Begitu Sederhana, Begitu Luar Biasa

Posted by Wahdah Islamiyah Kolaka Senin, 26 Maret 2012 19.06
Alhamdulillah, washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, wa ba’ad. Pembaca yang budiman, pada edisi kali ini kami akan mengajak Anda sekalian untuk menyelami samudera kehidupan sosok seorang ulama rabbani abad ini. Beliau bernama Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah. Beliau lahir di kota Riyadh pada bulan Dzulhijah 1330 H/1909 M dan wafat 27 Muharram 1420 H / 13 Mei 1999 M. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala merahmatinya. Amin.
Kita tidak akan menyebutkan biografi beliau secara khusus -meskipun insya Allah pada kesempatan 
berikutnya kami akan berusaha menuliskannya-, tetapi yang akan kami tuliskan adalah rangkaian perikehidupan akan keindahan akhlak dan sejarah emas beliau selama hidupnya. Semoga kita dapat mengambil pelajaran dan teladan dari beliau. Selamat membaca.

Kesederhanaan
Syaikh Ibnu Baz adalah seorang yang sangat tidak perhatian dengan dunia sebagaimana yang bisa kita ketahui dari keadaan beliau. Terlebih jika kita tahu bahwa beliau itu tidak memiliki rumah. DR. Zahrani pernah berupaya untuk meminta izin kepada beliau untuk membeli rumah yang biasa beliau tempati jika berada di Mekah karena rumah tersebut biasanya cuma disewa. Komentar beliau, “Palingkan pandanganmu dari topik ini. Sibukkan dirimu untuk mengurusi kepentingan kaum muslimin”.
Suatu ketika Raja Faishal berkunjung ke kota Madinah dan Syaikh Ibnu Baz ketika itu adalah rektor Universitas Islam Madinah. Ketika itu raja Faishal berkunjung ke rumah Syaikh Ibnu Baz. Saat itu raja Faishal berkata kepada beliau, “Kami akan bangunkan rumah yang layak untukmu”. Menanggapi hal tersebut, beliau hanya diam dan tidak berkomentar. Akhirnya rumah pun dibangun. Ketika panitia pembangunan mau membuat surat kepemilikan rumah atas nama Syaikh Ibnu Baz beliau berkata, “Jangan. Buatlah surat kepemilikan rumah tersebut atas nama rektor Universitas Islam Madinah sehingga jika ada rektor baru penggantiku maka inilah rumah kediamannya”.

Daya Ingat yang Tinggi 
Ada orang yang bercerita bahwa dia bertemu dan mengucapkan salam kepada Syaikh Ibnu Baz setelah lima belas tahun ternyata Syaikh Ibnu Baz masih ingat dengan namanya.
Akan tetapi yang lebih mengherankan adalah kemampuan beliau untuk menghafal jilid dan halaman buku. Bahkan beliau bisa mengoreksi beberapa buku dengan bermodalkan hafalan beliau.
Syaikh Syinqithi, penulis Adhwa-ul Bayan, itu tergolong guru Syaikh Ibnu Baz. Beliau adalah seorang pakar dalam ilmu syar’i dengan kekuatan hafalan yang tidak tertandingi. Syaikh Ibnu Baz sering menghadiri ceramah-ceramah yang disampaikan oleh Syaikh Syinqithi. Beliau kagum dengan cepatnya Syaikh Syinqithi dalam penyampaiannya. Dalam salah satu kaset Syaikh Ibnu Baz mengungkapkan kekagumannya dengan mengatakan, “Maa syaallah. Maa sya Allah”. Satu hari Syaikh Syinqithi sejak usai shalat Shubuh sampai watu dhuha mencari-cari sebuah hadits yang dinyatakan oleh Ibnu Katsir ada dalam sunan Abu Daud. Beliau bolak-balik kitab sunan Abu Daud namun beliau tidak kunjung mendapatkannya. Ketika aku sedang asyik mencari tiba-tiba ada orang yang mengetuk pintu. Aku lantas berdiri dan membuka pintu”. Ternyata Syaikh Ibnu Baz yang datang bertamu. Ketika Ibnu Baz masih di depan pintu dan belum masuk ke dalam rumah, Syaikh Syinqithi berkata, “Ya Syekh Abdul Aziz, Ibnu Katsir menyebutkan bahwa hadits yang bunyinya demikian dan demikian itu ada di Sunan Abu Daud. Sejak usai shalat Shubuh kucari-cari hadits tersebut namun tidak kudapatkan. Di manakah hadits tersebut?”.
Syaikh Ibnu Baz berkata, “Ada…ada di kitab ini halaman sekian”.

