli budak dari tawanan perang yang sedang hamil sampai melahirkan dan yang tidak hamil ditunggu satu kali haid, padahal budak itu sudah menjadi miliknya. Juga sabdanya:

لاَ يَحِلُّ لاِمْرِئٍ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ أَنْ يَسْقِىَ مَاءَهُ زَرْعَ غَيْرِهِ وَلاَ يَحِلُّ لاِمْرِئٍ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ أَنْ يَقَعَ عَلَى امْرَأَةٍ مِنَ السَّبْي حَتَّى يَسْتَبْرِئَهَا

Artinya, “Tidak halal bagi orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, dia menuangkan air (maninya) pada semaian orang lain.” (HR.Abu Dawud, Ahmad Al Baihaqy dari hadits Rafi’ bin tsabit al Anshary dan di hasankan oleh Syekh Albani dlm Irwa’

Sebahagian besar orang membolehkan pernikahan bathil ini berdalih , bahwa janin yang dirahim wanita itu toh adalah janin yang terbentuk dari sperma pria yang menzinainya yang kemudian hendak menikahinya? Olehnya tidak perlu istibra’ (mengosongkan rahim dari sperma/janin)

Menjawab akal-akalan ini maka mari kita serahkan kpd Al Imam Muhammad Ibnu Ibrahim Al Asyaikh , beliau berkata : “Tidak boleh menikahi-nya sampai dia taubat dan selesai dari masa iddahnya dengan melahirkan janin yang dikandungnya, karena perbedaan dua air ( sperma), antara najis (akibat zina) dan suci (setelah aqad nikah) , dan antara(sperma) baik dan buruk dan karena perbedaan status hukum senggama : menggauli dari sisi haram (zina) dan halal ( setelah aqad nikah).”

Kibarul Ulama ( Ulma besar ) dalam Al-Lajnah Ad-Daimah ( Dewan fatwa) Saudi Arabiyah menegaskan : Bila dia (pria yang menzinainya telah taubat) dan ingin menikahi wanita itu, maka dia wajib menunggu wanita itu hingga beristibra dengan satu kali haid sebelum melangsungkan akad nikah dan bila ternyata dia hamil, maka tidak boleh melangsungkan akad nikah dengannya, kecuali setelah wanita itu melahirkan kandungannya, berdasar-kan hadits Nabi yang melarang seseorang menuangkan air (maninya) diatas sperma orang lain.

Selanjutnya jika masih ada orang yang nekat menikahkan putrinya yang telah berzina tanpa beristibra terlebih dahulu, sementara telah sampai kepadanya penjelasan bahwa pernikahan seperti itu tidak boleh, demikian pula pria serta wanita yg hendak menikah itu juga telah mengetahui bahwa pernikhannya dalam kondisi seperti yg telah dijelaskan adalah haram, maka pernikahannya itu tidak sah.

Bila dalam pernikahan mereka itu keduanya melakukan hubungan badan maka hal tersebut terhitung zina. Hendaknya mereka segera bertaubat dan pernikahannya mesti diulangi, tentunya setelah selesai istibra dengan satu kali haidh dari hubungan badan yang terakhir mereka lakukan atau setelah melahirkan jika wanitanya hamil lagi. Wallahu a’lam bishawab. (Ust. Fadlan Akbar, Lc)

Sumber: www.wahdah.or.id
Baca Selengkapnya - Menikahi Wanita yang Sedang Hamil

Aku Muslim, Tapi Nggak Sholat

Posted by Wahdah Islamiyah Kolaka Minggu, 09 September 2012 20.35 0 komentar
Pernah nggak, kita membayangkan saat ibu atau ayah kita memanggil, tapi kita masih aja nggak bergeming atau malah pura- pura nggak denger? May be, selanjutnya bakal ada teriakan atau bahkan sesuatu yang melayang, yang pastinya mampir di kita.

