Hakekat Cinta Rasul

Posted by Wahdah Islamiyah Kolaka Kamis, 17 Februari 2011 17.38
Pemuatan karikatur Nabi Shalallahu 'alaihi wassallam di beberapa koran Eropa, dengan maksud menghina dan melecehkan Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassallam , sangat wajar bila mengundang aksi protes umat Islam di pelbagai belahan dunia, mulai dari demonstrasi, boikot ekonomi bahkan sampai pada tuntutan untuk memutuskan hubungan diplomatik.
Sebagai umat Islam, tentu kita tidak terima penghinaan yang telah mereka lakukan kepada Rasul yang mulia, manusia yang kita agungkan, yang kita cintai; Muhammad Shalallahu 'alaihi wassallam. Akan tetapi, sudah benarkah cara kita mengekspresikan pengagungan dan kecintaan kita selama ini kepada Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassallam ataukah secara tidak sadar kita termasuk orang yang melecehkan beliau dan sunnahnya?

WUJUD KECINTAAN TERHADAP RASULULLAH
1. Mengimani dan Membenarkan Seluruh Ajaran Beliau
Iman kepada Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassallam adalah mengimani bahwa Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassallam adalah seorang manusia biasa yang diutus oleh Allah Subhaanahu Wata'ala yang dilengkapi dengan wahyu untuk sekalian manusia bahkan untuk sekalian alam. Dan apa yang dibawanya berasal dari Allah dan bukanlah dari perkataan hawa nafsu beliau. Demikian pula meyakini bahwa beliau bukanlah orang bodoh dan sesat sebagaimana dituduhkan kaum musyrikin saat itu. Sangat banyak dalil dalam Al Qur'an yang menunjukkan wajibnya beriman kepada Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassallam.
2. Mencintai Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassallam dan ahlul bait serta sahabat-sahabat beliau dan berwala' (loyalitas) kepada siapa saja yang berwala' kepada Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassallam dan senantiasa istiqamah kepada sunnah-sunnah beliau.
Mencintai Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassallam bukan hanya sekadar angan-angan, ucapan atau pengakuan. Telah banyak hadits Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassallam yang menceritakan tentang orang-orang yang mengaku cinta kepada Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassallam tetapi mereka tidak mau mengamalkan sunnah-sunnahnya. Bahkan Allah Subhaanahu Wata'ala menurunkan sebuah ayat yang menurut Ibnu Katsir—rahimahullah—bahwa ayat ini adalah hakim/pemutus terhadap kedustaan orang-orang yang mengaku cinta kepada Allah dan Rasul-Nya namun tidak mau melaksanakan sunnah Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassallam, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Subhaanahu Wata'ala, artinya:
"Katakanlah(Muhammad): "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Ali Imran: 31).
Para sahabat Radhiyallahu anhu adalah orang-orang yang paling besar cintanya dan penghormatannya kepada Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassallam. Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu anhu, ketika dalam perjalanan menyertai Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassallam berhijrah, kadang bergerak ke depan, ke belakang, ke samping untuk melindungi Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassallam. Dia tidak akan rela jika ada yang mengganggu dan mencelakakan Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassallam. Sampai suatu saat, ketika Abu Bakar terkena sengatan binatang berbisa, dan kala itu Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassallam sedang berbaring di paha Abu Bakar Radhiyallahu anhu, betapa sakitnya, sampai air matanya menetes mengenai wajah Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassallam. Tapi karena cintanya kepada Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassallam, ia rela menahan rasa sakit yang sangat demi tidak mengganggu ketenangan tidur Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassallam. Dalam sebuah hadits, Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassallam bersabda:
 لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْن

"Tidaklah kalian beriman (dengan sempurna) sampai aku lebih dicintainya dari bapaknya, anaknya dan seluruh manusia." (Muttafaq 'Alaihi).

