Mengapa Dunia Islam Tak Merestui Reformasi Bahrain

Posted by Wahdah Islamiyah Kolaka Jumat, 15 April 2011 19.05
Rentetan gerakan reformasi sosial dan politik di Timur Tengah begerak bagai bola panas. Hanya dalam satu kuartal pertama tahun ini, dua pemerintahan otoriter: Tunisia dan Mesir; menyerah kepada tuntutan warga mereka. 

Dunia pun bersimpati. Pasalnya, tuntutan warga dua negara tersebut steril dari intervensi asing, serta lahir dari tuntutan untuk memperbaiki carut-marut ekonomi dan politik dalam negeri. 

Sementara kini, mata dunia terpaku pada dua negeri lain di kawasan: Libya dan Bahrain. Dunia Arab sendiri menunjukkan simpati kepada tuntutan masyarakat Libya yang menginginkan pemerintahannya diganti. 

Semua tahu, Moamar Khadafi adalah kawan dekat presiden Tunisia yang terguling, Zine El Abidin Ben Ali. Dia juga sahabat karib Hosni Mubarak, presiden Mesir yang diturunkan rakyatnya. Bukan mustahil, nasib Khadafi akan menyusul dua koleganya. Sikap Dunia Arab tersebut kemudian disusul oleh dukungan politik dan militer Barat. 

Namun, bagaimana dengan Bahrain? Mengapa Dunia Arab dan Islam tidak berpihak kepada kelompok reformis? Bukankah sejumlah media juga telah berperan besar mengangkat krisis Bahrain ke mata dunia? 
Sekurangnya ada dua alasan sehingga gerakan reformasi di Bahrain justru mengundang curiga dunia. 

Pertama, campur tangan Iran dengan ideologi revolusi Syiahnya. Sejak awal gerakan reformasi di Bahrain, faksi Syiah tidak menunjukkan itikad baik. Partai oposisi, El Wefaq, yang mewakili komunitas Syiah Bahrain senantiasa bersikap keras kepala. 

Ketika tuntutan masyarakat untuk reformasi bidang ekonomi disambut baik oleh pemerintah yang sah, partai El Wefaq secara arogan menolak. Dalam sidang parlemen, anggota-anggota El Wefaq secara demonstratif melakukan aksi walk out. 

Untuk meredam panasnya situasi politik, Raja Hamad Ben Salman menawarkan komunikasi tanpa syarat dengan seluruh faksi di Bahrain. Dia bahkan membebaskan seluruh tawanan politik serta amnesti mutlak terhadap mereka yang belum dipenjara. Tetapi faksi Syiah tidak menunjukkan sikap melunak. Mereka terus memprovokasi masyarakat. Mereka bahkan meningkatkan tawaran. Bukan reformasi di bidang ekonomi, tapi untuk menumbangkan pemerintah. 

Tujuan El Wefaq dengan ideologi Syiahnya jelas: revolusi. Akibatnya, rakyat tak berdosa yang menjadi korban. Media melaporkan lebih dari 1000 korban berjatuhan, sejak awal krisis Bahrain. 

Dimana tangan Iran bermain? Patut diingat, dalam sekte Syiah terdapat garis hierarki spiritual. Setiap penganut Syiah sejati memiliki marja’ (semacam penasehat spiritual) yang mengemudikan kehidupan spiritual sekaligus paham politiknya. Nah, sentra-sentra marja Syiah justru terdapat di Iran, dalam tembok-tembok hawzah (pesantren) mereka. 

Penganut Syiah di belahan Bumi manapun, dikendalikan oleh marja’ mereka, termasuk Bahrain. Tak heran bila Syiah Bahrain sebenarnya merupakan pion yang dikendalikan dari Iran. Sehingga strategi pergerakan, slogan-slogan yang diangkat di Bahrain, didikte Iran. 

Rahasia politik yang sebelumnya terbungkus rapat itu kelak dibongkar sendiri oleh elit politik Iran. Ketika negara-negara Teluk, seperti Saudi Arabia dan Uni Emirat Arab (UEA) bertindak, Iran meradang. 

Sesuai dengan pakta Dewan Kerja Sama Teluk Arab (media pro-Iran secara licik menyebut: Teluk Persia), yang terdiri dari Kuwait, Saudi Arabia, UEA, Oman, dan Qatar; segenap negara telah berkomitmen untuk saling menjaga kondisi keamanan kawasan. Dalam rangka itu, dibentuklah Perisai Aljazeera (1982) yang dikendalikan oleh Dewan Agung Militer Dewan Kerja Sama Teluk Arab. 

Ditambah pula, Bahrain sendiri telah meminta secara langsung bantuan negara-negara Teluk. Untuk itu, Saudi Arabia mengirim 1000 militernya, menyusul UEA dengan 500 polisi; membantu pemerintah Bahrain memulihkan keamanan dan stabilitas kawasan. 

Iran bereaksi. Lewat menlunya, Ali Akbar Salehi, Iran bersurat ke PBB dan Organisasi Konferensi Islam (OKI) serta Liga Arab (16/3). Sebagaimana biasa, Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad juga sesumbar tentang militer asing di Bahrain. 

Dunia pun tersadar, mengapa Iran bereaksi sangat agresif? Iran terlalu vulgar dengan memainkan jurus yang sama pada tiga negara berbeda. Bila di Libanon ada boneka Iran, Hassan Nasrullah dengan Hizbullahnya, di Irak ada El Jafari dan El Maliki, maka di Bahrain, Iran memainkan Ali Salman dengan partai El Wefaq. 