Nah, itu aja baru urusan dengan sesama manusia, trus pernah nggak kepikiran, gimana cerita kalau Allah Sang maha Pemberi hidup, "memanggil" kita buat sholat, tapi kita masih aja ogah- ogahan dan males?

Yups, tapi begitulah kenyataan yang ada sekarang ini. Kebanyakan dari kita meremehkan shalat bahkan melihatnya sebagai baban yang berat banget. saking ogahnya, 1001 alasan pribadi dibawa cuma buat menunda-nunda shalat atau bahkan meng-cancel-nya. Na’udzubillah

Parahnya, ada juga yang mendirikan sholat aja nggak, eh malah terang-terangan melecehkan shalat dan menghina orang-orang yang mengerjakannya, tapi kalau ditanya, dia tetap saja mengaku-aku sebagai seorang muslim. Mereka itu juga nggak habis- habisnya mengkritisi perintah Allah tentang tiang agama ini. Ibarat kata saat mereka diajak kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, mereka malah balik berkata, “Kami mendengar tapi kami menentang!”

Padahal kalau saja mereka sadar, mereka cuma membiarkan diri mereka sendiri untuk didikte sama hawa nafsu, setan dan syahwatnya. Hawa nafsunya itu juga yang menegakkan argumen di hatinya, supaya dia merasa tenang, tapi padahal sebenarnya dia telah terhinakan.

Kalau saja mereka mau jujur sama kebenaran, pun hatinya bakal berkata yang sama, kalau yang namanya Sholat, itu adalah ibadah yang sangat amat penting sekali. Sholat jugalah yang bakal pertama kali Allah pertanyakan ke kita nanti kalo di akhirat. Shalat juga merupakan salah satu rukun Islam yang jadi pembatas seseorang itu mukmin atau kafir.

Nabi SAW bersabda: “Perjanjian yang mengikat antara kami dan mereka adalah mendirikan shalat. Siapa yang meninggalkannya, maka sungguh dia telah kafir”(H.R Muslim)

Selain itu Saking pentingnya,ibadah shalat dalam Islam nggak bakal bisa diganti atau diwakilkan. Cowok atau cewek yang muslim dalam kondisi apapun, sehat ato nggak, aman atau takut, lagi bermukim dan musafir tetep kudu sholat. Kalau nggak bisa berdiri boleh duduk, kalau tidak bisa duduk boleh berbaring, dan seterusnya.Tapi judulnya kudu tetep sholat.

Trus apa sih manfaat sholat? Allah Subhanahu wataala berfirman,

"Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan tegakkanlah shalat untuk mengingat-Ku."(Qs. Thaha: 14). "(Yaitu) Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah, ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah, hati menjadi tenang." (Qs. Ar-Ra'du: 28)

Friend, orang hidup pastilah butuh yang namanya ketenangan. Dan dua ayat di atas memberitahukan ke kita kalau soal ketenangan jiwa adalah janji Allah yang sudah pasti bakal diberikan kepada orang yang shalat. Hati kita bisa merasa tenang banget kalau selalu mengingat dan dzikir kepada Allah. Nah, sarana berdzikir yang paling efektif itu adalah shalat. Tapi tentu saja, bukan sembarang shalat loh. kan perintah Allah tadi adalah menegakkan sholat dan nggak hanya sekedar melaksanakan. Dan dua hal itu, tentu saja beda, Friend.

Kalau kita mendirikan shalat, otomatis ada niat buat perjuangan, keseriusan, kedisiplinan, dan konsentrasi level tinggi. Beda kalau kasusnya cuma sekedar melaksanakan. Kadang kita masih santai, dan nggak perlu serius- serius amat. Yang penting kan udah terlaksana.

Sholat juga adalah nikmat yang sangat besar dari Allah SWT. Allah juga menjanjikan tingkatan surga tertinggi yaitu surga FIRDAUS bagi hamba-hambanya yang beriman dan mendirikan sholat dengan benar. Tapi nggak tahu kenapa ya, dengan imbalan sebesar itu, sebagian besar dari kita masih aja berat plus bandel buat melaksanakannya.