Hadits ini menunjukkan bahwa kecintaan kita kepada Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassallam bukan sekadar cinta, namun cinta kepada Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassallam harus dinomorsatukan di atas cinta kepada sekalian makhluk.
3. Mencari atau mempelajari sunnah-sunnah beliau Shalallahu 'alaihi wassallam serta mempelajari akhlak-akhlak dan adab-adab Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassallam, dan menahan diri dari berbicara tentang sunnah yang belum diketahuinya.
Maksudnya adalah, tidak boleh dengan mudahnya kita mengatakan hadits ini shahih, atau hadits ini dhaif, hadits ini ditolak atau maksud hadits ini begini, tanpa ilmu dan hanya sekadar prasangka belaka. Berapa banyak orang sekarang ini yang berkata dengan sombongnya ketika ada hadits yang dianggapnya bertentangan dengan akal, "Ini hadits yang lemah." Padahal, mungkin saja ia tidak menguasai secara baik bahasa Arab, kaedah ushuliyah dan fiqhiyah serta ilmu mushtalah hadits ,namun dengan beraninya ia mengatakan, "Ini menurut pendapat saya."
4. Beruswah dan berqudwah kepada Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassallam serta melaksanakan seluruh perintah dan meninggalkan seluruh larangannya.
Artinya, kita harus menjadikan Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassallam sebagai idola atau qudwah kita, dengan kata lain, tidak ada manusia yang lebih besar di hati kita melebihi Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassallam. Demikian pula, kita tidak beribadah kepada Allah Subhaanahu Wata'ala kecuali dengan apa-apa yang disyariatkan oleh Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassallam. Ini berarti bahwa kita harus meninggalkan segala sesuatu yang sifatnya bid'ah, yaitu hal-hal baru yang dianggap sebagai bagian dari syariat Islam yang tidak pernah diperintahkan oleh Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassallam, sekaligus kita tidak mendatangkan bid'ah ke dalam syariat yang sudah lengkap ini.
Dahulu, Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassallam dengan gigih berjuang membela Islam. Lalu mengapa kita hanya membaca sejarahnya, mengapa kita hanya mengagumi kisah-kisah kepahlawanan beliau, tapi tak ikut menjadi pahlawan? Mengapa kita hanya sibuk menyanjung akhlak mulianya sementara kita tetap dalam tindak amoral? Kalau sudah demikian, apa bedanya kita dengan orang-orang Yahudi dan Nashrani yang telah mengangkat tokoh-tokohnya sebagai tuhan-tuhannya? Mereka mengagumi kisah-kisah kepahlawanannya, mereka antusias membacanya, lalu mereka menghormati kuburannya bahkan menyembahnya. Akan tetapi Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassallam tidak ingin dikagumi dan dikultuskan bahkan beliau merasa sangat risih sampai menegur sahabatnya agar tidak berdiri menyambut beliau datang. Yang beliau inginkan adalah bagaimana ummatnya mau mencintainya dan meneladaninya dalam ber-Islam.
5. Mengagungkan Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassallam atau sunnah-sunnah beliau dan senantiasa tegak, berpegang teguh serta istiqamah dalam melakukan sunnah adalah wujud kecintaan kepada Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassallam.
Dan di antara indikasinya adalah:
a. Bershalawat kepada beliau, baik ketika mendengar namanya disebut atau ketika membaca atau menulis nama beliau atau pun tanpa mendengar nama beliau sebagai salah satu bentuk dzikir.
Dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzy, Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassallam bersabda, artinya, "Orang yang bakhil adalah orang yang ketika (nama)ku disebutkan di sisinya, lalu ia tidak bershalawat kepadaku."
Akan tetapi, shalawat bukanlah mantera dan aji-ajian yang berkhasiat mistik sebagaimana yang dipahami orang awam. Dan yang lebih aneh lagi, mereka telah berani membuat-buat shalawat yang mungkin bagi mereka itu merupakan "gebrakan", padahal sadar atau tidak, mereka telah membuat sesuatu yang baru dalam agama.
Para sahabat Radhiyallahu anhu, ketika turun ayat tentang perintah bershalawat segera menemui Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassallam untuk bertanya kepada beliau tata cara bershalawat sebagaimana yang diriwayatkan oleh Malik dari Abu Mas'ud Al Anshari Radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassallam mendatangi kami, sedang kami berada di majelis Sa'ad bin Ubadah. Berkatalah Basyir bin Sa'ad, "Allah memerintahkan kami bershalawat kepadamu, wahai Rasulullah, maka bagaimanakah seharusnya kami bershalawat kepadamu?"
Dari riwayat tersebut menunjukkan sikap para sahabat yang tidak spontanitas membuat cara-cara sendiri dalam bershalawat kepada Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassallam tanpa pengajaran dari beliau.
b.  Mengagungkan sunnah Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassallam yaitu tidak menganggap remeh sunnah-sunnah Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassallam dengan mengatakan, “Ini hanya sekadar sunnah dan bukan sesuatu yang wajib”. Seorang yang mengagungkan sunnah, ketika mengetahui sunnah Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassallam akan memberi pengaruh pada jiwanya, yaitu adanya perasaan takut dan berharap kepada Allah Subhaanahu Wata'ala agar diberikan kekuatan untuk dapat mengerjakan sunnah tersebut. Dan inilah yang terjadi pada para sahabat, mereka tidak melihat apakah hukumnya wajib atau tidak, akan tetapi jika telah jelas datang dari Allah dan Rasul-Nya maka tidak ada jalan lain bagi mereka kecuali mengamalkannya.
Allah Subhaanahu Wata'ala berfirman, artinya:
“Maka hendaklah orang-orang yang menyelisihi perintah Rasulullah takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (QS. An-Nur: 63).
Ayat ini begitu besar pengaruhnya di hati para sahabat, sehingga mereka sangat takut meninggalkan satu sunnah pun yang mereka ketahui datang dari Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassallam karena mereka takut akan tersesat dan ditimpa azab yang pedih.
6. Kecintaan kita kepada Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassallam hendaknya pula kita wujudkan dengan jalan menghidupkan sunnah beliau, menyebarkannya dan berdakwah kepada sunnah.
Menghidupkan sunnah Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassallam pahalanya sangat besar, terutama ketika sunnah tersebut sudah ditinggalkan oleh masyarakat. Orang yang menghidupkan sunnah ibarat pelopor kebaikan, dan kapan diikuti, maka ia akan mendapat andil pahala dari orang-orang yang mengikutinya, sebagaimana disebutkan dalam hadits Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassallam:
 مَنْ سَنَّ فِيْ الْإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا َوَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِيْ الْإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارْهِمْ شَيْءٌ 

