Menolak Pluralisme

Posted by Wahdah Islamiyah Kolaka Jumat, 22 April 2011 19.42
Para penggiat pluralisme agama kembali bermunculan. Yang paling anyar dan mencengangkan adalah munculnya film bertajuk “?” (baca : tanda tanya) yang sarat dengan pesan pluralisme agama. Agama Islam yang suci jelas menolak paham ini. Para ulama terdahulu hingga hari ini senantiasa memberikan nasehatnya kepada umat agar mewaspadai tumbuhnya paham pluralisme agama. 

Di antara hembusan propaganda paham ini yakni seruan kepada wihdah al-adyan : penyatuan agama samawi : Islam, Yahudi dan Nasrani, serta beberapa persoalan yang merupakan dampak dari seruan itu, seperti masalah pembangunan masjid, gereja dan sinagog dalam satu komplek, di lingkungan universitas, pelabuhan udara dan tempat-tempat umum. Berikut juga seruan mencetak al- Qur`an al-Karim, Taurat dan Injil dalam satu jilid. Dan masih banyak lagi dampak propaganda penyatuan agama tersebut. 

Berikut ini, kami tuliskan fatwa dari Lajnah Daimah Lil Buhuts Ilmiah Wal Ifta’ Fatwa No : 19402 tertanggal 25/1/1418 H (Komite Tetap Untuk Riset Ilmiah dan Fatwa) yang berisi Kaidah-Kaidah Menolak Paham Pluralisme Agama. Semoga kaidah-kaidah ini dapat kita pahami dan kita dakwahkan kepada umat agar tidak terjatuh dalam perangkap pluralisme agama yang akan mengundang kemurkaan Allah Azza Wa Jalla 

Apa Itu Pluralisme? 

Sebelum kita membahas kaidah–kaidah syar’iyah dalam menolak paham pluralisme, ada baiknya kita pahami dulu, apa itu pluralisme agama? 

Majelis Ulama Indonesia, dalam Munas-nya yang ke-7 pada tanggal 25-29 Juli 2005 di Jakarta mendefinisikan pluralisme agama sebagai berikut: 

Pluralisme Agama adalah suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif. Oleh karena itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama lain salah. 

Kaidah Dasar Menolak Paham Pluralisme Agama

Pertama: 
Termasuk kaidah dasar aqidah Islamiyah yang dimaklumi secara qath’i oleh segenap kaum muslimin ialah tidak ada agama yang benar di atas muka bumi selain Dinul Islam. Dinul Islam adalah penutup seluruh agama-agama yang ada dan menghapus agama, syariat dan millah sebelumnya. Tidak ada satu agamapun di atas muka bumi yang boleh dipakai sebagai tatanan beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala selain Dinul Islam. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ 

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan Dia di akhirat Termasuk orang-orang yang rugi [QS. Ali Imran : 85]. 

Yang disebut dengan agama Islam adalah agama yang Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam bawa dan bukan agama yang lain. 

Kedua: 
Di antara kaidah dasar aqidah Islamiyah, yaitu meyakini bahwa Kitabullah, al-Qur`an merupakan kitab suci terakhir yang diturunkah Allah Rabbul ‘Alamin. Meyakini al-Qur`an menghapus kitab-kitab sebelumnya, seperti Taurat, Zabur, Injil dan lainnya. Dia juga sebagai standar kebenaran kitab-kitab sebelumnya. Tidak ada satupun kitab suci yang berhak dipakai sebagai acuan dalam beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala selain al-Qur`an al-Karim. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ 

Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, Yaitu Kitab-Kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap Kitab-Kitab yang lain itu; Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu [QS. Al-Maidah : 48]. 

Ketiga: 
Wajib mengimani bahwa kitab Taurat dan Injil telah dihapus dengan al-Qur`an al-Karim. Wajib meyakini, bahwa keduanya telah banyak diselewengkan dan dirubah, ditambah dan dikurangi. Sebagaimana ditegaskan dalam ayat-ayat al-Qur`an, di antaranya firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, artinya: 

(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuki mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit diantara mereka (yang tidak berkhianat) [QS. Al- Maidah : 13].

Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلا 

Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; "Ini dari Allah", (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. [QS. al-Baqarah : 79]. 

Keempat: 
Meyakini bahwa nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai penutup para nabi dan rasul, sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا 

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi Dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu [QS. Al Ahzab : 40]. 

Tidak ada lagi rasul yang wajib diikuti selain Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Telah diriwayatkan secara shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau sangat marah ketika melihat Umar bin Khaththab radhiallahu anhu memegang lembaran yang di dalamnya terdapat beberapa potongan ayat Taurat. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata,”Apakah engkau masih ragu, wahai Ibnul Khaththab? Bukankah aku telah membawa agama yang putih bersih? Sekiranya saudaraku Musa ‘Alaihi Salam hidup sekarang ini, maka tidak ada keluasan baginya kecuali mengikuti syariatku. [HR. Ahmad, Ad Darimi dan lainnya]. 