Umar bin Khaththab sering mengingatkan para pemimpinnya, dan rakyatnya betapa pentingnya arti sholat bagi mereka. Bahkan beliau berkata, “Barang siapa menjaga sholatnya, sungguh dia telah menjaga agamanya. Barang siapa yang menyia-nyiakan sholatnya, maka terhadap urusan yang lain slain sholat, ia akan lebih menyia-nyiakan lagi”

Ini baru gambaran kecil kalau para kekasih Allah SWT selalu menganggap sholat itu primer banget di mata mereka.

Maka, belajar dari keteladanan mereka, malu banget dunk kalau kita bilang "aku muslim, tapi nggak sholat". Lagi pula, Friend...bukankah Allah memberikan jatah waktu 24 jam ke kita selama 1 hari. Dan itu nggak sebentar kan, so kenapa kita nggak mau memberikan walau cuma 24 menit saja buat "laporan" dan mengingat Allah sebagai bentuk rasa trimakasih kita kepadaNya? atau jangan- jangan kita memang termasuk orang- orang yang nggak pandai bersyukur dan berterimakasih? jawabnya, kembali kepada diri kita masing- masing.

Sumber: www.voa-islam.com
Baca Selengkapnya - Aku Muslim, Tapi Nggak Sholat

Tulisan Dr. Adian Husaini Tentang Kisah Tajul Muluk

Posted by Wahdah Islamiyah Kolaka Kamis, 06 September 2012 00.03 0 komentar
KONFLIK Ahlu Sunnah-Syiah di Sampang yang beberapa kali mencuat ke permukaan, tidak bisa dipisahkan dari sosok Tajul Muluk – alias Ali al-Murtadho -- yang belum lama divonis bersalah oleh Pengadilan Negeri Sampang, Madura. Tajul dijatuhi hukuman dua tahun penjara. Ia dinilai terbukti melanggar Pasal 156 a KUHP tentang penistaan agama karena dinilai telah menyebarkan ajaran sesat. Tajul dinilai telah mengajarkan ajaran sesat dengan menistakan kitab suci Al-Quran yang digunakannya untuk mengajarkan muridnya di pondok pesantren.


Desember 2011 lalu, sejumlah massa membakar komplek Tajul di Dusun Nang Kernang, Kecamatan Oben Sampang, Madura, Jawa Timur. Lalu, pada Agustus 2012 ini, meletus pula bentrokan yang jauh lebih massif dan menyita perhatian nasional, bahkan internasional. Pada CAP kali ini, ada baiknya kita mengenal sosok Tajul Muluk dan kiprahnya. Tulisan ini adalah ringkasan hasil penelitian Akhmad Rofii Damyati MA, sarjana pemikiran Islam asal Madura, yang menulis Tesis Masternya tentang Konsep Ilmu Prof Syed Muhammad Naquib al-Attas di Universiti Malaya, Kuala Lumpur.

Penelitian itu cukup konprehensif dan dilakukan pasca terjadinya peristiwa Desember 2011. Isinya masih cukup relevan untuk membantu memahami situasi saat ini. Secara lengkap, hasil penelitian ini telah diterbitkan oleh Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Press. Berikut kisah Tajul Muluk, sebagaimana dipaparkan oleh Akhmat Rofii Damyati, MA.

*****

Tajul Muluk alias Ali al-Murtadho lahir di Sampang, 22 Oktober 1973. Ia anak kedua dari delapan bersaudara, putra dari pasangan almarhum Kiai Ma’mun bin KH. Ach Nawawi dengan Nyai Ummah. Saudara tertuanya bernama Iklil al-Milal. Kemudian adik-adiknya secara berurutan adalah Roies al-Hukama’, Fatimah Az-Zahro’, Ummu Hani’, Budur Makzuzah, Ummu Kultsum, Ahmad Miftahul Huda.

