Surat Al-Ikhlas Menyamai Sepertiga Al-Qur'an

Posted by Wahdah Islamiyah Kolaka Kamis, 03 Maret 2011 17.31

Sesungguhnya karunia Allah sangat luas. Dia telah memberi banyak karunia kepada ummat ini. Dia mengganti pendeknya usia dengan tambahan pahala atas amalan yang sedikit. Yang mengherankan, hal itu menjadikan sebagian manusia bukan malah lebih bersemangat untuk menambah kebaikan tetapi semakin membuatnya malas untuk beribadah, atau malah merasa heran dan mengingkari adanya karunia dan pahala yang besar ini.

Telah hadir hadits shahih dari Nabi saw yang menunjukkan bahwa surat al-Ikhlash [قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ] setara dengan sepertiga alQur`an. Diantaranya adalah hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari (6643) dari Abu Sa`id ra, bahwa ada seseorang mendengar orang lain membaca [قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ], dia mengulang-ulanginya, maka di pagi harinya dia mendatangi Rasulullah saw lalu menceritakannya, seolah-olah orang ini menganggapnya sedikit. Maka Rasul saw bersabda: "Demi Allah yang jiwaku ada ditangan-Nya, sesungguhnya ia menyamai sepertiga al-Qur`an."
Imam Muslim meriwayatkan (811) dari Abu Darda` dari Nabi saw beliau bersabda: "Apakah salah seorang kamu tidak mampu membaca sepertiga al-Qur`an dalam satu malam? Mereka bertanya: "Bagaimanakah ia membaca sepertiga al-Qur`an? Beliau bersabda: [قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ] menyamai sepertiga al-Qur`an."
Imam Muslim juga meriwayatkan (812) dari Abu Hurairah ra, dia berkata Rasulullah saw bersabda: "Berkumpullah, aku akan membacakan pada kalian sepertiga al-Qur`an." Maka berkumpullah orang-orang yang berkumpul, kemudian Nabi saw keluar lalu membaca [قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ], kemudian beliau masuk. Maka sebagian kita berkata kepada sebagian yang lain: "Saya mengira ini adalah wahyu datang dari langit. Maka itulah yang membuat beliau masuk rumah, kemudian Nabi Allah saw keluar lagi, lalu bersabda: "Saya tadi mengatakan kepada kalian bahwa saya akan membacakan pada kalian sepertiga al-Qur`an, ingatlah sesungguhnya ia menyamai sepertiga al-Qur`an."

Makna hadits ini.
Sesungguhnya ada dua hal yang berbeda yaitu jaza` dan ijza`. Dan yang membuat saudara penanya bingung adalah karena tidak membedakan antara keduanya. Jaza` adalah balasan atau pahala yang diberikan oleh Allah atas sebuah ketaatan. Sedangkan ijza` adalah jika sesuatu itu telah menutupi atau mencukupi sesuatu yang lain.
Maka membaca [قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ] memiliki jaza` (balasan) bacaan sepertiga al-Qur`an. Bukan maksudnya ia telah mencukupi bacaan sepertiga al-Qur`an. Maka barangsiapa misalnya bernadzar untuk membaca sepertiga al-Qur`an, tidak cukup baginya bila hanya membaca [قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ], karena ia menyamai sepertiga al-Qur`an dalam jaza` bukan dalam ijza`.

Kasus yang sama dalam syariat ini adalah apa yang Allah berikan kepada orang shalat sekali di Masjidil Harom, yaitu ia diberi pahala seratus ribu shalat, apa ada orang yang memahami bahwa maksudnya kita tidak perlu lagi shalat berpuluh-puluh tahun karena telah cukup dengan shalat sekali di Masjidil Harom yang manyamai seratus ribu shalat itu?! Tidak. Ini hanya sama dalam jaza` bukan dalam ijza`.

Begitulah, tidak seorang ulama pun yang mengatakan bahwa kita telah cukup membaca [قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ] dan tidak perlu lagi membaca sepertiga dari al-Qur`an. Yang demikian itu karena pendapat yang benar dari para ahli ilmu adalah surat ini memiliki keutamaan sangat hebat, karena al-Qur`an itu diturunkan atas tiga bagian kandungan; sepertiganya hukum, sepertiganya janji dan ancaman dan sepertiganya lagi adalah asma dan sifat.