“Barangsiapa yang membuat sunnah (contoh) di dalam Islam yang baik, maka baginya pahala dan pahala orang yang mengamalkannya sesudahnya tanpa mengurangi pahala orang yang mengikutinya. Dan barangsiapa yang melakukan sunnah (contoh) dalam Islam yang buruk, maka baginya dosa dan dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa orang tersebut.” (HR. Muslim).
Dalam hadits lain, Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassallam bersabda kepada para sahabat, yang artinya:
“Sesungguhnya ada zaman di belakang kalian, yang dinamakan hari-hari yang membutuhkan kesabaran, orang-orang yang berpegang teguh terhadap sunnah pada saat itu akan mendapat pahala 50.” Sahabat bertanya, “Perbandingannya itu dengan kami (para sahabat) atau dengan mereka (masyarakat saat itu)?” Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassallam berkata, “(Pahala 50 kali) dibandingkan dari kalian (para sahabatku).” (HSR. Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah).
7. Adanya kemarahan yang sangat terhadap orang yang menyelisihi sunnah atau berpaling darinya atau menuduh Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassallam dengan tuduhan yang tidak benar.
Sebagaimana kemarahan kita kepada orang-orang yang dengan sangat lancang nya mengilustrasikan beliau Shalallahu 'alaihi wassallam dalam bentuk karikatur atau yang semacamnya.
8. Membela dan memperjuangkan sunnah Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassallam serta ad-dien ini dan siap mengorbankan seluruh potensi yang dimiliki untuk perjuangan itu.
Itulah diantara ciri-ciri utama cinta yang hakiki kepada Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassallam. Adapun sekarang ini, kadang kita berbangga-bangga mengatakan bahwa kita mencintai Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassallam, tetapi itu hanya sekadar di lisan saja.
Sebuah pepatah Arab mengatakan,
"Semuanya mengklaim bahwa dia mempunyai hubungan dengan Laila.
Tetapi Laila tidak pernah mengakui anggapan mereka."

Imam Syafi'i—rahimahullah—berkata,
لَوْ كَانَ حُبُّكَ صَادِقاً لَأَطَعْتَهُ
إِنَّ الْمُحِبَّ لِمَنْ يُحِبَّ مُطِيْعُ
"Jika kecintaanmu itu sejati, niscaya engkau akan mentaatinya.
Sesungguhnya seorang pecinta kepada orang yang dicintainya akan selalu taat."

Wallahu Waliyyut Tawfiq

0 Response to "Hakekat Cinta Rasul"

Poskan Komentar