“Ra Tajul”, begitu sapaan akrabnya di masyarakat, di masa remajanya pernah mondok di Ma’had Islami Darut Tauhid (MISDAT), asuhan KH Ali Karrar Shinhaji, di Lenteng Proppo, Pamekasan di tahun 80-an. Setelah itu, Tajul melanjutkan pendidikannya di Yayasan Pendidikan Islam (YAPI), Bangil, sekitar tahun 1988-an, selama enam tahun.

Dari YAPI, Tajul sempat diberangkatkan ke Saudi Arabia menjadi TKI selama enam tahun. Di tempat kerja itu Tajul diduga banyak belajar dan mendalami ajaran Syiah Itsna ‘Asyariyyah.

Tajul juga aktif di organisasi Syiah di Indonesia, yaitu Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI). Posisi Tajul adalah PD (Pimpinan Daerah) IJABI Sampang. Tapi, IJABI di Sampang dan bahkan di Madura lebih bergerak di bawah tanah, dan tidak ditemukan dalam daftar ormas di Sampang. Diperkirakan, aktivitas IJABI di Sampang bermula seiring dengan gerakan Syiah yang dibawa oleh Tajul Muluk.

Bermodalkan kharisma sebagai keturunan dari Batuampar, Pasarean yang cukup terkenal di Madura pada khususnya, dan di seluruh Jawa pada umumnya, yang diziarahi oleh banyak orang, Tajul menyebarkan ajaran Syiah dengan mudah dibantu saudara-saudaranya. Diperkirakan, kurang lebih Jumlah pengikut Syiah di sini mencapai 400-an dari semua usia.

Program-program sosial yang dijalankan oleh Tajul juga cukup efektif, karena ia banyak membantu orang yang kekurangan.

Sebagai orang penting dalam penyebaran Syiah di Madura, Tajul mempunyai jaringan luas. Jaringan Syiah di Madura ini sudah cukup rapi dan menyebar ke semua kabupaten. Kemajuan pesat yang dicapai Tajul Muluk dalam mengembangkan Syiah menarik perhatian tokoh-tokoh Syiah, baik nasional maupun Internasional untuk berkunjung ke Sampang. Hanya saja, Roies – adik Tajul – mengaku lupa nama-nama mereka.

Rois menyatakan bahwa bukti-bukti empiris kesesatan ajaran Tajul Muluk sejak lama sudah diserahkan kepada Kepolisian Sampang sebagai barang bukti yang meliputi buku berjudul "Tsumma Ihtadaitukarya Dr. Muhammad al-Tijani al-Samawiserta" buku kecil tuntunan praktek wudhu, azan dan sholat.

Buku-buku itu menurut Rois di dalamnya membahas rukun iman (terdiri dari lima rukun) dan rukun Islam (terdiri dari delapan rukun). Selain itu, telah dilampirkan bersama buku-buku tersebut doa-doa ziarah yang isinya melaknat terhadap para sahabat dan istri-istri Nabi Muhammad SAW. Termasuk juga CD kesesatan ajaran Tajul Muluk. Sepertinya, ajaran-ajaran sesat Tajul Muluk tersebut tidak jauh berbeda dengan teori-teori yang tertuang dalam rujukan utama kaum Syiah semisal "al-Kafi", "Man la Yadhuruhul Faqih", "Tahdzib al-Ahkam" dan "al-Istibshar".

****

Sepulangnya dari Saudi, Tajul masih mempraktekkan ajaran Sunni sebagaimana dipahami masyarakat pada umumnya. Namun kemudian, kira-kira tahun 2003, Tajul sudah mulai mengajarkan Syiah pada tahap awal, walaupun masih belum secara terang-terangan. Pada tahun 2003-2004, ajaran Syiah mulai disebarkan secara terang-terangan. Di masa ini rekrutmen anggota Syiah semakin massif. Tahun 2004-2005 ajaran Syiah melalui Tajul Muluk mulai mencuat ke permukaan dan diendus oleh banyak orang di Omben bahwa Ra Tajul mempunyai cara-cara berislam yang aneh. Masyarakat sudah mulai beraksi akibat keanehan pada praktek-praktek ibadah Tajul.