Sedangkan surat ini telah merangkum asma dan sifat. Ini adalah pendapat Abul Abbas Ibn Suraij dan didukung serta diapresiasi oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam al-Majmu` (17/103).
Seorang muslim tidak dapat lepas dari dua hal yang lain yaitu hukum dan janji serta ancaman. Dia tidak akan mampu mengetahuinya kecuali dengan memperhatikan seluruh al-Qur`an dengan seksama. Dan tidak mungkin orang yang berdiri dihadapan surat al-Shomad (al-Ikhlash) saja dapat memahami dua hal ini.

Ibnu Taimiyah berkata: "Pahala-pahala itu memiliki jenis-jenis yang berbeda sebagaimana harta juga memiliki jenis-jenis yang berbeda-beda. Ada yang dimakan, diminum, diapakai, dihuni, dibuat sebagai alat tukar dan lain-lain. Apabila seseorang memiliki salah satu jenis harta ini senilai seribu dinar, misalnya, ia tidak harus mengesampingkan jenis-jenis harta yang lain. Tetapi apabila dia memiliki harta dari jenis makanan, ia membutuhkan pakaian, papan dan lain-lain. Begitu pula kalau ia memiliki selain uang, dia membutuhkan semua macam yang diperlukan kemanfaatannya. Surat al-Fatihah berisi pujian dan do`a, suatu hajat yang diperlukan oleh manusia dan tidak dapat diwakili oleh [قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ], meskipun pahalanya sangat agung. Maka pahala besar itu diperlukan oleh pemiliknya bersama-sama dengan pahala al-Fatihah, oleh karena itu seandainya ia shalat dengan membacanya tanpa al-fatihah maka tidak sah shalatnya. Seandainya dia membaca seluruh al-Qur`an kecuali al-Fatihah, juga tidak sah shalatnya karena makna-makna al-Fatihah mengandung hajat-hajat yang prinsip dan pokok bagi manusia," (Majmu` al-Fatawa: 17/131)

Beliau رحمه الله berkata: "Al-Qur`an, manusia membutuhkan kepada isinya yang berupa perintah, larangan dan kisah-kisah, meskipun tauhid lebih agung dari itu semua. Apabila manusia perlu mengetahui perbuatan-perbuatan yang diperintahkan kepadanya dan yang dilarang daripadanya, atau perlu kepada anjuran, nasehat dan pelajaran yang dikandung oleh kisah-kisah dan janji serta ancaman maka yang lain tidak dapat mewakilinya; misalnya tauhid tidak menutupi kebutuhan ini, kisah tidak menutupi kebutuhan perintah dan larangan, dan perintah serta larangan tidak dapat menutupi kebutuhan kisah-kisah ini. Tetapi semua yang diturunkan oleh Allah diperlukan oleh manusia dan dibutuhkan.

Apabila seseorang membaca [قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ] maka ia memperoleh pahala seukuran pahala sepertiga al-Qur`an, tetapi tidak harus pahala itu dari jenis pahala yang dihasilkan oleh bagian al-quran yang lain. Tetapi ia terkadang memerlukan kepada jenis pahala yang dihasilkan oleh perintah, larangan dan kisah. Maka [قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ] tidak dapat menutupi ini dan tidak mewakilinya."
Beliau terus mengatakan:" Pengetahuan-pengetahuan yang dihasilkan oleh bacaan surat-surat al-Qur`an yang lain tidak dapat dicapai hanya dengan membaca surat ini, maka orang yang membaca al-Qur`an secara keseluruhan lebih utama daripada yang hanya membacanya tiga kali. Dari sisi ini, karena keaneka ragaman pahala. Meskipun pembaca [قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ] tiga kali mendapatkan pahala seukuran pahala tersebut, tetapi ia Cuma satu jenis, tidak mengandung macam-macam jenis yang dibutuhkan oleh hamba. Seperi orang yang memiliki tiga ribu dinar dan orang yang lain memiliki makanan, pakaian, rumah dan uang yang keseluruhannya senilai tiga ribu dinar maka orang yang kedua ini memiliki seluruh barang-barang yang ia buruhkan. Sedangkan orang pertama tetap memerlukan apa-apa yang ada pada orang yang kedua ini. Meskipun nilai kakayaannya sama dengan kekayaannya. Begitu pula kalau orang orang memiliki makanan paling mewah senilai tiga ribu dinar, ia juga tetap memerlukan pakaian dan tempat tinggal serta barang-barang yang dapat melindungi darinya seperti senjata, obat dan lain sebagainya, dari hal-hal yang tidak dapat dipenuhi oleh sekedar makanan." (al-Majmu` Fatawa: 17/..)

Sumber:
- Majalah Qiblati Edisi 1 Tahun 1

0 Response to "Surat Al-Ikhlas Menyamai Sepertiga Al-Qur'an"

Poskan Komentar