Kedua, gerakan reformasi Bahrain yang sarat dengan nuansa sektarian yang radikal. Dalam melakukan aksinya, kelompok yang mengklaim menginginkan reformasi Bahrain melakukan tindakan kekerasan terarah terhadap masyarakat Sunni yang mayoritas. Mereka juga merusak fasilitas-fasilitas kesehatan dan pendidikan umum. 

Media Bahrain melaporkan, sekelompok teroris Syi’ah telah melakukan aksi pelanggaran HAM berat. Mereka memukul disertai penyiksaan dengan memotong lidah seorang muadzin (berkebangsaan Asia) yang bekerja di sebuah masjid di ibukota Manama. Surat kabar itu menunjukkan bahwa muadzin itu sekarang terbaring koma di rumah sakit dalam kondisi luka serius. 

Sedangkan surat kabar Albalad mengungkapkan seorang pekerja asing Bengali asal Bangladesh telah tewas akibat menderita serangan warga Syi’ah berupa tusukan fatal dan dipotongnya lidahnya di pusat kota Manama. Ahmad Ibrahim, Pejabat Kedutaan Besar Bangladesh di Bahrain melaporkan sejumlah kesaksian penganiayaan demonstran Syiah terhadap warganya. Bila benar faksi Syiah menginginkan reformasi, mengapa mereka menyerang kelompok tertentu? Apalagi dalam pawai-pawai mereka, tidak jarang mereka mempersenjatai diri dengan pedang dan senjata tajam lainnya. 

Ambisi Syi’ah 

Ambisi Syiah terhadap wilayah-wilayah Islam masih terpelihara dengan jelas hingga hari ini. Pertama, semakin populernya negara Iran melalui tokohnya yang menjadi ikon Syiah yaitu Ahmadinejad. Kedua, Hizbullah di Libanon dengan tokoh kharismatik Sayid Hasan Nasrullah. Pengaruh Syiah di Timur Tengah makin besar ketika aliran ini memberikan dukungan pada Amerika dalam penggulingan pemerintahan Saddam, bahkan kemudian Syiah berhasil menguasai pemerintahan Iraq itu sendiri. 

Di bawah kekuasaan perdana menteri Nuri al-Maliki dari partai Syiah Hizbud Dakwah, Syiah Iraq melakukan depolitisasi dan intimidasi fisik (pembunuhan, penghancuran, pengusiran dan penyiksaan) terhadap Ahlus Sunnah. Ketua Majlis Ulama Sunnah Iraq (Hay’ah al-‘Ulama al-Sunnah) mengatakan bahwa antara tahun 2003-2006 telah terbunuh lebih dari 100.000 orang Sunni dan lebih dari jumlah itu yang terusir. Begitu hebatnya pembantaian umat Islam di Iraq dibawah rezim Syiah baru ini, sampai-sampai tahun 2006 Organisasi Konferensi Islam (OKI) melakukan pertemuan Sunni-Syi’i di Makkah hingga keluarlah Dokumen Makkah mengatasi konflik sektarian Iraq. Namun, dokumen yang dibuat untuk menengahi konflik Iraq ini tidak membawa perubahan apapun. 

Pada saat yang sama, perkembangan Syiah juga sudah semakin melebar. Daerah-daerah yang tadinya steril dari Syiah seperti Mesir dan Saudi pun mulai mengalami gejala konflik yang sama. Hal ini disamping terjadi di lapangan, juga dinyatakan secara terbuka oleh tokoh-tokoh Syiah sendiri. Dalam artikel Times London (10/6/2007) Ali Syamhani sebagai pejabat tinggi dan perumus kebijakan militer Syiah Iran mengatakan bahwa persenjataan Iran tidak hanya disiapkan untuk memukul kepentingan Amerika di Timur Tengah saja, namun juga akan diarahkan kepada sumber-sumber kekuatan negara-negara Arab. Sementara di negara-negara bagian Emirat, jumlah Syiah terus bertambah hingga mencapai 15 persen. Jadi, Syiah ini bukan semata-mata sekte keagamaan. Dia (sekali lagi) adalah gerakan politik. Semua gerakan Syiah selalu menyimpan agenda-adenda politik. 

Di Indonesia syi’ah dibiarkan berkembang, padahal Syiah juga memiliki penyimpangan yang tidak berbeda dengan berbagai sekte dan aliran yang telah dinyatakan sesat oleh MUI maupun Departemen Agama sebelumnya. Penyimpangan dalam Syiah hampir pada semua prinsip-prinsip dasar Islam, seperti prinsip tentang tuhan, al-Qur’an, kenabian, rukun iman dan lain-lain. Umat Islam dan pemerintah jangan main-main dengan aliran yang satu ini. Syi’ah bukan aliran biasa. Jika membesar suatu saat, Syi’ah akan menjadi kelompok yang lebih tua, lebih senior dan lebih kuat dari kemampuan pemerintah itu sendiri. Kalau tidak ada kesadaran dan antisipasi dini, semua yang dikhwatirkan pemerintah terhadap kasus aliran sesat -penodaan agama, keresahan sosial hingga konflik sektarian- akan terjadi lebih berat oleh kehadiran Syiah dibanding seluruh sekte manapun. Jangan tunggu sampai membesar apalagi memiliki ormas dan bebas melakukan acara-acara berskala nasional. 

Haedar Bazargan dengan penambahan seperlunya
 

0 Response to "Mengapa Dunia Islam Tak Merestui Reformasi Bahrain"

Poskan Komentar