Kezuhudan Sang Gubernur

Posted by Wahdah Islamiyah Kolaka Kamis, 27 September 2012 18.53
Di Zaman pemerintahan Khalifah Umar Bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, ketika dia menjadi khalifah, pemimpin kaum muslimin, dia pernah mengangkat seorang gubernur bernama Sa’id Ibnu Amir di sebuah kota yang bernama Hims. Ketika Sa’id Ibnu Amir diangkat jadi Gubernur di kota tersebut, dia menyadari bahwa hal tersebut adalah amanah dari Allah beliau tidak menjadikan amanah tersebut untuk mendapatkan kemasyhuran apatah lagi untuk mendapatkan harta namun beliau menggunakan amanah tersebut untuk benar-benar bertaqarrub kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Suatu ketika ada beberapa oarang dari negeri Hims datang ke kota Madinah untuk bertemu dengan Khalifah Umar radhiyallahu ‘anhu. Umar kemudian berkata kepada mereka, “Coba tuliskan dan laporkan kepada saya nama-nama orang fakir dan orang miskin di kota Hims agar saya bisa mengirimkan zakat kepada mereka dari Baitul Mal untuk dibagikan orang-orang miskin.”

Lalu utusan itu menuliskan nama-nama orang miskin yang tinggal di negeri Hims dan diantara nama yang dituliskan dalam catatan tersebut adalah Sa’id Ibnu Amir, gubernur kota Hims. Ketika Umar membacanya, dia kaget lalu berkata mereka, “Siapakah Sa’id Ibnu Amir yang kalian tuliskan disini termasuk orang miskin?”. Mereka mengatakan, “ Itu adalah gubernur kami wahai amirul mukminin”

Lalu Umar bertanya lagi, “Subhanallah, Gubernur kalian adalah orang yang miskin?”

Mereka mengatakan, “Iya, wahai Amirul mukminin. Bahkan terkadang dapur beliau tidak mengepulkan asap karena tidak ada sesuatu yang dapat dimasak”

Mendengar berita tersebut, Umar radhiyallahu ‘anhu pun menangis. Dia lalu mengambil 1000 Dinar dari Baitul Mal lalu berkata “Bawalah bungkusan ini dan berikanlah kepada gubernur kalian sebagai hadiah”

Akhirnya utusan ini kembali ke negeri Hims dan menyampaikan amanah dari Umar radhiyallahu ‘anhu. Ternyata apa yang terjadi? Apa yang dilakukan oleh Sa’id Ibnu Amir ketika menerima hadiah uang yang begitu banyak yang halal? Dia jutru dia mengatakan “Inna lillahi wainna ilaihi raji’un”. Dia seakan-akan terkena musibah yang sangat dahsyat, sampai-sampai istrinya yang ada di dalam kamarnya mendengar suaminya mengatakan “Inna lillahi wainna ilaihi raji’un”, keluar menemui suaminya, dan bertanya “Apa yang terjadi? Apakah khalifah Umar meninggal Dunia?”

Dia lalu menjawab, “Bahkan musibah yang menimpa saya lebih besar dari itu wahai istriku. Sungguh dunia telah masuk kepadaku untuk merusak akhiratku.”

Lalu istrinya mengatakan, “Ini adalah sesuatu yang mudah, berlepaslah dari dunia tersebut”

Dan istrinya tidak tahu bahwa Amirul Mukminin telah mengirimkan kepadanya 1000 Dinar untuk Sa’id Ibnu Amir.

Akhirnya Sa’id Ibnu Amir berkata kepada istrinya, “Jika demikian, ambillah bungkusan ini lalu bagikan kepada masyarakat dan jangan sampai ada yang tersisa di rumah kita.”

Beberapa saat kemudian Khalifah Umar radhiyallahu ‘anhu berkesempatan untuk berkunjung ke negeri Hims, di mana Umar adalah pemimpin yang senantiasa berkeliling kota untuk melihat keadaan kaum muslimin. Dia mendatangi negeri Hims dan bertanya kepada masyarakat kota Hims tentang gubernur mereka Sa’id Ibnu Amir. Lalu mereka berkata “Kami cinta kepadanya, kami senang dengan Gubernur kami, namun kami tidak senang dalam tiga hal”

Umar kemudian mengumpulkan mereka bersama sang Gubernur mereka Sa’id Ibnu Amir untuk ditanya apakah yang tidak disenangi oleh masyarakat dari Sa’id Ibnu Amir. Umar lalu bertanya kepada mereka, “Coba sampaikan kepada saya apa yang kalian tidak senangi dari gubernur kalian.”

Mereka pun mengatakan, “Kami tidak menyenangi darinya yaa Amirul mukminin dalam tiga hal. Yang pertama adalah setiap hari dia tidak menjumpai kami kecuali setelah matahari meninggi.”

Umar lalu menoleh ke Sang Gubernur, “Apa jawaban anda? Mengapa anda tidak keluar menemui rakyat anda kecuali setelah matahari meninggi?”

Lalu sang Gubernur menjawab, ”Yaa Amirul Mukminin, sesungguhnya ini adalah sesuatu yang sangat saya rahasiakan, saya tidak mau ada yang mengetahui, namun karena anda yang bertanya maka saya akan menjawab, ketahuilah yaa Amirul Mukminin setiap harinya saya membantu istri saya di rumah membuat adonan tepung untuk dijadikan roti dan saya tidak memiliki pembantu di rumah yaa Amirul mukminin itulah yang membuat saya terlambat untuk keluar menemui rakyat saya.”

Umar kemudian bertanya lagi, “Apa hal yang kedua yang kalian tidak senangi dari Gubernur kalian?”

Mereka menjawab, “Dia tidak pernah menemui kami di malam hari yaa Amirul Mukminin, benar dia membantu kami, mengurus masalah-masalah kami dan mengurus kami di siang hari namun dia tidak menerima tamu di malam hari.”

Kemudian Umar bertanya lagi, “Apa jawaban anda wahai sang Gubernur?”

Lalu sang Gubernur menjawab, “Yaa Amirul mukminin, ini juga adalah sesuatu yang saya rahasiakan namun karena terpaksa, saya katakan, saya menjadikan siang saya untuk rakyat saya, adapun malam hari saya gunakan untuk beribadah kepada Tuhan saya.”

Kemudian Umar kembali bertanya kepada mereka , “Apa yang kalian tidak senangi darinya?”

Mereka mengatakan, “Dalam satu bulan terkadang dia tidak keluar dari rumahnya selama satu hari.”

Umar kembali bertanya, “Apa jawaban anda wahai sang Gubernur?”

Lalu sang Gubernur pun menjawab, “Yaa Amirul Mukminin, saya cuma memiliki sebuah baju dan pada hari itu saya mencucinya lalu saya tunggu sampai kering lalu setelah kering barulah saya menemui rakyat saya”

Umar kemudian menangis dan mengatakan, “Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang tidak menyia-nyiakan pilihan saya kepadamu Yaa Sa’id Ibnu Amir”.

Sumber: http://wahdahmakassar.org/2011/07/22/kisah-kezuhudan-sang-gubernur/#ixzz27j0iv6XS

0 Response to "Kezuhudan Sang Gubernur"

Poskan Komentar