Senantiasa Membimbing Manusia
Ada yang menuturkan bahwa dia suatu hari membaca al Qur’an di dekat Syaikh Ibnu Baz dan bacaannya keliru. Mendengar hal tersebut, beliau berkata, “Bukan demikian, perbaiki bacaan al Qur’anmu”. Lalu beliau sendiri yang mengoreksi bacaan orang tersebut. Setelah itu beliau berpesan, “Simakkan bacaan al Qur’anmu pada seorang guru al Qur’an sehingga engkau bisa memperbaiki bacaanmu. Jangan terus menerus seperti ini”.
Suatu hari Syaikh Ibnu Baz berkata kepada orang yang ada di dekatnya, “Apakah engkau rutin membaca al Qur’an dengan target tertentu setiap harinya?”. Orang tersebut berkata, “Aku tidak rutin membaca membaca al Qur’an. Kadang aku membaca dan sekali membaca langsung dengan kadar yang banyak”. Ibnu Baz berkata, “Jangan demikian. Rutinkan membaca al Qur’an. Bukankah jika dalam sehari engkau membaca sebanyak satu juz maka dalam sebulan engkau bisa mengkhatamkan al Qur’an?!. Tiap hari engkau harus punya target yang jelas. Jangan sekedar asal-asalan”.

Teladan Dalam Kedermawanan 
Muhammad bin Baz, kakak beliau, bercerita bahwa saudara kandungnya yaitu Syaikh Abdul Aziz bin Baz dulu ketika kecil suka meminta kepada ibunya tambahan porsi makan siang dan makan malam kemudian dibagikan kepada teman-teman ngajinya.
Karena hal ini, sang kakak pernah menegur adiknya, “Mengapa kau lakukan hal ini terus menerus? Engkau selalu meminta tambahan porsi makan siang dan makan malam kepada ibu. Sedangkan engkau sendiri tahu keadaan ekonomi kita yang pas-pasan bahkan serba kekurangan?!”.
Jawaban Ibnu Baz ketika itu, “Sesungguhnya Allah itu Maha Pemurah. Allah pasti akan melapangkan rizkiNya untuk kita”.
Ada seorang perempuan yang berkirim surat kepada beliau. Isinya perempuan ini bercerita bahwa dia adalah seorang perempuan yang memiliki cacat fisik. Karena tidak ada seorang pun yang berminat untuk menikahinya. Lalu perempuan ini meminta bantuan agar bisa membeli rumah. Dengan pertimbangan seorang perempuan yang memiliki rumah sendiri kemungkinan besar akan ada lelaki yang mau menikahinya karena rumah yang dia miliki.
Setelah surat tersebut dibacakan kepada beliau, beliau berkata, “Tidak masalah”. Beliau lantas meminta sekretaris beliau untuk mengirimkan lebih dari 400 ribu Real guna membelikan rumah untuk perempuan tersebut dengan tujuan agar bisa segera menikah.
Ada seorang di Filipina yang masuk Islam. Setelah masuk Islam, masyarakat di sekelilingnya mengintimidasinya. Bahkan rumahnya pun dirobohkan. Akhirnya orang ini berkirim surat kepada Syaikh Ibnu Baz. Dalam suratnya, orang ini berkata, “Sungguh aku tidak mengetahui di dunia ini orang yang bisa kukirimi surat melainkan dirimu”. Syaikh pun membalas surat tersebut. Di samping itu beliau kirimkan uang sejumlah sepuluh ribu real untuk membantu orang tersebut membangun rumah.
Suatu ketika sopir pribadi beliau, Syahin Abdurrahman dan juru masak beliau, Nashir Ahmad Kholifah bercerita bahwa suatu ketika Syaikh Ibnu Baz pergi ke tempat kediaman beliau di Mekkah. Beliau masuk rumah pada saat waktu makan malam namun beliau tidak mendengar suara orang-orang yang biasa datang ke rumah beliau untuk makan siang dan makan malam. Beliau bertanya kepada salah seorang yang menemani beliau, “Mengapa hari ini, tidak ada orang-orang yang datang? Aku tidak mendengar suara mereka?”.
Orang yang ditanya menjawab, “Satpam melarang mereka”. Mendengar hal tersebut, beliau marah dan melarang satpam melakukan hal ini. Beliau perintahkan satpam agar mempersilahkan semua orang yang ada untuk makan malam di rumah beliau.
Suatu ketika ada orang yang datang ke kantor mufti dan mengucapkan salam kepada Syaikh Ibnu Baz. Orang tersebut adalah orang Afrika yang tidak dikenal identitasnya. Ibnu Baz berkata kepadanya, “Engkau bisa tinggal bersama kami. Engkau jadi tamu kami”.
Beliau tampak ceria dan menyambut orang tersebut lalu beliau minta gaharu atau cendana untuk mewangikan ruangan sebagaimana kebiasaan beliau ketika ada tamu. Orang tersebut berkata, “Kami ingin singgah di tempat Anda”. Jawaban beliau, “Silahkan, silahkan”.
Orang tersebut berkata, “Ya Syaikh, hari ini kami bisa makan siang bersamamu?”. Jawaban beliau, “Silahkan, hari ini bahkan meski setiap hari”.

