Fatwa Ramadhan 2: Berbuka Dengan Kurma, Haruskah Berjumlah Ganjil?

Posted by Wahdah Kolaka Selasa, 23 Mei 2017 01.33 0 komentar
Pengantar redaksi
Sebagaimana telah kita ketahui berdasarkan hadits-hadits yang shahih, disunnahkan berbuka puasa denga tamr (kurma). Masalahnya adalah, apakah diharuskan berjumlah ganjil? Pertanyaan serupa pernah diajukan kepada Syekh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin rahimahullah. Berikut jawaban beliau yang redaksi kutip dari website resmi beliau. Pertanyaan : Saya pernah mendengar bahwa orang yang berpuasa wajib berbuka dengan kurma dalam jumlah ganjil, yaitu lima atau tujuh. Apakah hal tersebut (dalam jumlah ganjil) wajib ? Jawaban : Hal tersebut tidak wajib, bahkan tidak pula sunnah berbuka dengan kurma dalam jumlah ganjil; tiga, lima, tujuh, atau sembilan kecuali pada hari i’dul fithri. Telah ada hadits yang menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berangkat melaksanakan shalat pada hari i’dul fithri sampai beliau makan beberapa kurma, dan beliau makan kurma dalam jumlah ganjil. Selain keadaan tersebut maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah menyengaja makan kurma dalam jumlah ganjil. Sumber:Fatwa Syekh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin rahimahullah; http://www.ibnothaimeen.com/all/noor/article_2682.shtml.
Baca Selengkapnya - Fatwa Ramadhan 2: Berbuka Dengan Kurma, Haruskah Berjumlah Ganjil?

Fatwa Ramadhan 1: Muraja’ah Hafalan atau Memperbanyak Bacaan?

Posted by Wahdah Kolaka Senin, 22 Mei 2017 02.16 0 komentar
Soal:
Aku telah menghafal seluruh al-Qur’an (30 Juz) sejak lima tahun lebih yang lalu. Tetapi sayangnya aku tidak pernah me-muraja’ah (mengulang) nya, sehingga saya lupa sebagian besarnya. Saat ini yang teringat (masih dihafal) hanya sekitar 10 Juz. Sekarang aku telah bertaubat, dan ingin memuraja’ah hafalan dari awal. Tetapi saya merasakan seolah-olah baru memulai menghafal. Aku juga telah bertekad untuk menyelesaikan muraja’ah dalam tempo dua bulan, dan muraj’ah juz-juz terakhir akan saya lakukan pada bulan Ramadhan dengan estimasi waktu 3 jam dalam sehari. (Pertanyaan saya); Apa yang lebih afdhal untuk saya lakukan pada bulan Ramadhan? Memperbanyak Tilawah al-Qur’an melalui mushaf agar saya bisa khatam lebih dari sekali, ataukah saya memanfaatkan waktu pada bulan Ramadhan ini dengan muraja’ah hafalan al-Qu’an?

Jawaban:
Alhamdulillahi was Shalatu was salamu ‘ala Rasulilahi wa ‘ala alihi washabihi. Amma ba’du; Sikap anda sudah tepat; saat memutuskan memperbaiki kelalaianmu. Karena anda telah menyelisihi washiyat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang menyatakan; تعاهدوا هذا القرآن، فوالذي نفس محمد بيده لهو أشد تفلتا من الإبل في عقلها “Jagalah Al Qur’an ini (jika telah dihafal), Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, al-Qur’an itu lebih cepat hilang melebihi Onta yang lepas dari ikatannya”. (HR. Muslim). Adapun anda telah bertaubat, maka kami mohonkan kepada Allah semoga Dia meneguhkanmu, menguatkanmu, dan menolongmu. Sedangkan pertanyaanmu secara khusus tentang Ramadhan, maka hendaknya seorang Muslim menyibukan diri dengan al-Qur’an. Baik dengan membaca (tilawah), menghafal (hifdz), maupun mengkaji (mudarasah). Dalam hadits Shahih disebutkan bahwa Malaikat Jibril datang menemui Nabi untuk memperdengarkan bacaan al-Qur’an setiap tahun pada bulan Ramadhan. Selama anda melakukan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan al-Qur’an, maka itu baik. Tapi yang ingin kami nasihatkan adalah hendaknya anda menerapkan konsep keseimbangan (muwazanah) dalam kesemua kegiatan tersebut. Karena itu hendanya anda menyediakan waktu untuk mengkhatamkan bacaan dan waktu untuk muraja’ah. Jika tidak memungkinkan melakukan keduanya, maka menurut kami yang paling afdhal adalah anda memuraja’ah hafalan. Karena hal itu dapat menolongmu berlepas diri dari dosa melalaikan dan melupakan al-Qur’an. Sebab ini manfaatnya lebih dawam. Selain itu fadhilah menghafal al-Qur’an sangat jelas dan tidak samar lagi. (sym) Sumber: Markaz Fatwa Islamweb.net (http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=111111).