Tahun 2006-2007, masyarakat yang mayoritas Sunni akhirnya melakukan demo penolakan ke rumah Tajul. Desa Karang Gayam dan Blu’uran memanas. Di tahun itu juga para ulama pesantren Madura dan Pemerintah menerima aduan masyarakat yang mayoritas Sunni dengan membawa 29 item tuduhan bahwa Tajul Muluk dan saudara-saudaranya sesat.

Pada tanggal 20 Februari 2006, para ulama se-Madura mengadakan rapat yang dihadiri juga Bapak H. Fadillah Budiono (Bupati sampang waktu itu) dan Bapak Imron Rosyidi (Ketua Depag Sampang saat itu) dengan agenda mengklarifikasi tuduhan-tuduhan tersebut kepada yang bersangkutan (Tajul bersaudara). Pada rapat itu Tajul Muluk beserta kawan-kawannya datang dengan membawa kitab-kitab rujukannya dan mengajak debat para ulama Madura di tempat itu.

Sementara rapat berlangsung, masyarakat di luar rapat masih terus memanas, berteriak-teriak agar menghajar saja Tajul dan teman-teman Syiahnya. Dari pada suasana memanas, akhirnya, ulama tidak berpikir untuk membahas isi kitab-kitab yang disodorkan Tajul lagi dan kemudian para ulama memutuskan untuk menyodori enam perjanjian kepada Tajul untuk kemudian ditandatangani di depan orang-orang yang hadir waktu itu.

Namun, Tajul Muluk meminta waktu untuk berfikir dan siap menjawab pada pertemuan selanjutnya. Selang beberapa hari dari pertemuan itu para ulama mengutus sebagian Kiai, dengan KH Abd. Wahhab Adnan sebagai ketua utusan untuk menemui Tajul di Masjid Landeko’ Desa Karang Gayam, tempat kediaman kakek Tajul, KH. Ach Nawawi. Bersama para ulama waktu itu, ketua Majlis Ulama Indonesia (MUI) Sampang (KH Mubassyir) dan Kapolsek Omben. Pertemuan itu untuk membujuk Tajul agar menerima 6 poin perjanjian itu dan hasilnya Tajul menerima.

Para ulama lalu menggelar pertemuan lanjutan, pada Ahad, 26 Februari 2006. Agendanya, mendengarkan jawaban Tajul. Sayangnya, Tajul tidak hadir. Kemudian para ulama, melalui Forum Musyawarah Ulama (FMU), mengeluarkan surat pernyataan yang menyatakan melepaskan diri dari urusan Tajul dan menyerahkannya kepada aparat yang berwajib. Mereka juga menyatakan tidak bertanggung jawab atas segala apa yang akan terjadi di tengah-tengah masyarakat, di mana masyarakat sudah terlihat gusar dengan penyebaran ajaran Tajul tersebut. [baca: 22 Dakwaan yang Tuduhkan Pada Tajul Muluk]

Walaupun demikian, masih berharap adanya sifat akomudatif Tajul, pada tgl. 26 Oktober 2009, MUI Sampang bersama Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sampang, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (PRD) Sampang, Kepala Departemen Agama (DEPAG) Sampang, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Sampang dan para ulama Sampang, mengadakan pertemuan kesekian kalinya dengan Tajul. Pertemuan ini diadakan di Mapolres Sampang untuk menyikapi dan mencarikan solusi terkait adanya faham Syiah yang berkembang di Desa Karang Gayam, Kec. Omben, Kab. Sampang.

Pertemuan ini menghasilkan lima poin yang ditandatangani Tajul di atas materai beserta elemen-elemen tokoh di atas. Ke lima poin kesepakatan itu adalah:

Pertama, bahwa tidak diperbolehkan lagi mengadakan ritual dan dakwah yang berkaitan dengan aliran tersebut (Syiah) oleh Sdr. Tajul Muluk karena sudah meresahkan masyarakat.