Semangat Mendapatkan Shaf Pertama 
Syaikh Ibnu Baz pernah menceritakan suatu hal yang menarik yang terjadi ketika beliau muda dan di awal-awal menuntut ilmu agama. Beliau sendiri menuturkan hal ini, “Ada sebuah kejadian yang pernah kualami sendiri. Sampai hari ini aku masih terkesan dengan kejadian tersebut. Kejadian ini terjadi ketika aku masih muda. Aku tergolong orang yang selalu berada di shaf pertama dalam shalat berjamaah. Suatu ketika aku telat datang ke masjid disebabkan membaca beberapa buku yang membahas beberapa permasalahan penting sehingga melalaikan aku dari shalat. Karena terlambat aku tidak mendapatkan shaf pertama dan aku tertinggal beberapa rakaat. Yang menjadi imam masjid adalah hakim kota Riyadh yaitu Syaikh Shalih bin Abdul Aziz alu Syaikh dan beliau adalah salah seorang guru tempatku untuk menimba ilmu. Setelah beliau salam, beliau melihatku masih mengerjakan shalat di ujung shaf karena tertinggal beberapa rakaat. Realita ini sangat mengesankan diri beliau.
Akhirnya beliau menyampaikan kultum. Salah satu poin yang beliau sampaikan adalah, “Sebagian orang sibuk dengan aktivitasnya sehingga menjadi makmum masbuk”. Mendengar kalimat tersebut aku mengerti bahwa akulah yang beliau maksudkan. Sejak saat itu aku tidak pernah telat dalam shalat berjamaah. Inilah sebuah peristiwa yang tak akan pernah terlupa dalam hidupku”.
Sungguh kondisi kita dalam masalah terlambat shalat berjamaah sangat memprihatinkan. Sering kali hal ini terjadi pada orang-orang yang mengerti ilmu agama. Duh! seandainya yang menyebabkan kita telat shalat berjamaah adalah kesibukan untuk mentelaah kitab-kitab para ulama dan mengkaji beberapa permasalahan yang penting.

Menghormati Syiar Adzan 
Saat beliau berada di kantor beliau sebagai seorang mufti lalu terdengar adzan maka beliau hentikan aktivitas beliau. Jika saat muadzin selesai ada pegawai kantor yang datang dan mengatakan, “Wahai Syaikh ada permasalahan demikian dan demikian”, niscaya beliau akan berkata, “Engkau tidak menirukan ucapan muadzin?! Engkau tidak mendengarkan adzan?! Engkau masih bekerja ketika ada suara adzan?!”.

Semangat dalam Menerapkan Sunnah
Pada suatu hari-meski kisah ini sebenarnya mengandung guyonan -sebuah gelas berisi jus disuguhkan kepada beliau. Beliau lantas meminumnya. Setelah beliau selesai minum sebuah gelas kedua pun disuguhkan kepada beliau. Beliau mengatakan, “Perutku sudah tidak muat”. Akan tetapi orang yang menyuguhkan terus mendesak beliau agar minum. Setelah gelas kedua beliau minum beliau mengatakan-dengan nada guyon-, “Tuangkan untuk yang ketiga”. Beliau ingin agar berakhir dengan bilangan ganjil.
Ketika beliau sakit yang mengantarkan beliau kepada kematian, jika pelayan beliau ingin memasangkan sepatu atau kaos kaki namun salah karena mendahulukan kaki kiri maka beliau menolak dan menjauhkan kaki beliau hingga pelayan tersebut memulai dengan kaki kanan.

Maraji’ : Ma’alim Tarbawiyyah min Sirah al Imam Abdul Aziz bin Baz karya Muhammad ad-Duhaim ; ww.ustadzaris.com, www.almunir.com dan lainnya.

0 Response to "Begitu Sederhana, Begitu Luar Biasa"

Poskan Komentar