Sebagaimana termasuk dari kaidah dasar aqidah Islamiyah, yaitu meyakini bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam diutus kepada segenap umat manusia. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ 

Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui [QS. Saba’: 28]. 

Kelima: 
Wajib meyakini kekufuran orang-orang yang menolak memeluk Islam dari kalangan Yahudi, Nasrani maupun yang lainnya. Wajib menamai mereka kafir, meyakini bahwa mereka adalah musuh Allah, RasulNya dan kaum mukminin, serta meyakini bahwa mereka sebagai penduduk Neraka, sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ 

Sesungguhnya orang-orang yang kafir Yakni ahli kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk [QS. Al Bayyinah : 6]. 

Dalam Shahih Muslim diriwayatkan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, artinya: ”Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya! Tidak ada seorangpun dari umat manusia yang mendengar kerasulanku, baik ia seorang Yahudi maupun Nasrani lalu mati dalam keadaan belum beriman kepada ajaran yang kubawa, melainkan ia pasti termasuk penduduk neraka.” 

Oleh karena itu pula, barangsiapa tidak mengkafirkan Yahudi dan Nasrani, maka dia kafir. Sebagai konsekuensi dari kaidah syariat: barangsiapa tidak mengkafirkan orang kafir, maka ia kafir. 

Keenam: 
Propaganda wihdatul adyan (penyatuan agama, pluralisme agama) dan menampilkannya dalam satu kesatuan adalah propaganda dan makar yang sangat busuk. Misi propaganda itu mencampur adukkan yang hak dengan yang batil, merubuhkan Islam dan menghancurkan pilar-pilarnya serta menyeret pemeluknya kepada kemurtadan. Dalilnya firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

وَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا فَتَكُونُونَ سَوَاءً 

Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka) [QS. An Nisa`: 89]. 

Ketujuh: 
Di antara dampak negatif propaganda keji tersebut, yaitu hilangnya pembeda antara Islam dengan kekufuran, yang haq dengan yang batil, yang ma’ruf dengan yang mungkar, dan hilangnya batas pemisah antara kaum muslimin dengan kaum kafir. Tidak ada lagi wala’ dan bara’. Tidak ada lagi seruan jihad dan perang demi menegakkan Kalimatullah di atas muka bumi, sedangkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, artinya: 
Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari Kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (Yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah[638] dengan patuh sedang mereka dalam Keadaan tunduk [QS. At Taubah : 29]. 

Kedelapan: 
Propaganda tersebut meridhai kekufuran terhadap Allah Subhanahu Wa Ta’ala, membatalkan kebenaran al-Qur`an, membatalkan fungsinya sebagai penghapus kitab-kitab suci sebelumnya, membatalkan fungsi Islam yang menghapus syariat-syariat dan agama-agama sebelumnya. Berdasarkan hal tersebut, maka pemikiran tersebut secara syar’i tertolak, haram hukumnya berdasarkan dalil-dalil syar’i dari al- Qur`an, al-Sunnah dan Ijma’. 

Kesembilan: 
Seorang muslim yang mengimani Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebagai Rabb-nya, Islam sebagai agamanya, Muhammad sebagai nabi dan rasulNya, (maka ia) tidak boleh mengajak orang kepada pemikiran keji tersebut. Tidak boleh pula mendorong orang lain kepadanya dan menggulirkannya di tengah-tengah kaum muslimin; apalagi menyambutnya, mengikuti seminar-seminar dan pertemuan-pertemuan, atau menggabungkan diri dalam perkumpulan-perkumpulannya.
Kesepuluh: 
Satu hal yang mesti diketahui, bahwa mendakwahi orang-orang kafir, khususnya ahli kitab meruapakan kewajiban kaum muslimin, berdasarkan nash-nash yang jelas dari al-Qur`an dan al-Sunnah. Hendaknya dakwah tersebut dilakukan lewat penjelasan dan dialog dengan cara yang terbaik, serta tidak menanggalkan prinsip-prinsip Islam. Hal itu dilakukan agar mereka menerima Islam dan bersedia memeluknya, atau untuk menegakkan hujjah atas mereka. 
Hanya kepada Allah kita memohon, agar melindungi kita dari fitnah yang menyesatkan, dan agar menjadikan kita sebagai juru penunjuk kepada hidayah dan sebagai pelindung Dinul Islam di atas cahaya hidayah dariNya, hingga kita bertemu denganNya dalam keadaan ridha kepada kita. 
Wabillahi Taufiq.

Sumber: 
  • Majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun IX/1426H/2005M;
  • Buku : Pluralisme Agama : Haram, Fatwa MUI yang Tegas dan Tidak Kontroversial, DR. Adian Husaini, MA. Pustaka Al Kausar Jakarta,2005.

0 Response to "Menolak Pluralisme"

Poskan Komentar