Kedua, bahwa Sdr. Tajul bersedia untuk tidak melakukan ritual, dakwah dan penyebaran aliran tersebut di Kabupaten Sampang.

Ketiga, bahwa apabila tetap melaksanakan ritual dan/atau dakwah maka Sdr. Tajul Muluk siap untuk diproses secara hukum yang berlaku.

Keempat, bahwa pakem, MUI, NU dan LSM di Kab. Sampang akan selalu memonitor dan mengawasi aliran tersebut.

Kelima, bahwa pakem, MUI, NU dan LSM siap untuk meredam gejolak masyarakat baik bersifat dialogis atau anarkis selama yang bersangkutan (Sdr. Tajul Muluk) menaati kesepakatan di poin 1 dan 2.

Perjanjian rupanya tidak berjalan. Ajaran Syiah tetap disebarkan di kampungTajul melalui polesan dakwahnya yang menawan hati masyarakat pengikutnya. Akibatnya, gesekan-demi gesekan dengan yang setia dengan paham Sunni semakin terasa.

Maka pada tanggal 8 April 2011, ulama beserta masyarakat melayangkan surat yang ditujukan kepada Bupati Sampang dengan tembusan kepada Kapolres Sampang, Dandim Sampang, Ketua DPRD Sampang, Kajari Sampang, Kakanmenag Sampang, Ketua Pengadilan Agama Sampang, Ketua PN Sampang, Ketua MUI Sampang, Kepala Bakesbang Sampang, yang ditandatangani oleh puluhan ulama dan ratusan tokoh masyarakat yang disertai dengan foto kopi KTP/SIM masing-masing sebagai jaminan keseriusan mereka.
Isu Syiah Sampang ini kemudian semakin menemukan momennya dan mencuat ke isu nasional.

Oleh karena itu, pada hari Senin, 11 April 2011 M Mabes Polri pun turun gunung untuk menyelesaikan problem Syiah di Sampang ini. Akhirnya para ulama diundang Kapolres Sampang untuk bertemu dengan Mabes Polri beserta rombongan di PP Darul Ulum Gersempal, Omben, Sampang. Pertemuan itu menghasilkan kesepakatan sebagaimana berikut: (1) Tajul Muluk cs. harus angkat kaki dari Madura (2) Tidak menyebarkan fahamnya di kalangan masyarakat di Madura (3) Semua pengikutnya harus kembali bergabung dengan majlis ta’lim NU Sunni untuk dapat dibina kembali.

Senada dengan itu, pada tgl. 28 Mei 2011, MUI se-Madura mengadakan musyawarah yang menghasilkan dua poin; (1) membekukan aktifitas dan gerakan Syiah Imamiyah yang ada di Desa Karang Gayam Kec. Omben Kab Sampang, dan (2) sesuai dengan tuntutan masyarakat agar pimpinan Syiah tersebut (Tajul Muluk alias Ali Murtadho) direlokasi keluar Madura.

Setelah itu Tajul Muluk diungsikan di Malang, tepatnya di Lembah Dieng – Blok N2, Kota Malang, dan tidak boleh lagi menyebarkan ajarannya di Madura. Tajul menulis Surat Pernyataan dengan tulisan tangan dan ditandatangani di atas materai. Dalam pernyataannya, demi kondusifnya Desa Karang Gayam dan Blu’uran, sementara waktu ia keluar dari kota Sampang. Ia menyatakan juga untuk mencobanya selama setahun terhitung dari tanggal ditandatanganinya Surat pernyataannya itu (29 Juli 2011, jam 23.56 WIB). Biaya relokasi ini ditanggung oleh Pemkab Sampang dan Pemprov Jatim.