Penerjemah: Syamsuddin al-Munawiy
Baca Selengkapnya - Fatwa Ramadhan 1: Muraja’ah Hafalan atau Memperbanyak Bacaan?

Daurah Seputar Ramadhan

Posted by Wahdah Kolaka 02.08 0 komentar
Dalam rangka menyambut bulan Ramadhan Departemen Dakwah Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Wahdah Islamiyah Kolaka menggelar Daurah Seputar Ramdhan pada hari Sabtu-Ahad 23-24 Sya’ban 1438 H (20-21 Mei 2017 M). Kegiatan ini mengangkat tema 1001 Keajaiban di Bulan Ramadhan dan dilaksanakan di Masjid Riyadhushsholihin (Markas Wahdah Islamiyah Kolaka).
Daurah Seputar Ramadhan menghadirkan dua orang pemateri. Pemateri pertama adalah Ustad Muhammad Nirwan Idris, Lc, M.H.I yang juga selaku Ketua Dewan Syariah Wahdah Islamiyah, yang membawakan 3 materi yaitu Keajaiban Sedekah, Keajaiban Qiyamullail, dan Keajaiban Puasa dan Fiqihnya. Sedangkan pemateri kedua dibawakan oleh Ustadz Amiruddin Abdullah Rasul, Lc. MA dan membawakan 2 materi yaitu Al quran dan Keajaiban 10 Hari Terakhir Ramadhan dan Lalitul Qadr. Kegiatan ini dihadiri oleh kurang ratusan peserta (muslim/muslimah). (Infokom Kolaka).





Baca Selengkapnya - Daurah Seputar Ramadhan

Sejuta Cinta Untuk Indonesia

Posted by Wahdah Kolaka Sabtu, 26 Maret 2016 06.20 0 komentar
Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Wahdah Islamiyah (WI) Kolaka Sulawesi Tenggara menggelar Tabligh Akbar pada hari Sabtu 3 Jumadil Akhir 1437 H (27/3),. Kegiatan Tabligh Akbar kali ini bertema Sejuta Cinta Untuk Indonesia yang dilaksanakan di Masjid Raudhatul Jannah Kel. Watuliandu dengan pembicara Ketua Umum Wahdah Islamiyah (WI), Ustad DR. (H.C) Muh. Zaitun Rasmin, Lc, MA. Kegiatan ini dihadiri dan dibuka oleh Bupati Kolaka yang diwakili oleh Asisten I (Bapak Drs. H. Ismail Bella, M.Si).
Dalam penyampaian materinya, Ustadz yang merupakan Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini menjelaskan tentang pentingnya menjaga keutuhan negeri ini sebagai wujud cinta terhadap Indonesia. “Dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 disebutkan bahwa kemerdekaan Indonesia adalah berkat rahmat dan karunia dari Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi seluruh penghuninya, sehingga negara ini harus kita jaga dengan baik,” kata Ustad Zaitun saat memberikan ceramahnya dalam acara Tabligh Akbar “Sejuta Cinta untuk Indonesia”.
Menurut ketua umum Ikatan Dai dan Ulama se Asia Tenggara ini, kecintaan terhadap tanah air sejalan dengan ajaran Islam. Sama sekali tidak ada pertentangan di dalamnya selama kecintaan tersebut tidak menghalangi cinta hamba kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. “Jangankan membela negara, membela rumah tangga dari gangguan perampok kita diwajibkan demi mempertahankan harta benda dan melindungi keluarga yang kita cintai. Silahkan baca fatwa-fatwa ulama tentang wajibnya membela negara,” terangnya.
Tablig Akbar ini merupakan rangkaian dari kegiatan road to Muktamar III WI yang dihadiri oleh sekitar 650 orang (Muslim/Muslimah). Turut menjadi pelaksana kegiatan Yayasan Raudhatul Jannah yang pimpin oleh Bupati Kolaka Bapak H. Ahmad Syafei, SH. MH. Selain itu diadakan pula penggalangan dana muktamar III WI yang akan dihelat di Jakarta pada bulan Syawal/Juli mendatang. (Infokom Kolaka).
Baca Selengkapnya - Sejuta Cinta Untuk Indonesia

Tayamum; Syarat, Sebab, Tata Cara dan Pembatalnya

Posted by Wahdah Islamiyah Kolaka Selasa, 24 Februari 2015 16.50 0 komentar
Tidak selamanya seorang muslim mendapatkan air untuk bersuci, baik itu untuk mandi ataupun untuk berwudhu. Oleh karenanya, syariat Islam memberikan sebuah keringanan [rukhshah] berupa tayamum dalam bersuci pada kondisi-kondisi tertentu. Tayamum menunjukkan salah satu ciri keunggulan agama Islam yang selalu memberikan solusi atas setiap kesulitan yang dihadapi oleh pemeluknya.

Tayamum menurut para ulama adalah bersuci dengan mengusap wajah dan kedua telapak tangan dengan tanah [debu]yang bersih dengan tata cara tertentu dan disertai niat beribadah kepada Allah Ta’ala. Para ulama telah berijmak [sepakat]bahwa tayamum disyariatkan jika syarat-syaratnya terpenuhi sebagai pengganti wudhu dan mandi besar. Dalil disyariatkannya tayamum dapat dilihat di dalam al-Quran, yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai siku, usaplah kepalamu, dan [basuh]kakimu sampai kedua mata kaki. Jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit, dalam perjalanan, kembali dari tempat membuang hajat, atau menyentuh [hubungan badan]dengan perempuan, lalu kamu tidak mendapatkan air, maka bertayamumlah dengan tanah [debu]yang bersih. Usaplah mukamu dan tanganmu dengannya. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkanmu dan menyempurnakan nikmatNya bagimu, supaya kamu bersyukur.” [QS. Al-Maidah: 6].

Sabda Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam:

إِنَّ الصَّعِيدَ الطَّيِّبَ طَهُورُ الْمُسْلِمِ وَإِنْ لَمْ يَجِدْ الْمَاءَ عَشْرَ سِنِينَ فَإِذَا وَجَدَ الْمَاءَ فَلْيُمِسَّهُ بَشَرَتَهُ فَإِنَّ ذَلِكَ خَيْرٌ

“Tanah yang bersih adalah sarana bersuci seorang muslim meskipun ia tak mendapatkan air selama sepuluh tahun, jika ia mendapatkan air maka gunakanlah untuk [bersuci]sampai mengenai kulitmu karena sungguh itulah yang terbaik.” [HR. Tirmidzi, shahih].

Dalam sabda beliau yang lain:

وَجُعِلَتْ لِي الأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا

“Telah dijadikan [tanah]di atas muka bumi ini sebagai tempat sujud [shalat]dan untuk dipakai bersuci.” [HR. Bukhari].

Syarat-syarat dan Sebab-sebab Bolehnya Tayamum

Boleh seseorang bertayamum dalam kondisi tertentu jika terpenuhi syarat-syarat berikut ini:

1. Syarat-syarat taklif secara umum, yaitu : Islam, berakal, dan baligh.
2. Adanya uzur [halangan]untuk menggunakan air:
  • Ketika tidak ada air setelah mencarinya, Allah Ta’ala berfirman yang artinya: “Lalu kamu tidak mendapatkan air, maka bertayamumlah dengan tanah [debu]yang bersih”. [QS. Al-Maidah: 6].
  • Adanya bahaya yang mengancam dirinya ketika menggunakan air, seperti ketika seorang sakit [silakan melihat terjemahan QS. Al-Maidah: 6 di atas]. Dan berdasarkan kisah seorang sahabat yang meninggal dunia akibat menggunakan air [untuk mandi]padahal beliau dalam keadaan terluka berat. Ketika ia bertanya kepada sahabat-sahabat yang lain, mereka memerintahkannya untuk mandi menggunakan air meskipun dalam kondisi seperti itu. Maka tatkala berita ini sampai kepada Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam, beliau bersabda:



قَتَلُوهُ قَتَلَهُمُ اللَّهُ أَلَمْ يَكُنْ شِفَاءُ الْعِىِّ السُّؤَالَ

Mereka [turut andil]membunuh sahabatnya, semoga Allah membalas perbuatan mereka. Sesungguhnya obat dari ketidaktahuan itu adalah bertanya.” [HR. Abu Daud dan Ibnu Majah, shahih].

3. Dalam kondisi cuaca yang sangat dingin yang dapat membahayakan tubuh atau bahkan sampai menyebakankematian, serta tidak ada yang dapat menghangatkan air tersebut.