Namun, menurut keterangan masyarakat, Tajul Muluk sering datang ke kediamannya di Karang Gayam untuk menjumpai anak dan istrinya sekaligus melakukan pembinaan kepada pengikut-pengikutnya. Bahkan kadang datang dengan membawa rombongan. Menurut keterangan kepala desa Karang Gayam, Bapak Hamzah, setiap ada acara Asyura di luar kota, seperti di Malang, pengikut-pengikut Syiah di kampungnya dijemput. Terlihat banyak bus beriring-iringan di jalan raya untuk menjemput para pengikutnya.

Pada 1 Agustus 2011, Bupati Sampang mengadakan rapat koordinasi Forum Pimpinan Daerah (FORPIMDA), Ketua MUI dan Kementerian Agama Kabupaten Sampang terkait dengan ketegangan yang terjadi. Rapat koordinasi ini menghasilkan lima poin. Kelima poin itu tentang kronologis permasalahan yang ada di Desa Karang Gayam Kecamatan Omben dan Desa Blu’uran Kecamatan Karang Penang, sejak awal hingga disepakatinya Tajul Muluk harus direlokasi. Namun disebutkan juga bahwa upaya-upaya yang telah ditempuh, perjanjian demi perjanjian telah dibuat, Tajul Muluk tidak memenuhi kesepakatan direlokasi yang telah difasilitasi oleh Pemerintah. Dengan kata lain, Bupati Sampang menyusun laporan kenyataan sebenarnya yang akan disampaikan kepada semua pihak. Besoknya, tgl 2 Agustus 2011, Bupati Sampang melaporkan permasalahan ini kepada Gubernur Jawa Timur selaku pihak yang juga mendanai relokasi Tajul Muluk ke Malang, dengan nomor surat 220/536/434.203/2011.

Pada hari Sabtu, 17 Desember 2011, pukul 10.00 wib hingga 12.00 wib diadakan pertemuan dua belah pihak, pihak Roies bersama tujuh kawan-kawannya (Muhlis, Munadji, Saniwan, H. Hotib, M. Faruq, Adnan dan H Abdul Wafi) dan pihak Tajul Muluk yang diwakili oleh Iklil al-Milal bin Makmun, Ali Mullah bin Marsuki, Zaini bin Umar, Mukhlisin bin Marsuki, Saiful Ulum bin Yusuf, Martono bin Muderin dan Hudi bin Sadimin. Kedua belah pihak mengeluarkan Surat Pernyataan yang ditandatangani di atas materai. Isinya: (1) menjaga dan memelihara situasi ketertiban masyarakat di Wilayah Kecamatan Karang Penang dan Kecamatan Omben tetap kondusif; (2) sanggup untuk tidak mengerahkan massa untuk unjuk rasa terkait dengan perselisihan Syiah dan Sunni; (3) tidak akan melakukan anarkis dan memprovokasi warga masyarakat; dan (4) sanggup diproses hukum apabila terbukti secara hukum melanggar pernyataan ini.

Pertemuan ini bertempat di Pendopo Kecamatan Omben yang dihadiri oleh Kapolres Sampang, DPRD Sampang, Ka Bakesbangpol, Camat Omben, Danramil Omben, Kapolsek Omben, Camat Karang Penang, Danramil Robatal, Kapolsek Karang Penang serta ratusan masyarakat Desa Karang Gayam dan Desa Blu’uran.

Jadi, kasus Sampang memang mempunyai akar masalah yang panjang selama bertahun-tahun. Berbagai pihak telah berusaha meredamnya. Toh, akhirnya kasus itu muncul lagi.

Semoga sedikit kisah Tajul dari Sampang ini sedikit banyak menambah kejelasan persoalan dan semoga kasus ini bisa diselesaikan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.*/Depok, 31 Agustus 2012

Penulis Ketua Program Doktor Pendidikan Islam – Universitas Ibn Khaldun Bogor. Catatan Akhir Pekan [CAP] adalah hasil kerjasama Radio Dakta 107 FM dan hidayatullah.com

Sumber: www.wahdah.or.id
Baca Selengkapnya - Tulisan Dr. Adian Husaini Tentang Kisah Tajul Muluk