Sahabat Amr bin Ash bercerita ketika beliau ikut dalam perang Dzatus Salasil, “Aku bermimpi basah pada satu malam yang sangat dingin pada saat perang Dzatus Salasil, aku khawatir jika aku mandi maka aku akan mati. Aku pun bertayamum dan mengimami para sahabat saat shalat Shubuh.” Lalu mereka melaporkan kejadian tersebut kepada Nabi shallallahu ’alaihi wasallam, lalu beliau berkata kepadaku, “Wahai Amr! Engkau mengimami para sahabat sementara engkau dalam keadaan junub?” Lalu aku memberitahukan beliau sebab yang menghalangiku untuk mandi, dan aku pun berkata, “Sungguh aku telah mendengar Allah Ta’ala berfirman [yang artinya], “Dan janganlah kalian membunuh diri kalian sendiri, sesungguhnya Allah Maha Pengasih kepada kalian.” [mendengar hal itu]Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam tertawa dan tidak berkata sesuatu apapun [sesudahnya].” [HR. Abu Daud dan Ahmad, shahih].

4. Tanah [debu yang digunakan]suci dan bersih. Jika ia tidak mendapatkan debu, maka ia boleh bertayamum dengan pasir atau bebatuan yang ada, sesuai dengan firman Allah Ta’ala, “Bertakwalah kepada Allah sesuai kesanggupanmu.” [QS. At-Thaghabun: 16].

Tata Cara Tayamum

Tayamum yang disunahkan adalah tayamum yang sesuai dengan petunjuk Nabi shallallahu ’alaihi wasallam. Tata caranya adalah sebagai berikut:
  1. Berniat
  2. Menepukkan kedua telapak tangan ke atas debu yang ada dengan satu kali tepukan.
  3. Meniup debu yang berada di atas kedua telapak tangan atau menepukkannya.
  4. Mengusap wajah dan kedua telapak tangan hingga pergelangan.

Tata cara ini disebutkan di dalam hadits:

التَّيَمُّمُ ضَرْبَةٌ لِلْوَجْهِ وَلِلْكَفَّيْنِ

“Tayamum itu satu kali tepukan [ke tanah]untuk wajah dan kedua telapak tangan.” [HR. Ahmad dan Abu Daud, shahih].

Dalam hadits Ammar radhiyallahu ’anhu Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam mengajarinya tata cara tayamum:

إِنَّمَا يَكْفِيكَ أَنْ تَصْنَعَ هَكَذَا فَضَرَبَ بِكَفِّهِ ضَرْبَةً عَلَى الْأَرْضِ ثُمَّ نَفَضَهَا ثُمَّ مَسَحَ بِهِمَا ظَهْرَ كَفِّهِ بِشِمَالِهِ أَوْ ظَهْرَ شِمَالِهِ بِكَفِّهِ ثُمَّ مَسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ

“Sungguh cukup bagimu melakukan hal ini. Lalu beliau menepukkan telapak tangan beliau di atas tanah lalu menepukkannya dan mengusap punggung telapak tangan [kanannya]dengan tangan kiri atau punggung tangan kiri beliau dengan telapak [kanannya]dan mengusap wajah beliau dengan kedua [telapak tangannya].” [HR. Bukhari dan Muslim].

Pembatal Tayamum

Tayamum seseorang dikatakan batal jika terdapat salah satu perkara berikut ini:
  1. Semua hal yang membatalkan wudhu adalah pembatal tayamum. Karenanya, jika seseorang bertayamum sehabis hadats kecil, kemudian ia membuang hajat maka tayamumnya menjadi batal.
  2. Mendapatkan air setelah bertayamum bagi yang uzurnya tidak ada air.
  3. Hilangnya uzur yang menghalangi seseorang menggunakan air.

Demikian penjelasan tentang tayamum. Tidak adanya air atau sakit bukanlah penghalang ibadah kita kepada Allah.

(Sumber: markazinayah.com)
Baca Selengkapnya - Tayamum; Syarat, Sebab, Tata Cara dan Pembatalnya

Penggabungan Waktu Shalat Tanpa Dasar Syariat Adalah Sesat

Posted by Wahdah Islamiyah Kolaka Minggu, 22 Februari 2015 15.43 0 komentar
Sebagaimana diberitakan sebelumya bahwa sebuah pesantren di Jombang mengedarkan stiker ajakan untuk shalat 3 waktu. Yakni penggabungan shalat fardhu menjadi 3 waktu yang dalam istilah syariat dikenal dengan jama’. (Baca juga: Kemenag Jombang Minta Ponpes Urwatul Wutsqo Tarik Stiker Shalat Tiga Waktu)

Ketua Umum Wahdah Islamiyah ustadz DR. Muhammad Zaitun Rasmin, MA mengatakan bahwa penggabungan waktu shalat bisa dilakukan dengan dasar yang dibenarkan oleh syariat seperti bersafar (perjalanan jauh) atau alasan-alasan yang sudah ditentukan oleh syariat dan telah mendapat penjelasan dari ulama salaf as-Sholeh.

Namun jika tanpa udzur tersebut maka menurut ketua Ikatan Ulama dan Dai Asean ini penggabungan waktu shalat apalagi mengurangi waktu-waktu shalat adalah bathil dan sesat.[zl/albalaghmedia.com]
Baca Selengkapnya - Penggabungan Waktu Shalat Tanpa Dasar Syariat Adalah Sesat

InsyaAllah, Wahdah Islamiyah Akan Mendirikan 'Kampung Arab' di Sulsel

Posted by Wahdah Islamiyah Kolaka Minggu, 15 Februari 2015 17.33 0 komentar
Ormas Islam Wahdah Islamiyah berencana membangun pesantren terpadu di Sulsel. Sesuai perencanaan, pesantren tersebut membutuhkan lahan sekira 40 hektare dengan perkiraan daya tampung santri sebanyak 30 ribu orang, sebagaimana diberitakan portal fajar.co.id.

DR. Muhammad Zaitun Rasmin, Ketua Umum Wahdah Islamiyah Pusat ketika menemui Gubernur Sulsel, Jumat 13 Februari berharap, Pemprov bisa menyediakan lahan. Anggaran pembangunan sekolahnya sendiri telah siap dan sisa persoalan kebutuhan lahan.

“Tadinya kami berharap di Gowa. Tapi Pak Gubernur bilang, asal akses jalannya besar bisa di daerah lain. Kami tunggu konfirmasi dari beliau untuk persoalan lahan ini,” kata ustadz Zaitun.

Jika di Kediri ada tempat yang menjadi pusat pembelajaran Bahasa Inggris, maka pesantren di Sulsel ini nantinya dipersiapkan menjadi pusat pembelajaran Bahasa Arab. Tak hanya santrinya yang diberi pelajaran, bahkan masyarakat sekitar akan dibikin mahir menggunakan bahasa al-Qur'an tersebut.

“Kita mau Sulsel ini menjadi pusat pembelajaran Bahasa Arab. Kami memang sengaja memilih Sulsel, karena kami lihat potensinya sangat baik,” lanjutnya.

Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo mengaku menyambut baik keinginan tersebut. Beliau berjanji akan mendukung apapun program Wahdah Islamiyah. Ia pun menyarankan agar pesantren dibuat lebih modern. Begitupun dengan lokasinya, harus mudah diakses.Ia pun berjanji akan melakukan pembicaraan dengan Sekprov terkait lahan yang dibutuhkan. [fajar.co.id/albalaghmedia]
Baca Selengkapnya - InsyaAllah, Wahdah Islamiyah Akan Mendirikan 'Kampung Arab' di Sulsel

Ketua Umum Wahdah Islamiyah Peroleh Gelar Doktor Honoris Causa

Posted by Wahdah Islamiyah Kolaka Selasa, 10 Februari 2015 17.16 0 komentar
Ketua Umum Wahdah Islamiyah (WI), Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin memperoleh gelar Doktor Honoris Causa. Gelar DR (Hc) tersebut dianugerahkan oleh International Electronic University Mesir.

Gelar Doktor diperoleh ketua Ikatan Ulama dan Da'i Asean ini atas peran beliau yang menonjol dalam bidang Studi Islam, Politik Islam, dan Pendidikan.

Ketua Dewan Syari’ah WI, ustadz DR. Rahmat Abdurrahman, Lc, MA menulis melalui pesan singkat, “Selamat anugerah Doktor kehormatan kepada Ustad. DR. H. Muhammad Zaitun Rasmin, Lc, MA, pimpinan Umum kita . Semoga membawa berkah buat umat dan lembaga”.

Wakil ketua WI, ustadz Muhammad Ikhwan Abdul Jalil, Lc. M.HI. juga mengirim pesan senada, “Atas nama Dewan Pimpinan Pusat Wahdah Islamiyah, mengucapkan selamat dan rasa syukur yang banyak pada Allah atas penganugerahan Doktor kepada Pimpinan Umum WI, al ustadz DR. Muhammad Zaitun Rasmin, Lc, MA, semoga berberkah, makin bermanfaat bagi umat.”[alBalaghMedia.com]
Baca Selengkapnya - Ketua Umum Wahdah Islamiyah Peroleh Gelar Doktor Honoris Causa